<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301</id><updated>2012-01-10T21:01:08.683+07:00</updated><category term='Kalimantan Selatan'/><category term='Sumatera Selatan'/><category term='Sumatera Barat'/><category term='Sulawesi Selatan'/><category term='Jawa Barat'/><category term='Sulawesi Utara'/><category term='Kalimantan Tengah'/><category term='Sulawesi Tengah'/><category term='Nanggroe Aceh Darussalam'/><category term='Bali'/><category term='Kalimantan Timur'/><category term='Sumatera Utara'/><category term='Nusa Tenggara Timur'/><category term='Jawa Timur'/><category term='Maluku'/><category term='Nusa Tenggara Barat'/><category term='DI Yogyakarta'/><category term='Lampung'/><category term='Sulawesi Tenggara'/><category term='DKI Jakarta'/><category term='Papua'/><category term='Riau'/><category term='Bengkulu'/><category term='Kalimantan Barat'/><title type='text'>Cerita Asli Rakyat Indonesia</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>36</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-2795251848639090810</id><published>2011-04-26T22:50:00.001+07:00</published><updated>2011-04-26T23:04:51.953+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bali'/><title type='text'>Asal Usul Nama Buleleng dan Singaraja</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-9ETzl-X9xIg/TbbpKLiYM1I/AAAAAAAAADM/WyDxPAIEpHM/s1600/p4973f4711e84c_Asal_Usul_Nama_Buleleng_dan_Singaraja_Ilustrasi.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-9ETzl-X9xIg/TbbpKLiYM1I/AAAAAAAAADM/WyDxPAIEpHM/s320/p4973f4711e84c_Asal_Usul_Nama_Buleleng_dan_Singaraja_Ilustrasi.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ALINEA1" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Di Bali, hidup seorang raja yang bergelar Sri Bagening. Sang Ra­ja memiliki banyak istri, dan istri ter­­­akhirnya bernama Ni Luh Pasek. Ni Luh Pasek berasal dari Desa Panji, dan ma­­sih ke­­turunan Kyai Pasek Gobleng. Su­a­tu waktu, Ni Luh Pasek mengandung. Oleh suami­nya, ia dititipkan kepada Kyai Je­lan­tik Bogol. Tak berapa lama, anaknya pun lahir. Anak itu diberi nama I Gede Pa­sekan. I Gede Pasekan mempunyai wi­­ba­wa besar sehingga sangat dicintai dan dihormati oleh pemuka masyarakat mau­pun masyarakat biasa.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Suatu hari, ketika usianya menginjak dua puluh tahun, ayahnya berkata pada­nya, “Anakku, sekarang pergilah engkau ke Den Bukit di daerah Panji.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“Mengapa ayah?”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“Karena di sanalah tempat kelahiran ibumu.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Sebelum berangkat, ayah angkatnya mem­berikan dua buah senjata bertuah, yaitu sebilah keris bernama Ki Baru Se­mang dan sebatang tombak bernama Ki &lt;span style="letter-spacing: 0.45pt;"&gt;Tunjung Tutur. Dalam perjalanannya,&lt;/span&gt; I Gede Pasekan diiringi oleh empat puluh pe­nga­wal yang dipimpin Ki Dumpiung dan Ki Dosot. Ketika sampai di daerah yang di­­­­­­­sebut Batu Menyan, mereka bermalam dengan dijaga ketat oleh para pengawal secara bergantian.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;a name='more'&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="ISI" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Saat tengah malam, tiba-tiba datang makhluk ajaib penghuni hutan. Dia meng­ang­kat I Gede Pasekan ke atas pun­daknya se­hingga I Gede Pasekan dapat me­lihat pe­­man­dangan lepas ke lautan dan da­ratan yang ter­­bentang di hadapannya. Ke­tika dia me­­man­dang ke arah timur dan barat laut, ia me­li­hat pulau yang amat jauh. Ketika me­­li­hat ke arah selatan pemandangannya di­­halangi oleh gunung. Setelah makhluk itu pergi kemudian terdengar bisikan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“I Gusti, sesungguhnya apa yang te­lah engkau lihat akan menjadi daerah ke­kuasaanmu.” &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Keesokan harinya rombongan itu me­­lan­jutkan perjalanan. Meski sulit dan pe­nuh rintangan akhirnya rombongan I Gede Pasekan berhasil mencapai tujuan, yaitu Desa Panji, tempat kelahiran ibunya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Suatu hari, ada sebuah perahu Bugis yang terdampar di pantai Panimbangan.Warga setempat yang dimintai tolong tak mampu mengangkatnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Keesokan harinya orang Bugis pemilik perahu itu meminta tolong pada I Gede Pasekan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“Tolonglah kami, Tuan. Jika Tuan ber­hasil mengangkat perahu kami, se­bagian muatan itu akan kami serahkan kepada Tuan sebagai upahnya.”&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;“Kalau itu keinginan kalian, saya akan berusaha mengangkat perahu itu,” jawab I Gede Pasekan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;I Gede Pasekan segera memusatkan pikiran. Dengan kekuatan gaibnya, perahu yang kandas itu berhasil diangkatnya. Se­ba­gai ungkapan rasa terima kasih, orang Bugis itu memberikan hadiah berupa se­tengah dari isi perahu itu kepada I Gede Pasekan. Di antara hadiah itu terdapat dua buah gong besar. Sejak saat itu I Gede Pasekan menjadi orang kaya dan bergelar I Gusti Panji Sakti.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="ISI" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify; text-indent: 0cm;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Kekuasaan I Gede Pasekan mulai me­­­­luas dan menyebar sampai ke mana-mana. Dia pun mendirikan kerajan baru di Den Bukit. Kira-kira abad ke-17, ibukota ke­rajaan itu disebut orang dengan nama Su­ka­sada. Kerajaaan I Gede Pasekan itu ber­­kem­bang hingga ke utara. Daerah itu ba­­nyak ditumbuhi pohon buleleng. Oleh karena itu, pusat kerajaan beralih ke wi­la­­­yah itu. Wilayah itu pun diberi nama Buleleng.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Di Buleleng dibangun sebuah istana megah yang diberi nama Singaraja. Nama ini menunjukkan bahwa penghuninya ada­lah seorang raja yang gagah perkasa lak­sana singa. Namun, ada pendapat yang mengatakan bahwa nama Singaraja arti­nya tempat persinggahan raja. Barangkali ketika sang Raja masih di Sukasada, se­ring singgah di sana. Jadi, kata Singaraja berasal dari kata &lt;/span&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;singgah raja&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="NamaPenulis" style="line-height: 150%; margin-top: 6pt; text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-family: Verdana; font-size: 9pt; line-height: 150%;"&gt;Penulis: Yulia S. Setiawati&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-2795251848639090810?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/2795251848639090810/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2011/04/asal-usul-nama-buleleng-dan-singaraja.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/2795251848639090810'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/2795251848639090810'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2011/04/asal-usul-nama-buleleng-dan-singaraja.html' title='Asal Usul Nama Buleleng dan Singaraja'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-9ETzl-X9xIg/TbbpKLiYM1I/AAAAAAAAADM/WyDxPAIEpHM/s72-c/p4973f4711e84c_Asal_Usul_Nama_Buleleng_dan_Singaraja_Ilustrasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-4296904111782036667</id><published>2009-12-28T23:14:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T23:15:38.161+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nanggroe Aceh Darussalam'/><title type='text'>Putra Mahkota Amat Mude</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjZnvX9-6I/AAAAAAAAACs/_u3XvuEoRpM/s1600-h/Putra+Mahkota+Amat+Mude.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 267px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjZnvX9-6I/AAAAAAAAACs/_u3XvuEoRpM/s320/Putra+Mahkota+Amat+Mude.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420321428295515042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Amat Mude adalah seorang putra mahkota dari Kerajaan Alas, Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Sebagai pewaris tahta kerajaan, ia berhak menjadi Raja Negeri Alas. Namun karena ia masih kecil dan belum sanggup mengemban tugas sebagai raja, maka untuk sementara waktu tampuk kekuasaan dipegang oleh pakcik (paman)-nya. Pada suatu hari, sang Pakcik membuang Amat Mude dan ibunya ke sebuah hutan, karena tidak ingin kedudukannya sebagai Raja Negeri Alas digantikan oleh Amat Mude. Bagaimana nasib permaisuri dan Putra Mahkota Kerajaan Alas selanjutnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Putra Mahkota Amat Mude berikut ini!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, di Negeri Alas, Nanggroe Aceh Darussalam, ada sebuah kerajaan yang diperintah oleh seorang raja yang arif dan bijaksana. Seluruh rakyatnya selalu patuh dan setia kepadanya. Negeri Alas pun senantiasa aman dan damai. Namun satu hal yang membuat sang Raja selalu bersedih, karena belum dikaruniai seorang anak. Sang Raja ingin sekali seperti adiknya yang sudah memiliki seorang anak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, sang Raja duduk termenung seorang diri di serambi istana. Tanpa disadarinya, tiba-tiba permaisurinya telah duduk di sampingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang sedang Kanda pikirkan?” tanya permaisuri pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dindaku tercinta! Kita sudah tua, tapi sampai saat ini kita belum mempunyai seorang putra yang kelak akan mewarisi tahta kerajaan ini,” ungkap sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dinda mengerti perasaan Kanda. Dinda juga sangat merindukan seorang buah hati belaian jiwa. Kita telah mendatangkan tabib dari berbagai negeri dan mencoba segala macam obat, namun belum juga membuahkan hasil. Kita harus bersabar dan banyak berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa,” kata permaisuri menenangkan hati suaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah sejuknya hati sang Raja mendengar kata-kata permaisurinya. Ia sangat beruntung mempunyai seorang permaisuri yang penuh pengertian dan perhatian kepadanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Dinda! Kanda sangat bahagia mempunyai permaisuri seperti Dinda yang pandai menenangkan hati Kanda,” ucap sang Raja memuji permaisurinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, sang Raja dan permaisuri semakin giat berdoa dengan harapan keinginan mereka dapat terkabulkan. Pada suatu malam, sang Raja yang didampingi permaisurinya berdoa dengan penuh khusyuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya Tuhan! Karuniakanlah kepada kami seorang putra yang kelak akan meneruskan tahta kerajaan ini. Hamba rela tidak merasakan sebagai seorang ayah, asalkan kami dikaruniai seorang putra,” pinta sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan kemudian, permaisuri pun mengandung. Alangkah senang hati sang Raja mengetahui hal itu. Kabar tentang kehamilan permaisuri pun tersebar ke seluruh penjuru negeri. Rakyat negeri itu sangat gembira, karena raja mereka tidak lama lagi akan memiliki keturunan yang kelak akan mewarisi tahtanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan. Usia kandungan permaisuri sudah genap sembilan bulan. Pada suatu sore, permaisuri pun melahirkan seorang anak laki-laki yang sehat dan tampan. Permaisuri tampak tersenyum bahagia sambil menimang-nimang putranya. Begitupula sang Raja senantiasa bersyukur telah memperoleh keturunan anak laki-laki yang selama ini ia idam-idamkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih Tuhan! Engkau telah mengabulkan doa kami,” sang Raja berucap syukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu kemudian, sang Raja pun mengadakan pesta dan upacara turun mani, yakni upacara pemberian nama. Pesta dan upacara tersebut diadakan selama tujuh hari tujuh malam. Tamu yang diundang bukan hanya rakyat negeri Alas, melainkan juga seluruh binatang dan makhluk halus yang ada di laut maupun di darat. Seluruh tamu undangan tampak gembira dan bersuka ria. Dalam upacara turun mani tersebut ditetapkan nama putra Raja, yakni Amat Mude. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan setelah upacara dilaksanakan, sang Raja pun mulai sakit-sakitan. Seluruh badannya terasa lemah dan letih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dinda! Mungkin ini pertanda waktuku sudah dekat. Dinda tentu masih ingat doa Kanda dulu sebelum kita mempunyai anak,” ungkap sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ungkapan sang Raja, hati permaisuri menjadi sedih. Meskipun menyadari hal itu, permaisuri tetap berharap agar sang Raja dapat sembuh dan dipanjangkan umurnya. Semua tabib diundang ke istana untuk mengobati penyakit sang Raja. Namun, tak seorang pun yang berhasil menyembuhkannya. Bahkan penyakit sang Raja semakin hari bertambah parah. Akhirnya, raja yang arif dan bijaksana itu pun wafat. Seluruh keluarga istana dan rakyat Negeri Alas berkabung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena Amat Mude sebagai pewaris tunggal Kerajaan Negeri Alas masih kecil dan belum sanggup melakukan tugas-tugas kerajaan, maka diangkatlah Pakcik Amat Mude yang bernama Raja Muda menjadi raja sementara Negeri Alas. Sebagai seorang raja, apapun perintahnya pasti dipatuhi. Hal itulah yang membuatnya enggan digantikan kedudukannya sebagai raja oleh Amat Mude. Berbagai tipu muslihat pun ia lakukan. Mulanya, sang Raja memindahkan Amat Mude dan ibunya ke ruang belakang yang semula tinggal di ruang tengah. Alasannya, Amat Mude yang masih kecil sering menangis, sehingga mengganggu setiap acara penting di istana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tipu muslihat Raja Muda semakin hari semakin menjadi-jadi. Pada suatu hari, ia mengumpulkan beberapa orang pengawalnya di ruang sidang istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai, Pengawal! Besok pagi-pagi sekali,  buang permaisuri dan anak ingusan itu ke tengah hutan!” titah Raja Muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksud Baginda?” tanya seorang pengawal heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah! Tidak usah banyak tanya. Aku kira kalian sudah tahu semua maksudku,” jawab Raja Muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Baginda! Hamba benar-benar tidak tahu maksud Baginda hendak membuang permaisuri dan putra mahkota ke tengah hutan,” kata seorang pengawal yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah! Aku tidak ingin suatu hari kelak Amat Mude akan merebut kekuasaan ini dari tanganku,” ungkap Raja Muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Baginda. Bukankah Putra Mahkota Amat Mude pewaris tahta kerajaan ini,” ungkap pengawal yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, kalian tidak usah banyak bicara. Laksanakan saja perintahku! Jika tidak, kalian akan menanggung akibatnya!” bentak Raja Muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ancaman itu, tak seorang pun pengawal yang berani lagi angkat bicara, karena jika berani membantah dan menolak perintah tersebut, mereka akan mendapat hukuman berat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, berangkatlah para pengawal tersebut mengantar permaisuri dan Amat Mude ke tengah hutan. Keduanya pun ditinggalkan di tengah hutan dengan bekal seadanya. Untuk melindungi diri dari panasnya matahari dan dinginnya udara malam, ibu dan anak itu pun membuat sebuah gubuk kecil di bawah sebuah pohon rindang. Untuk bertahan hidup, mereka memanfaatkan hasil-hasil hutan yang banyak tersedia di sekitar mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan. Tak terasa Amat Mude telah berumur 8 tahun. Ia tumbuh menjadi anak yang cerdas dan tampan.  Pada suatu hari, ketika sedang bermain-main, Amat  Mude menemukan cucuk sanggul ibunya. Diambilnya cucuk sanggul itu dan dibuatnya mata pancing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Amat Mude pergi memancing di sebuah sungai yang di dalamnya terdapat banyak ikan. Dalam waktu sekejap, ia telah memperoleh lima ekor ikan yang hampir sama besarnya dan segera membawanya pulang. Alangkah gembiranya hati ibunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waaah, kamu pandai sekali memancing, Putraku!” ucap ibunya memuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Ibu! Sungai itu banyak sekali ikannya,” kata Amat Mude.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima ekor ikan besar tersebut tentu tidak bisa mereka habiskan. Maka timbul pikiran permaisuri untuk menjualnya sebagian ke sebuah desa yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal mereka. Dengan mengajak Amat Mude, permaisuri pun pergi ke desa itu. Ketika akan menawarkan ikan itu kepada penduduk, tiba-tiba ia bertemu dengan saudagar kaya dan pemurah. Ia adalah bekas sahabat suaminya dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Tuan Putri! Kenapa Tuan Putri dan Putra Mahkota berada di tempat ini?” tanya saudagar itu heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permaisuri pun menceritakan semua kejadian yang telah menimpanya sampai ia dan putranya berada di desa itu. Mengetahui keadaan permaisuri dan putranya yang sangat memprihatinkan tersebut, saudagar itu pun mengajak mereka mampir ke rumahnya dan membeli semua ikan jualan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, saudagar itu menyuruh istrinya agar segera memasak ikan tersebut untuk menjamu permaisuri dan Amat Mude. Ketika sedang memotong ikan tersebut, sang Istri menemukan suatu keanehan. Ia kesulitan memotong perut ikan tersebut dengan pisaunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, benda apa di dalam perut ikan ini? Kenapa keras sekali?” tanya istri saudagar itu dalam hati dengan penuh keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkali-kali istri saudagar itu menggesek-gesekkan pisaunya, akhirnya perut ikan itu pun terbelah. Alangkah terkejutnya ia ketika melihat telur ikan berwarna kuning emas, tapi keras. Ia pun segera memanggil suaminya untuk memeriksa benda tersebut. Setelah diamati dengan seksama, ternyata butiran-butiran yang berwarna kuning tersebut adalah emas murni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dik! Usai memasak dan menjamu tamu kehormatan kita, segeralah kamu jual emas itu!” pinta saudagar itu kepada istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa Bang?” tanya sang Istri heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uang hasil penjualan emas itu akan digunakan untuk membangun rumah yang bagus sebagai tempat kediaman permaisuri dan putranya. Abang ingin membalas budi baik sang Raja yang dulu semasa hidupnya telah banyak membantu kita,” ujar saudagar itu kepada istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, Bang!” jawab sang Istri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saudagar itu menyampaikan berita gembira tersebut kepada permaisuri dan putranya bahwa mereka akan dibuatkan sebuah rumah yang bagus. Mendengar kabar itu, permaisuri sangat terharu. Ia benar-benar tidak menyangka jika mantan sahabat suaminya itu sangat baik kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih atas semua perhatiannya kepada kami,” ucap permaisuri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Tuan Putri! Bantuan kami ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan bantuan Baginda Raja semasa hidupnya kepada kami,” kata saudagar itu sambil memberi hormat kepada permaisuri dan  Amat Mude.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang sore hari, permaisuri dan Amat Mude pun mohon diri untuk kembali ke gubuknya. Saudagar itu pun memberikan pakaian yang bagus-bagus dan membekali mereka makanan yang lezat-lezat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lama kemudian, rumah permaisuri pun selesai dibangun. Kini permaisuri dan Amat Mude menempati rumah bagus dan bersih. Untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari mereka, Amat Mude pergi ke sungai setiap hari untuk memancing. Ikan-ikan yang diperolehnya untuk dimakan sehari-hari dan selebihnya dijual ke penduduk sekitar. Di antara ikan-ikan yang diperolehnya ada yang bertelur emas. Telur emas tersebut sedikit demi sedikit mereka simpan, sehingga lama-kelamaan mereka pun menjadi kaya raya dan terkenal sampai ke seluruh penjuru negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita tentang kekayaan permaisuri dan putranya itu pun sampai ke telinga Pakcik Amat Mude. Mendengar kabar itu, ia pun berniat untuk mencelakakan Amat Mude, karena tidak ingin melepaskan kekuasaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Raja Muda yang serakah itu memanggil Amat Mude untuk menghadap ke istana. Ketika Amat Mude sampai di istana, alangkah terkejutnya Raja Muda saat melihat seorang pemuda gagah dan tampan memberi hormat di hadapannya. Dalam hatinya berkata, “pemuda ini benar-benar menjadi ancaman bagi kedudukanku sebagai raja”. Maka ia pun memerintahkan Amat Mude untuk pergi memetik buah kelapa gading di sebuah pulau yang terletak di tengah laut. Buah kelapa gading itu diperlukan untuk mengobati penyakit istri Raja Muda. Konon, lautan yang dilalui menuju ke pulau itu dihuni oleh binatang-binatang buas. Siapa pun yang melewati lautan itu, maka akan celaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, Amat Mude! Jika kamu tidak berhasil mendapatkan buah kelapa gading itu, maka kamu akan dihukum mati,” ancam Raja Muda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena berniat ingin menolong istri Raja Muda, Amat Mude pun segera melaksanakan perintah itu. Setelah berhari-hari berjalan, sampailah Amat Mude di sebuah pantai. Ia pun mulai kebingungan mencari cara untuk mencapai pulau itu. Pada saat ia sedang duduk termenung berpikir, tiba-tiba muncul di hadapannya seekor ikan besar bernama Silenggang Raye yang didampingi oleh Raja Buaya dan seekor Naga Besar. Amat Mude pun menjadi ketakutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, Anak Muda! Kamu siapa dan hendak ke mana?” tanya Ikan Silenggang Raye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sa... saya Amat Mude,” jawab Amat Mude dengan gugup, lalu menceritakan asal-asul dan maksud perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar cerita Amat Mude tersebut, Ikan Silenggang Raye, Raja Buaya dan Naga itu langsung memberi hormat kepadanya. Amat Mude pun terheran-heran melihat sikap ketiga binatang raksasa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa kalian hormat kepadaku?” tanya Amat Mude heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Tuan! Almarhum Ayahandamu adalah raja yang baik. Dulu, kami semua diundang pada pesta pemberian nama Tuan!” jawab Raja Buaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, Tuan! Tuan tidak perlu takut. Kami akan mengantar Tuan ke pulau itu,” sambung Naga besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Sobat!” ucap Amat Mude.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Amat Mude pun diantar oleh ketiga binatang raksasa tersebut menuju ke pulau yang dimaksud. Tidak berapa lama, sampailah mereka di pulau itu. Sebelum Amat Mude naik ke darat, si Naga besar memberikan sebuah cincin ajaib kepada Amat Mude. Dengan memakai cincin ajaib itu, maka semua permintaan akan dikabulkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Amat Mude pun segera mencari pohon kelapa gading. Tidak berapa lama mencari, ia pun menemukannya. Rupanya, pohon kelapa gading itu sangat tinggi dan hanya memiliki sebutir buah kelapa. Setelah menyampaikan niatnya kepada cincin ajaib yang melingkar di jari tangannya, Amat Mude pun dapat memanjat dengan mudah dan cepat sampai ke atas pohon. Ketika ia sedang memetik buah kelapa gading itu, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang sangat lembut menegurnya, “Siapapun yang berhasil memetik buah kelapa gading itu, maka dia akan menjadi suamiku.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapakah Engkau ini?” tanya Amat Mude.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku adalah Putri Niwer Gading,” jawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Amat Mude baru saja turun dari atas pohon sambil menenteng sebutir kelapa gading, tiba-tiba seorang putri cantik jelita berdiri di belakangnya. Alangkah takjubnya ketika ia melihat kecantikan Putri Niwer Gading. Akhirnya, Amat Mude pun mengajak sang Putri pulang ke rumah untuk menikah. Pesta perkawinan mereka pun dirayakan dengan ramai di kediaman Amat Mude. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai pesta, Amat Mude ditemani istri dan ibunya segera menyerahkan buah kelapa gading yang diperolehnya kepada Pakciknya. Maka selamatlah ia dari ancaman hukuman mati. Bahkan, berkat ketabahan dan kebaikan hatinya, Raja Muda tiba-tiba menjadi sadar akan kecurangan dan perbuatan jahatnya. Ia juga menyadari bahwa Amat Mude-lah yang berhak menduduki tahta kerajaan Negeri Alas. Akhirnya, atas permintaan Raja Muda, Amat Mude pun dinobatkan menjadi Raja Negeri Alas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita Putra Mahkota Amat Mude dari daerah Nanggroe Aceh Darussalam. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah keutamaan sifat tabah dan giat berusaha. Sifat ini tercermin pada sikap permaisuri dan Amat Mude yang senantiasa bersikap tabah menghadapi penderitaan dan selalu giat berusaha. Akhirnya mereka menjadi kaya dan hidup bahagia. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wahai ananda cahaya mata,&lt;br /&gt;rajin dan tekun dalam bekerja&lt;br /&gt;penat dan letih usah dikira&lt;br /&gt;supaya kelak hidupmu sejahtera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran lain yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa jika perbuatan jahat seseorang dibalas dengan kebaikan, maka suatu saat orang yang berbuat jahat tersebut akan menyadari perbuatan jahatnya dan akan berbuat baik. Hal ini tergambar pada sikap dan perilaku Raja Muda yang selalu berniat jahat kepada Amat Mude, namun Amat Mude senantiasa membalas niat jahatnya tersebut dengan kebaikan. Akhirnya, Raja Muda pun menyadari perbuatannya dan menobatkan Amat Mude menjadi Raja Negeri Alas. (Samsuni /sas/112/11-08)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sumber:&lt;/strong&gt;•Isi cerita diadaptasi dari L.K. Ara. 1995. Cerita Rakyat dari Aceh. Jakarta: Grasindo. &lt;br /&gt;•Anonim. “Aceh”, http://id.wikipedia.org/wiki/Aceh, diakses tanggal 26 November 2008. &lt;br /&gt;•Tenas Effendy. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-4296904111782036667?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/4296904111782036667/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/putra-mahkota-amat-mude.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/4296904111782036667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/4296904111782036667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/putra-mahkota-amat-mude.html' title='Putra Mahkota Amat Mude'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjZnvX9-6I/AAAAAAAAACs/_u3XvuEoRpM/s72-c/Putra+Mahkota+Amat+Mude.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-860348902084373472</id><published>2009-12-28T23:10:00.001+07:00</published><updated>2009-12-28T23:12:55.355+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nanggroe Aceh Darussalam'/><title type='text'>Tujuh Anak Lelaki</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjY8dL-0JI/AAAAAAAAACk/q_MpktrbTbI/s1600-h/Tujuh+Anak+Lelaki.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 178px; FLOAT: left; HEIGHT: 251px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420320684679024786" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjY8dL-0JI/AAAAAAAAACk/q_MpktrbTbI/s320/Tujuh+Anak+Lelaki.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tujuh anak lelaki dalam cerita ini adalah tujuh orang bersaudara yang dilahirkan oleh sepasang suami-istri di sebuah kampung di daerah Nanggro Aceh Darussalam, Indonesia. Ketujuh anak lelaki tersebut sungguh bernasib malang. Ketika masih kecil, mereka dibuang oleh kedua orangtua mereka ke tengah hutan jauh dari perkampungan. Mengapa ketujuh anak lelaki itu dibuang oleh kedua orangtua mereka? Lalu, bagaimana nasib mereka selanjutnya? Ikuti kisahnya dalam cerita Tujuh Anak Lelaki berikut ini!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, di sebuah kampung di daerah Nanggro Aceh Darussalam, ada sepasang suami-istri yang mempunyai tujuh orang anak laki-laki yang masih kecil. Anak yang paling tua berumur sepuluh tahun, sedangkan yang paling bungsu berumur dua tahun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka, sepasang suami-istri itu menanam sayur-sayuran untuk dimakan sehari-hari dan sisanya dijual ke pasar. Meskipun serba pas-pasan, kehidupan mereka senantiasa rukun, damai, dan tenteram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu waktu, kampung mereka dilanda musim kemarau yang berkepanjangan. Semua tumbuhan mati karena kekeringan. Penduduk kampung pun mulai kekurangan makanan. Persediaan makanan mereka semakin hari semakin menipis, sementara musim kemarau tak kunjung usai. Akhirnya, seluruh penduduk kampung menderita kelaparan, termasuk keluarga sepasang suami-istri bersama tujuh orang anaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat keadaan tersebut, sepasang suami-istri tersebut menjadi panik. Tanaman sayuran yang selama ini menjadi sumber penghidupan mereka tidak lagi tumbuh. Sementara mereka tidak mempunyai pekerjaan lain kecuali menanam sayur-sayuran di kebun. Mereka sudah berpikir keras mencari jalan keluar dari kesulitan tersebut, namun tidak menemukan jawabannya. Akhirnya, mereka bersepakat hendak membuang ketujuh anak mereka ke sebuah hutan yang letaknya jauh dari perkampungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam, saat ketujuh anaknya sedang tertidur pulas, keduanya bermusyawarah untuk mencari cara membuang ketujuh anak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang! Bagaimana caranya agar tidak ketahuan anak-anak?” tanya sang Istri bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Besok pagi anak-anak kita ajak pergi mencari kayu bakar ke sebuah hutan yang letaknya cukup jauh. Pada saat mereka beristirahat makan siang, kita berpura-pura mencari air minum di sungai,” jelas sang Suami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, Bang!” sahut sang Istri sepakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mereka sadari, rupanya anak ketiga mereka yang pada waktu itu belum tidur mendengar semua pembicaraan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, sepasang suami-istri itu mengajak ketujuh putranya ke hutan untuk mencari kayu bakar. Sesampainya di hutan yang terdekat, sang Ayah berkata kepada mereka:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Anak-anakku semua! Sebaiknya kita cari hutan yang luas dan banyak pohonnya, supaya kita bisa mendapatkan kayu bakar yang lebih banyak lagi,” ujar sang Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, Ayah!” jawab ketujuh anak lelaki itu serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjalan jauh, sampailah mereka di sebuah hutan yang amat luas. Alangkah gembiranya mereka, karena di hutan itu terdapat banyak kayu bakar. Mereka pun segera mengumpulkan kayu bakar yang banyak berserakan. Ketika hari menjelang siang, sang Ibu pun mengajak ketujuh anaknya untuk beristirahat melepas lelah setelah hampir setengah hari bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah, sepasang suami istri itu hendak mulai menjalankan recananya ingin meninggalkan ketujuh anak mereka di tengah hutan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai anak-anakku! Kalian semua beristirahatlah di sini dulu. Aku dan ibu kalian ingin mencari sungai di sekitar hutan ini, karena persediaan air minum kita sudah habis,” ujar sang Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baik, Ayah!” jawab ketujuh anak itu serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan lama-lama ya, Ayah... Ibu...!’” sahut si Bungsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Anakku!” jawab sang Ibu lalu pergi mengikuti suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, setelah menunggu beberapa lama dan kedua orangtua mereka belum juga kembali, ketujuh anak itu mulai gelisah. Mereka cemas kalau-kalau kedua orangtua mereka mendapat musibah. Akhirnya, si sulung pun mengajak keenam adiknya untuk pergi menyusul kedua orangtua mereka. Namun, sebelum meninggalkan tempat itu, anak ketiga tiba-tiba angkat bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abang! Tidak ada gunanya kita menyusul ayah dan ibu. Mereka sudah pergi meninggalkan kita semua,” kata anak ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksudmu, Dik?” tanya si Sulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi malam, saat kalian sudah tertidur nyenyak, aku mendengar pembicaraan ayah dan ibu. Mereka sengaja meninggalkan kita di tengah hutan ini, karena mereka sudah tidak sanggup lagi menghidupi kita semua akibat kemarau panjang,” jelas anak ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa hal ini baru kamu ceritakan kepada kami?” tanya anak kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku takut ayah dan ibu murka kepadaku, Bang,” jawab anak ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ketujuh anak itu tidak jadi pergi menyusul kedua orangtuanya, apalagi hari sudah mulai gelap. Mereka pun segera mencari tempat perlindungan dari udara malam. Untungnya, tidak jauh dari tempat mereka berada, ada sebuah pohon besar yang batangnya berlubang seperti gua. Mereka pun beristirahat dan tidur di dalam lubang kayu itu hingga pagi hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang! Apa yang harus kita lakukan sekarang? Ke mana kita harus pergi?” tanya si anak kedua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian tunggu di sini! Aku akan memanjat sebuah pohon yang tinggi. Barangkali dari atas pohon itu aku dapat melihat kepulan asap. Jika ada, itu pertanda bahwa di sana ada perkampungan,” kata si Sulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar, ketika berada di atas pohon, si Sulung melihat ada kepulan asap dari kejauhan. Ia pun segera turun dari pohon dan mengajak keenam adiknya menuju ke arah kepulan asap tersebut. Setelah berjalan jauh, akhirnya sampailah mereka di sebuah perkampungan. Alangkah terkejutnya mereka ketika melihat sebuah rumah yang sangat besar berdiri tegak di pinggir kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei lihatlah! Besar sekali rumah itu,” seru anak keempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waaahhh... jangan-jangan itu rumah raksasa,” sahut anak keenam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja kata-kata itu terlepas dari mulutnya, tiba-tiba terdengar suara keras dari dalam rumah itu meminta mereka masuk ke dalam rumah. Beberapa saat kemudian, penghuni rumah itu pun keluar. Rupanya, dia adalah raksasa betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, anak manusia! Kalian siapa?” tanya Raksasa Betina itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami tersesat, Tuan Raksasa! Orang tua kami meninggalkan kami di tengah hutan,” jawab si Sulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar keterangan itu, tiba-tiba si Raksasa Betina merasa iba kepada mereka. Ia pun segera mengajak mereka masuk ke dalam rumahnya, lalu menghidangkan makanan dan minuman kepada mereka. Oleh karena sudah kelaparan, ketujuh anak itu menyantap makanan tersebut dengan lahapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Habiskan cepat makanan itu, lalu naik ke atas loteng! Kalau tidak, kalian akan dimakan oleh suamiku. Tidak lama lagi ia datang dari berburu,” ujar Raksasa Betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena takut dimakan oleh Raksasa Jantan, mereka pun segera menghabiskan makanannya lalu bergegas naik ke atas loteng untuk bersembunyi. Tidak lama kemudian, Raksasa Jantan pun pulang dari berburu. Ketika membuka pintu rumahnya, tiba-tiba ia mencium bau makanan enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Waaahhh... sedapnya!” ucap raksasa jantan sambil menghirup bau sedap itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu! Sepertinya ada makanan enak di rumah ini. Aku mencium bau manusia. Di mana kamu simpan mereka?” tanya Raksasa Jantan kepada istrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku menyimpan mereka di atas loteng. Tapi mereka masih kecil-kecil. Biarlah kita tunggu mereka sampai agak besar supaya enak dimakan,” jawab Raksasa Betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Raksasa Jantan pun menuruti perkataan istrinya. Selamatlah ketujuh anak itu dari ancaman Raksasa Jantan. Keesokan harinya, ketika si Raksasa Jantan kembali berburu binatang ke hutan, si Raksasa Betina pun segera menyuruh ketujuh anak lelaki itu pergi. Namun, sebelum mereka pergi, ia membekali mereka makanan seperlunya selama dalam perjalanan. Bahkan, si Raksasa Betina yang baik itu membekali mereka dengan emas dan intan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bawalah emas dan intan ini, semoga bermanfaat untuk masa depan kalian,” kata Raksasa Betina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Raksasa Jantan! Tuan memang raksasa yang baik hati,” ucap si Sulung seraya berpamitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berjalan jauh menyusuri hutan lebat, menaiki dan menuruni gunung, akhirnya tibalah mereka di tepi pantai. Mereka pun segera membuat perahu kecil lalu berlayar mengarungi lautan luas. Setelah beberapa lama berlayar, tibalah mereka di sebuah negeri yang diperintah oleh seorang raja yang adil dan bijaksana. Di negeri itu mereka menjual semua emas dan intan pemberian raksasa kepada seorang saudagar kaya. Hasil penjualan tersebut, mereka gunakan untuk membeli tanah perkebunan. Masing-masing mendapat tanah perkebunan yang cukup luas. Ketujuh bersaudara itu sangat rajin bekerja dan senantiasa saling membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian, mereka pun telah dewasa. Berkat kerja keras selama bertahun-tahun, akhirnya mereka memiliki harta kekayaan yang banyak. Kemudian masing-masing dari mereka membuat rumah yang cukup bagus. Ketujuh lelaki itu pun hidup damai, tenteram dan sejahtera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, si Bungsu tiba-tiba teringat dan merindukan kedua orangtuanya. Ia pun segera mengundang keenam kakaknya datang ke rumahnya untuk bersama-sama pergi mencari kedua orangtua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan aku, Kakakku semua! Aku mengundang kalian ke sini, karena ingin mengajak kalian untuk pergi mencari ayah dan ibu. Aku sangat merindukan mereka, dan aku yakin, mereka pasti masih hidup,” ungkap si Bungsu kepada saudara-saudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Adikku! Kami juga merasakannya seperti itu. Kami sangat rindu kepada ayah dan ibu yang telah melahirkan kita semua,” tambah anak keenam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu! Besok pagi kita bersama-sama pergi mencari mereka. Apakah kalian setuju?” tanya si Sulung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Setuju!” jawab keenam adiknya serentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, berangkatlah ketujuh orang bersaudara itu mencari kedua orangtua mereka. Setelah berlayar mengarungi lautan luas, tibalah mereka di sebuah pulau. Di pulau itu, mereka berjalan dari satu kampung ke kampung lain. Sudah puluhan kampung mereka datangi, namun belum juga menemukannya. Hingga pada suatu hari, mereka pun menemukan kedua orangtua mereka di sebuah kampung dalam keadaan menderita. Ketujuh orang bersaudara itu sangat sedih melihat kondisi kedua orangtua mereka. Akhirnya, mereka membawa orangtua mereka ke tempat tinggal mereka untuk hidup dan tinggal bersama di rumah yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, kedua orangtua itu berkumpul kembali dan hidup bersama dengan ketujuh orang anaknya. Mereka senantiasa menyibukkan diri beribadah kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Segala keperluannya sudah dipenuhi oleh ketujuh orang anaknya yang sudah cukup kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita Tujuh Anak Laki-Laki dari daerah Provinsi Nanggro Aceh Darussalam, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah keutamaan sifat mandiri. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku ketujuh anak laki-laki tersebut. Mereka senantiasa bekerja keras, menggarap lahan perkebunan mereka, sehingga mendapatkan hasil yang melimpah dan menjadi orang yang kaya di kampungnya. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wahai ananda dengarlah manat,&lt;br /&gt;tunjuk dan ajar hendaklah ingat&lt;br /&gt;bulatkan hati teguhkan semangat&lt;br /&gt;supaya hidupmu beroleh rahmat&lt;br /&gt;Pelajaran lain yang dapat dipetik adalah keutamaan sifat pandai membalas budi. Hal ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku ketujuh anak laki-laki tersebut. Meskipun kedua orangtua mereka telah membuangnya ke tengah hutan, mereka tidak pernah berputus asa untuk mencari orangtua yang telah melahirkan mereka. Dikatakan dalam ungkapan tunjuk ajar Melayu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa tanda Melayu pilihan,&lt;br /&gt;membalas budi ia utamakan&lt;br /&gt;(Samsuni /sas/100/09-08)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sumber: &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Isi cerita diadaptasi dari L. K. Ara. 1999. Cerita Rakyat Dari Aceh. Jakarta: Grasindo.&lt;br /&gt;•Anonim. “Aceh”, (http://id.wikipedia.org/wiki/Aceh, diakses tanggal 25 September 2008).&lt;br /&gt;•Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-860348902084373472?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/860348902084373472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/tujuh-anak-lelaki.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/860348902084373472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/860348902084373472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/tujuh-anak-lelaki.html' title='Tujuh Anak Lelaki'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjY8dL-0JI/AAAAAAAAACk/q_MpktrbTbI/s72-c/Tujuh+Anak+Lelaki.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-673038646463126711</id><published>2009-12-28T23:08:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T23:09:48.887+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nanggroe Aceh Darussalam'/><title type='text'>Si Kepar (Aceh)</title><content type='html'>Nanggroe Aceh Darussalam termasuk salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di ujung paling Barat Pulau Sumatera. Selain terkenal sebagai “Serambi Mekah”, provinsi ini juga terkenal dengan kanekaragaman suku-bangsanya. Salah satu di antaranya adalah suku-bangsa Alas, yang bermukim di Kabupaten Aceh Tenggara. Menurut sejarah, suku-bangsa Alas merupakan pecahan dari suku-bangsa Gayo, karena nenek moyang mereka berasal dari Kabupaten Gayo Lues. Oleh karena itu, kedua suku-bangsa ini seringkali disatukan menjadi suku-bangsa Gayo-Alas. Menurut pendapat sebagian ahli, kata “Alas” berasal dari bahasa Gayo yang berarti “tikar”. Pemberian nama ini dikaitkan dengan keadaan wilayah pemukiman orang Alas yang terbentang luas seperti tikar terkembang di sela-sela Bukit Barisan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat lain mengatakan bahwa orang Alas berasal dari daerah Singkil, Kabupaten Aceh Selatan, yang ditandai dengan adanya tari Alas di daerah itu. Dalam bahasa Singkil, “Alas” diartikan sebagai “muqaddimah” atau “pembukaan”. Alasan lainnya, bahasa dan beberapa nama mergo (marga) yang dipakai orang Alas mirip dengan bahasa atau mergo yang dipergunakan oleh penduduk Kluet Utara dan Hulu Singkil.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika dilihat dari segi bahasa dan budaya, suku-bangsa Alas berbeda dengan suku-bangsa Gayo dan Singkil. Suku-bangsa Alas mempunyai bahasa sendiri yang disebut bahasa Alas, walaupun bahasa ini telah dipengaruhi oleh bahasa dari kedua suku-bangsa tersebut. Demikian pula dari segi budaya, orang Alas juga memiliki budaya sendiri, seperti permainan rakyat, upacara tradisional maupun cerita-cerita rakyatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masyarakat Alas terdapat banyak cerita rakyat, baik yang tersebar di kalangan anak-anak, remaja maupun orang tua. Salah satu cerita rakyat yang sangat terkenal di kalangan anak-anak dan remaja di daerah ini yaitu Si Kepar. Cerita ini mengisahkan tentang perjuangan seorang anak remaja yang bernama si Kepar dalam menyatukan kembali kedua orang tuanya telah lama bercerai. Munculnya keinginan si Kepar tersebut, karena ia sering diejek oleh teman sepermainannya sebagai jazah (anak tak berayah). Untuk menyatukan kedua orang tuanya yang telah lama bercarai itu, bukanlah hal yang mudah. Usaha apa yang dilakukan si Kepar untuk menyatukan kedua orang tuanya? Berhasilkah usahanya tersebut? Ingin tahu jawabannya? Ikuti kisahnya dalam cerita Si Kepar berikut ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, di sebuah daerah di Kapupaten Aceh Tenggara, hiduplah seorang janda bersama dengan seorang anak laki-lakinya yang bernama Si Kepar. Ayah dan ibu si Kepar bercerai sejak si Kepar masih berusia satu tahun, sehingga ia tidak mengenal sosok ayahnya. Sebagai anak yatim, Si Kepar sering diejek oleh teman-teman sepermainannya sebagai jazah (anak tak berayah). Oleh karena itu, Si Kepar ingin mengetahui siapa sebenarnya ayahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Si Kepar pun menanyakan hal itu kepada ibunya. Pada awalnya, ibunya enggan menceritakan siapa dan di mana ayah Si Kepar. Namun, akhirnya diceritakan juga setelah Si Kepar mengancam akan bunuh diri jika tidak diceritakan. Setelah jelas siapa dan di mana ayahnya, Si Kepar pun berniat untuk menemui ayahnya di atas sebuah gunung yang sangat jauh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berpamitan pada ibunya, Si Kepar pun berangkat untuk menemui ayahnya dengan perbekalan secukupnya. Ia berjalan sendiri melawati hutan belantara, menyeberangi sungai dan mendaki gunung. Akhirnya, sampailah ia pada tempat yang dimaksud ibunya. Dari kejauhan, tampaklah seorang laki-laki setengah baya yang sedang menyiangi rumput di tengah-tengah ladangnya. Si Kepar pun segera menghampiri dan menyapanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selamat siang, Pak!”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siang juga, Nak!” jawab Bapak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu siapa dan dari mana asalmu?” tanya pula Bapak itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya Si Kepar. Berasal dari Tanah Alas,” jawab Si Kepar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tanah Alas?” ucap Bapak itu. Ia tersentak kaget mendengar jawaban Si Kepar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Bapak kaget mendengar nama itu?” tanya Si Kepar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh tidak, Nak! Tidak ada apa-apa,” jawab Bapak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa yang membawa kamu ke sini, Par?” tanya balik bapak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Kepar pun menceritakan maksud kedatanganya, namun ia tidak menceritakan kalau ibunya masih hidup. Setelah mendengar cerita si Kepar, tahulah Bapak itu bahwa Si Kepar adalah anaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, Si Kepar mulai silih berganti tinggal bersama ayah atau ibunya. Dalam seminggu, terkadang Si Kepar tidur tiga malam di tempat ayahnya, baru kembali ke tempat ibunya. Si Kepar tidak pernah menceritakan kepada ibunya kalau ia tidur di tempat ayahnya. Bahkan, ia mengatakan kepada ibunya, bahwa ayahnya telah meninggal dunia. Semua hal ini dilakukan oleh Si Kepar, karena ia ingin kedua orang tuanya menyatu kembali agar tidak lagi diejek oleh teman-temannya sebagai jazah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala daya dan upaya dilakukannya agar keinginannya dapat tercapai, walaupun ia harus berbohong kepada kedua orang tuanya. Setelah berdoa sehari-semalam, Si Kepar mendapat petunjuk dari Yang Mahakuasa. Petunjuk itu adalah menyatakan kehendaknya kepada ibunya untuk memiliki ayah tiri. Harapan ini juga disampaikan kepada ayahnya untuk memiliki ibu tiri. Pada suatu malam, Si Kepar menyampaikan harapannya itu kepada ibunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, sebenarnya Kepar kasihan melihat ibu yang setiap hari bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan kita. Jika ibu ingin menikah lagi, Kepar tidak keberatan memiliki ayah tiri.” Mendengar perkataan Kepar itu, ibunya termenung sejenak, lalu berkata, “Benarkah kamu tidak keberatan, Par?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, Bu! Kepar sangat senang jika memiliki ayah lagi, agar teman-teman Kepar tidak akan lagi mengejek Kepar sebagai jazah,” Kepar menjelaskan alasan sebenarnya ingin memiliki ayah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi..., siapa lagi yang mau menikah dengan ibu yang sudah tua ini,” kata ibu Kepar merendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu tidak perlu khawatir. Serahkan saja masalah itu kepada Kepar,” jawab Kepar dengan perasaan lega, karena jawaban ibunya menandakan bersedia menikah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Kepar kemudian pergi ke gunung menemui ayahnya untuk menyampaikan harapan yang sama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah! Bolehkah Kepar meminta sesuatu kepada, Ayah?” tanya Kepar kepada ayahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah itu, Anakku!” jawab ayah Kepar penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebenarnya Kepar merasa kasihan melihat ayah yang setiap hari harus bekerja di ladang dan memasak sendiri. Jika ayah tidak keberatan, Kepar akan mencarikan seorang perempuan yang pantas untuk mendampingi ayah,” kata Kepar kepada ayahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Siapa lagi yang mau dengan ayah yang sudah tua ini?” jawab ayah Kepar tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang, Ayah! Masih banyak janda-janda yang sebaya dan pantas untuk ayah di Tanah Alas,” kata Kepar kepada ayahnya memberi harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, yang benar saja, Par!” jawab ayah Kepar dengan santainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar jawaban itu, Kepar pun tahu kalau ayahnya bersedia menikah lagi. Akhirnya, kedua orang tuanya menyetujui harapan Si Kepar. Namun, mereka belum mengetahui siapa jodohnya yang oleh mereka sama-sama telah menyerahkan masalah itu kepada Si Kepar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Kepar pun mulai mengatur taktik dan strategi untuk mempertemukan kedua orang tuanya yang semula beranggapan bahwa pasangan mereka sudah meninggal sebagaimana keterangan Si Kepar. Si Kepar mempertemukan mereka di sebuah dusun yang berada di lereng gunung, tidak jauh dari tempat tinggal ayahnya. Pertemuan ini tidak dilakukan di Tanah Alas, agar ayahnya tidak teringat dengan tempat itu, dimana dulu ia pernah tinggal di sana selama puluhan tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, berkat usaha Kepar, kedua orang tuanya bersatu kembali. Mereka berdua hidup harmonis seperti sedia kala. Melihat keadaan itu, kini saatnya Si Kepar menceritakan keadaan yang sebenarnya, bahwa perempuan yang dinikahi ayahnya itu adalah istrinya sendiri yang dulu pernah ia nikahi. Demikian sebaliknya, laki-laki yang menikahi ibunya itu adalah suaminya sendiri yang dulu pernah menikahinya. Setelah mendengar keterangan dari Si Kepar tersebut, tahulah keduanya (ayah dan ibu Kepar) keadaan yang sebenarnya. Meskipun keduanya telah dibohongi oleh anaknya, keduanya tidak marah. Keduanya saling memaafkan atas kesalahan masing-masing yang menyebabkan mereka bercerai. Mereka juga berterima kasih kepada Si Kepar, karena telah menyatukan mereka kembali. Si Kepar pun sangat senang menyambut kehadiran ayahnya di tengah-tengah keluarganya. Akhirnya, mereka bertiga hidup dalam sebuah keluarga yang rukun, damai dan penuh kebahagiaan. Sejak itu pula, Si Kepar tidak pernah lagi diejek oleh teman-temannya sebagai jazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita di atas termasuk ke dalam cerita-cerita teladan yang di dalamnya mengandung pesan-pesan moral. Adapun pesan-pesan moral tersebut, yaitu: berbohong demi kebajikan dan saling memaafkan. Pertama, berbohong demi kebajikan. Dalam agama pun, berbohong itu adalah perbuatan dosa, karena dapat merugikan orang lain. Memang, banyak alasan yang menyebabkan seseorang berbohong, misalnya takut akan konsekuensi jika ia berkata jujur, adanya desakan dari orang di sekitarnya (misalnya, jika ia berkata jujur nyawanya terancam), dan sebagainya. Lalu, bagaimana jika berbohong demi kebaikan? Dalam hal ini, terkadang tindakan itu bisa benar, tapi terkadang bisa pula salah. Bisa benar jika berkata jujur akan menyebabkan terjadinya hal-hal yang tidak mengenakkan, dan bisa salah apabila tidak demikian adanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkata jujur memang terkadang menyakitkan, apalagi jika berhadapan dengan orang yang tidak menerima kejujuran, sehingga terkadang seseorang lebih memilih berbohong dari pada berkata jujur. Akan tetapi, adapula yang menyiasatinya dengan berbicara bohong dulu dan baru berani jujur ketika situasinya sudah memungkinkan. Seperti yang dilakukan Si Kepar dalam cerita di atas, ia memilih berbohong dulu, dan baru berkata jujur setelah kedua orang tuanya hidup harmonis. Sekiranya Si Kepar berkata jujur kepada kedua orang tuanya dari awal, barangkali mereka tidak akan bersatu kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayangnya, berbohong demi kebaikan ini terkadang hanya dijadikan sebagai alasan oleh orang-orang yang ingin menghindari kesalahannya. Padahal kalaupun ia berkata jujur pada saat itu, tidak akan terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sifat saling memaafkan. Sifat ini tercermin pada sifat kedua orang tua Si Kepar yang mau memaafkan kesalahan masing-masing, sehingga mereka mau bersatu menjadi sebuah keluarga yang harmonis. Sifat ini sangat patut untuk dijadikan sebagai suri teladan, karena termasuk sifat yang terpuji dan sangat dimuliakan dalam kehidupan orang Melayu. Terkait dengan hal ini, orang tua-tua Melayu mengungkapkan dalam untaian pantun seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wahai ananda permata intan,&lt;br /&gt;kesalahan orang cepat maafkan&lt;br /&gt;hati pemurah meringankan beban&lt;br /&gt;semoga Allah melapangkan jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(SM/sas/49/12-2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sumber:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Isi cerita disadur dari Sufi, Rusdi, dkk., 2004. Keanekaragaman Suku dan Budaya di Aceh. Nanggroe Aceh Darussalam: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh bekerjasama dengan Badan Perpustakaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.&lt;br /&gt;•Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.•Anonim. “Suku Alas”, Wikipedia, http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Alas, diakses tanggal 9 Desember 2007).&lt;br /&gt;•Anonim. “Suku Bangsa Aceh”, (http://www.tamanmini.com/budaya/suku_bangsa/suku_bangsa_aceh, diakses tanggal 9 Desember 2007) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-673038646463126711?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/673038646463126711/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/si-kepar-aceh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/673038646463126711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/673038646463126711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/si-kepar-aceh.html' title='Si Kepar (Aceh)'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-9147078992493862067</id><published>2009-12-28T23:06:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T23:07:56.514+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nanggroe Aceh Darussalam'/><title type='text'>Mentiko Betuah (Aceh)</title><content type='html'>Konon, pada zaman dahulu di negeri Semeulue, tersebutlah seorang raja yang kaya-raya. Raja itu sangat disenangi oleh rakyatnya, karena kedermawanannya. Namun, ia tidak memiliki anak setelah sepuluh tahun menikah dengan permaisurinya. Oleh karena sudah tidak tahan lagi ingin punya keturunan, Raja itu pun pergi bersama permaisurinya ke hulu sungai yang airnya sangat dingin untuk berlimau dan bernazar, agar dikaruniai seorang anak yang kelak akan mewarisi tahta kerajaan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempat yang akan dituju itu berada sangat jauh dari keramaian. Untuk menuju ke sana, mereka harus menyusuri hutan belantara, menyeberangi sungai-sungai, serta mendaki dan menuruni gunung. Mereka pun berangkat dengan membawa bekal secukupnya. Setiba kedua suami-istri di sana, mereka mulai melaksanakan maksud dari kedatangan mereka. Setelah sehari-semalam berlimau dan bernazar, mereka pun kembali ke istana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu berhari-hari dan berminggu-minggu, akhirnya doa mereka terkabul. Permaisuri diketahui telah mengandung satu bulan. Delapan bulan kemudian, Permaisuri pun melahirkan seorang anak laki-laki, dan diberinya nama Rohib. Raja sangat gembira menyambut kelahiran putranya itu, yang selama ini diidam-idamkannya. Raja kemudian memukul beduk untuk memberitahukan kepada seluruh rakyatnya agar berkumpul di pendopo istana. Selanjutnya, Raja menyampaikan bahwa ia hendak mengadakan selamatan sebagai tanda syukur atas rahmat Tuhan yang telah menganugerahinya anak. Keesokan harinya, selamatan pun dilangsungkan sangat meriah dengan berbagai macam pertunjukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja dan permaisuri mendidik dan membesarkan putra mereka dengan penuh kasih sayang. Mereka sangat memanjakannya, sehingga anak itu tumbuh menjadi anak yang sangat manja. Waktu terus berlalu, Rohib pun bertambah besar. Rohib kemudian dikirim oleh orang tuanya ke kota untuk belajar di sebuah perguruan. Sebelum berangkat, Rohib mendapat pesan dari ayahnya agar belajar dengan tekun. Setelah itu, ia pun berpamitan kepada orang tuanya. Sudah beberapa tahun Rohib belajar, Rohib belum juga mampu menyelesaikana pelajarannya karena sudah terbiasa manja. Ayahnya menjadi sangat marah kepadanya, bahkan ingin menghukumnya, ketika ia kembali ke istana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Rohib! Anak macam apa kamu! Dasar anak keras kepala! Sudah tidak mau mendengar nasihat orang tua. Pengawal! Gantung anak ini sampai mati!” perintah sang Raja. Mendengar perintah suaminya kepada pengawal, Permaisuri pun segera bersujud di hadapan suaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun, Kakanda! Rohib adalah anak kita satu-satunya. Adinda mohon, Rohib jangan dihukum mati. Berilah ia hukuman lainnya!” pinta sang Permaisuri kepada suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Kanda sudah muak melihat muka anak ini!” jawab sang Raja dengan geramnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau kita usir saja dia dari istana ini? Tapi dengan syarat, Kakanda bersedia memberinya uang sebagai modal untuk berdagang,” usul sang Permaisuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, Dinda! Usulan Dinda aku terima. Tapi dengan syarat, uang yang aku berikan kepada Rohib tidak boleh ia habiskan kecuali untuk berdagang,” jawab sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana pendapatmu, Anakku?” Permaisuri balik bertanya kepada Rohib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, Bunda! Rohib bersediah memenuhi syarat itu. Terima kasih, Bunda!” jawab Rohib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kamu melanggar lagi, maka tidak ada ampun bagimu, Rohib!” tambah Raja menegaskan kepada putranya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Rohib berpamitan kepada orang tuanya untuk pergi berdagang. Ia pergi dari satu kampung ke kampung dengan menyusuri hutan belantara. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan anak-anak kampung yang sedang menembak burung dengan ketapel. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai, Saudara-saudaraku! Janganlah kalian menganiaya burung itu, karena burung itu tidak berdosa.” tegur si Rohib kepada anak-anak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, kamu siapa? Berani-beraninya kamu melarang kami,” bantah salah seorang dari anak-anak kampung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika kalian berhenti menembaki burung itu, aku akan memberi kalian uang,” tawar Rohib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak kampung itu menerima tawaran Rohib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memberikan uang kepada mereka, Rohib pun melanjutkan perjalanannya. Belum jauh berjalan, ia menemukan lagi orang-orang kampung yang sedang memukuli seekor ular. Rohib tidak tega melihat perbuatan mereka tersebut. Ia kemudian memberikan uang kepada orang-orang tersebut agar berhenti menganiaya ular itu. Setelah itu, ia melanjutkan lagi perjalanannya menyusuri hutan lebat menuju ke sebuah perkampungan. Demikian seterusnya, selama dalam perjalanannya, ia selalu memberi uang kepada orang-orang yang menganiaya binatang, sehingga tanpa disadarinya uang yang seharusnya dijadikan modal berdagang sudah habis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sadar, ia pun mulai gelisah dan berpikir bagaimana jika ia pulang ke istana. Tentu ayahnya akan sangat marah dan akan menghukumnya. Apalagi ia telah dua kali melakukan kesalahan besar, pasti ayahnya tidak akan mengampuninya lagi. Oleh karena kelelahan seharian berjalan, ia pun memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah pohon yang rindang. Ia kemudian duduk di atas sebuah batu besar yang ada di bawah pohon itu sambil menangis tersedu-sedu. Pada saat itu, tiba-tiba seekor ular besar mendekatinya. Rohib sangat ketakutan, mengira dirinya akan dimangsa ular itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan takut, Anak muda! Saya tidak akan memakanmu,” kata ular itu. Melihat ular itu dapat berbicara, rasa takut Rohib pun mulai hilang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Ular besar! Kamu siapa? Kenapa kamu bisa berbicara?” tanya si Rohib mulai akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku adalah Raja Ular di hutan ini,” jawab ular itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sendiri siapa? Kenapa kamu bersedih?” ular itu balik bertanya kepada si Rohib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku adalah si Rohib,” jawab Rohib, lalu menceritakan semua masalahnya dan semua kejadian yang telah dialami selama dalam perjalanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu adalah anak yang baik, Hib,” kata Ular itu dengan akrabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena kamu telah melindungi hewan-hewan di hutan ini dari orang-orang kampung yang menganiayanya, aku akan memberimu hadiah sebagai tanda terima kasihku,” tambah ular itu lalu  kemudian mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benda apa itu?” tanya si Rohib penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benda itu adalah benda yang sangat ajaib. Apapun yang kamu minta, pasti akan dikabulkan. Namanya Mentiko Betuah,” jelas Ular itu, lalu pergi meninggalkan si Rohib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Rohib masih asyik mengamati Mentiko Betuah itu. “Waw, hebat sekali benda ini. Berarti benda ini bisa menolongku dari kemurkaan ayah,” gumam Rohib dengan perasaan gembira. Berbekal Mentiko Betuah itu, Rohib memberanikan diri kembali ke istana untuk menghadap kepada ayahnya. Namun, sebelum sampai di istana, terlebih dahulu ia memohon kepada Mentiko Betuah agar memberinya uang yang banyak untuk menggantikan modalnya yang telah dibagi-bagikan kepada orang-orang kampung, dan keuntungan dari hasil dagangannya. Ayahnya pun sangat senang menyambut putranya yang telah membawa uang yang banyak dari hasil dagangannya. Akhirnya, Rohib diterima kembali oleh ayahnya dan terbebas dari ancaman hukuman mati. Semua itu berkat pertolongan Mentiko Betuah, pemberian ular itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, Rohib berpikir bagaimana cara untuk menyimpan Mentiko Betuah itu agar tidak hilang. Suatu hari, ia menemukan sebuah cara, yaitu ia hendak menempanya menjadi sebuah cincin. Lalu dibawanya Mentiko Betuah itu kepada seorang tukang emas. Namun tanpa disangkanya, tukang emas itu menipunya dengan membawa lari benda itu. Oleh karena Rohib sudah bersahabat dengan hewan-hewan, ia pun meminta bantuan kepada mereka. Tikus, kucing dan anjing pun bersedia menolongnya. Anjing dengan indera penciumannya, berhasil menemukan jejak si tukang emas, yang telah melarikan diri ke seberang sungai. Kini, giliran si Kucing dan si Tikus untuk mencari cara bagaimana cara mengambil cincin itu yang disimpan di dalam mulut tukang emas. Pada tengah malam, si Tikus memasukkan ekornya ke dalam lubang hidung si Tukang Emas yang sedang tertidur. Tak berapa lama, Tukang Emas itu bersin, sehingga Mentiko Betuah terlempar keluar dari mulutnya. Pada saat itulah, si Tikus segera mengambil benda itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketika Mentiko Betuah akan dikembalikan kepada Rohib, si Tikus menipu kedua temannya dengan mengatakan bahwa Mentiko Betuah terjatuh ke dalam sungai. Padahal sebenarnya benda itu ada di dalam mulutnya. Pada saat kedua temannya mencari benda itu ke dasar sungai, ia segera menghadap kepada si Rohib. Dengan demikian, si Tikuslah yang dianggap sebagai pahlawan dalam hal ini. Sementara, si Kucing dan si Anjing merasa sangat bersalah, karena tidak berhasil membawa Mentiko Betuah. Ketika diketahui bahwa si Rohib telah menemukan Mentiko Betuahnya, yang dibawa oleh si Tikus, maka tahulah si Kucing dan si Anjing bahwa si Tikus telah melakukan kelicikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut masyarakat setempat, bahwa berawal dari cerita inilah mengapa tikus sangat dibenci oleh anjing dan kucing hingga saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita rakyat di atas termasuk ke dalam cerita-cerita teladan yang mengandung pesan-pesan moral. Ada beberapa pesan moral yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, yaitu di antaranya; sikap suka menolong, akibat buruk terlalu memanjakan anak dan akibat buruk suka berbuat licik. Pertama, sikap suka menolong. Sikap ini tercermin pada sikap Rohib yang selalu melindungi hewan-hewan dari orang-orang kampung yang menganiayanya, meskipun ia harus berkorban dengan memberikan uang modal dagangannya kepada mereka. Namun, berkat ketulus-ikhlasannya tersebut, ia mendapat pertolongan dari seekor ular, sehingga ia terbebas dari hukuman ayahnya. Sikap Rohib ini sangat patut untuk dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap ini juga sangat diutamakan dalam kehidupan orang-orang Melayu, sebagaimana yang dikemukakan dalama tunjuk ajar Melayu berikut ini: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wahai ananda dengarlah amanat,&lt;br /&gt;tulus dan ikhlas jadikan azimat&lt;br /&gt;berkorban menolong sesama umat&lt;br /&gt;semoga hidupmu beroleh rahmat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, akibat buruk terlalu memanjakan anak. Sikap ini tercermin pada kedua orang tua Rohib yang selalu memanjakannya ketika ia masih kecil. Akibatnya, sifat manja itu terbawa-bawa sampai Rohib menjadi besar. Oleh karena sifat manjanya itu, ia tidak berhasil menyelesaikan pendidikannya di kota sebagaimana yang diharapkan oleh orang tuanya. Sikap terlalu memanjakan anak ini tidak patut untuk dijadikan suri teladan, karena sangat memengaruhi perkembangan mental dan perilaku anak. Sifat manja dapat membuat anak menjadi malas belajar. Anak yang malas belajar, tentu memiliki wawasan yang sempit. Terkait dengan sifat malas belajar dan berwawasan sempit ini, Tenas Effendy dalam bukunya “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau menyebutkan beberapa ungkapan pantangan mengenai kedua sifat tersebut, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, ungkapan tentang sifat malas belajar dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menuntut ilmu bermalas-malas,&lt;br /&gt;orang tegak awak terlindas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ungkapan tentang sifat berwawasan sempit dikatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kalau hidup tidak senonoh,&lt;br /&gt;pandangan sempit pikiran bodoh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, akibat buruk suka berbuat curang dan licik. Sikap ini tercermin pada perilaku si Tikus yang telah menipu si Kucing dan si Anjing, karena hanya ingin mencari muka dan mendapat pujian dari si Rohib, putra raja itu. Akibat kelicikannya itu, ia pun sangat dibenci oleh kucing dan anjing. Sikap licik ini termasuk sifat yang tercela, sehingga tidak patut untuk dijadikan sebagai suri teladan dalam kehidupan sehari-hari. Terkait dengan sifat curang dan licik ini, Tenas Effendy juga menyatakannya dalam ungkapan seperti berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa tanda orang yang licik,&lt;br /&gt;janji mungkir cakap terbalik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(SM/sas/48/12-07)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sumber:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•Isi cerita disadur dari Sufi, Rusdi, dkk., 2004. Keanekaragaman Suku dan Budaya di Aceh. Nanggroe Aceh Darussalam: Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh bekerjasama dengan Badan Perpustakaan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.&lt;br /&gt;•Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan AdiCita Karya Nusa.•-------. 1994. “Ejekan” Terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru: Bappeda Tingkat I Riau. •Astuti, Palupi P. “Kabupaten Kepulauan Simeulue”, Libtang Kompas, (http://www.kompas.com/kompas-cetak/0307/23/otonomi/450048.htm, diakses tanggal 7 Desember 2007)&lt;br /&gt;•Anonim. “Kabupaten Simeulue”, (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Simeulue, diakses tanggal 7 Desember 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-9147078992493862067?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/9147078992493862067/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/mentiko-betuah-aceh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/9147078992493862067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/9147078992493862067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/mentiko-betuah-aceh.html' title='Mentiko Betuah (Aceh)'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-7646842204326650735</id><published>2009-12-28T23:03:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T23:05:54.229+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nanggroe Aceh Darussalam'/><title type='text'>Si Parkit Raja Parakeet</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjXVrBIzCI/AAAAAAAAACc/LMi6W12owKc/s1600-h/Si+Parkit+Raja+Parakeet.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 233px; height: 172px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjXVrBIzCI/AAAAAAAAACc/LMi6W12owKc/s320/Si+Parkit+Raja+Parakeet.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420318918865112098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nanggro Aceh Darussalam merupakan propinsi di Indonesia yang kaya, subur dan makmur. Sejauh mata memandang, hamparan hutan belantara terbentang hijau bagai permadani. Di tengah hutan belantara tersebut hidup beraneka jenis binatang seperti orang utan, trenggiling, bluok, kuntul, alap-alap putih, burung dara laut, burung raja udang, dan termasuk burung parakeet. Dalam hutan itu, lahirlah sebuah cerita fabel di kalangan masyarakat Aceh yang mengisahkan tentang kecerdikan seorang raja burung parakeet bernama si Parkit, yang mampu menyelamatkan diri dari seorang Pemburu yang berniat membunuhnya. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, di tengah hutan belantara itu, hiduplah sekawanan burung parakeet yang hidup damai, tenteram, dan makmur. Setiap hari mereka bernyanyi riang dengan suara merdu bersahut-sahutan dan saling membantu mencari makanan. Kawanan burung tersebut dipimpin oleh seorang raja parakeet yang bernama si Parkit. Namun, di tengah suasana bahagia itu, kedamaian mereka terusik oleh kedatangan seorang Pemburu. Ternyata, ia berniat menangkap dan menjual burung parakeet tersebut. Pelan-pelan tapi pasti, si Pemburu itu melangkah ke arah kawanan burung parakeet itu, lalu memasang perekat di sekitar sarang-sarangnya. “Ehm….Aku akan kaya raya dengan menjual kalian!”, gumam si Pemburu setelah selesai memasang banyak perekat. Si Pemburu itu pun tersenyum terus memba­yangkan uang yang akan diperolehnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gumaman si Pemburu tersebut didengar kawanan burung parakeet, sehingga mereka menjadi ketakutan. Mereka berkicau-kicau untuk mengingatkan antara satu sama lainnya. “Hati-hati! Pemburu itu telah memasang perekat di se­kitar sarang kita! Jangan sam­pai tertipu! Sebaiknya kita tidak terbang ke mana-mana dulu!” seru seekor burung parakeet. “Ya, betul! Kita memang ha­rus berhati-hati,” sahut burung parakeet yang lain. Namun, karena harus mencari makan, burung-burung parakeet itu pun keluar dari sarangnya. Alhasil, apa yang ditakutkan burung-burung parakeet itu pun terjadi. Bencana tak terelakkan, burung-burung parakeet itu terekat pada perekat si Pemburu. Mereka meronta-ronta untuk melepaskan diri dari perekat tersebut, namun usaha mereka sia-sia. Kawanan burung parakeet tersebut menjadi panik dan bingung, kecuali si Parkit, raja parakeet. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat rakyatnya kebingungan, Raja Parakeet berkata, “Tenang, Rakyatku! Ini adalah perekat yang dipasang si Pemburu. Berarti dia ingin menangkap kita hidup-hidup. Jadi, kalau kita mati, si Pemburu itu tidak akan mengambil kita. Besok, ketika si Pemburu itu datang, kita pura-pura mati saja!”, mendegar penjelasan raja Parakeet itu, rakyatnya terdiam. Sejenak, suasana menjadi hening. Di tengah keheningan itu, “Berpura-pura mati? Untuk apa?”, tanya seekor parakeet, membuat burung parakeet lainnya menoleh ke arahnya. Si Parkit tersenyum mendengar pertanyaan itu, “Besok, setelah si Pemburu melepaskan kita dari perekat yang dipasangnya, dia akan memeriksa kita satu per satu. Bila dilihatnya kita telah mati, maka dia akan meninggalkan kita di sini. Tunggu sampai hitunganku yang ke seratus agar kita dapat terbang secara bersama-sama!”. Semua rakyatnya ternganga mendengar penjelasan si Parkit. “Oh, begitu..!? Baiklah, besok kita akan ber­pura-pura mati agar dapat be­bas dari Pemburu itu!”, sahut rakyatnya setuju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, rakyatnya sudah mengerti apa yang direnca­nakan oleh si Parkit. Mereka ber­janji akan menuruti pe­rintah rajanya. Keesokan harinya, si Pemburu pun datang. Dengan sangat hati-hati, si Pemburu melepaskan burung parakeet tersebut satu persatu dari perekatnya. Ia sangat kecewa, karena tak satu pun burung parakeet yang bergerak. Dikiranya burung parakeet tersebut telah mati semua, ia pun membiarkannya. Dengan rasa kesal, si Pemburu berjalan seenaknya, tiba-tiba ia jatuh terpeleset. Kawanan burung parakeet yang berpura-pura mati di sekitarnya pun kaget dan terbang dengan seketika tanpa menunggu hitungan dari si Parkit. Si Pemburu pun berdiri kaget, karena ia merasa telah ditipu oleh kawanan burung parakeet itu. Namun, tiba-tiba ia tersenyum, karena melihat ada seekor burung parakeet yang masih melekat pada perekatnya. Lalu ia menghampiri burung parakeet tersebut, yang tidak lain adalah si Parkit. “Kamu akan kubunuh!”, bentak si Pemburu dengan marah. Si Parkit sangat ketakutan mendengar bentakan si Pemburu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Parkit yang cerdik itu, tidak mau kehilangan akal. Ia segera berpikir untuk menyelematkan diri, karena ia tidak mau dibunuh oleh si Pemburu itu. “Ampuni hamba, Tuan! Jangan bunuh hamba! Lepaskan hamba, Tuan!” pinta si Parkit. “Enak saja! Kamu dan teman-temanmu telah me­nipuku. Kalau tidak, pasti aku sudah banyak menang­kap kalian!” kata si Pemburu dengan marah. “Iya. Tapi itu kan bukan salahku. Ampuni hamba, Tuan! Hamba akan menghibur Tuan setiap hari!” kata si Parkit memohon. “Menghiburku?” tanya si Pemburu. “Betul, Tuan. Hamba akan bernyanyi setiap hari untuk Tuan!” seru si Parkit. Si Pem­buru diam sejenak memikirkan tawaran burung parakeet itu. “Memangnya suaramu bagus?” tanya si Pemburu itu mulai tertarik. Si Parkit pun bernyanyi. Suara si Parkit yang merdu itu berhasil mumbujuk si Pemburu, sehingga ia tidak jadi dibunuh. “Baiklah, aku tidak akan membu­nuhmu, tapi kamu harus bernyanyi setiap hari!” kata si Pemburu. Karena takut dibunuh, si Parkit pun setuju. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, si Pemburu membawa si Parkit pulang. Sesampai di rumahnya, si Parkit tidak dikurung dalam sangkar, tapi salah satu kakinya diikat pada tiang yang cukup tinggi. Sejak saat itu, setiap hari si Parkit selalu bernyanyi untuk menghibur si Pem­buru itu. Si Pemburu pun sangat senang mendengarkan suara si Parkit. “Untung….aku tidak membunuh burung parakeet itu”, ucap si Pemburuh. Ia merasa beruntung, karena banyak orang yang memuji kemerduan suara si Parkit. Sampai pada suatu hari, kemerduan suara si Parkit tersebut terdengar oleh Raja Aceh di istananya. Raja Aceh itu ingin agar burung parakeet itu menjadi miliknya. Sang Raja memanggil si Pemburu menghadap kepadanya. Si Pemburu pun datang ke istana dengan perasaan bimbang, karena ia sangat sayang pada si Parkit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di hadapan Raja Aceh, ia tidak bersedia memberikan si Parkit yang bersuara merdu itu kepada Sang Raja. “Ampun, Baginda! Hamba tidak bermaksud menentang keinginan Baginda!” kata si Pemburu memberi hormat. “Lalu, kenapa kamu tidak mau memberikan burung itu?” tanya sang Raja. “Ampun, Baginda! Mohon beribu ampun! Hamba sangat sayang pada burung tersebut. Selama ini hamba telah memeliharanya dengan baik”, jawab si Pemburu. Mendengar jawaban itu, “Kalau begitu, bagaimana jika kuganti dengan uang yang sangat banyak.?”, sang Raja menawarkan. Pemburu itu pun terdiam sejenak memikirkan tawaran itu. Tidak lama, “Ampun, Baginda! Jika Baginda benar-benar menyukai burung parakeet ter­sebut, silakan kirim pengawal untuk me­ngambilnya!” kata si Pemburu sambil memberi hormat. Sang Raja sangat senang mendengar jawaban si Pemburu. Ia pun segera memerintahkan beberapa pengawalnya untuk mengambil burung parakeet tersebut dan menyerahkan uang yang dijanjikannya kepada si Pemburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Parkit pun dibawa ke istana dan dimasukkan ke dalam sangkar emas. Setiap hari si Parkit disediakan makanan yang enak. Meksipun semuanya serba enak, namun si Parkit tetap tidak senang, karena ia merasa terpenjara. Ia ingin kembali ke hutan belantara tempat tinggalnya dulu, agar ia bisa terbang bebas bersama rakyatnya. Karena merasa sedih, si Parkit sudah beberapa hari tidak mau menyanyi untuk sang Raja. Mengetahui burung parakeetnya tidak mau menyanyi lagi, sang Raja mulai bimbang memikirkan burung parakeetnya. Karena ingin tahu keadaan burung itu yang sebenarnya, maka sang Raja pun memanggil petugas istana, “Kenapa burung parakeetku tidak mau bernyanyi lagi beberapa hari ini? Dia sakit, ya?”. Petugas Istana itu menjawab, “Maaf, Tuanku. Hamba juga tidak tahu apa sebabnya. Saya telah memberinya makan seperti biasanya, tetapi tetap saja ia tidak mau bernyanyi,”. Mendengar jawaban dari Petugas Istana tersebut, Raja Aceh menjadi sedih melihat burung parakeetnya yang tidak mau bernyanyi lagi. “Ada apa, ya?” gumam sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, si Parkit bah­kan tidak mau memakan apa pun yang di­sediakan di dalam sangkar emasnya. Ia terus teringat pada hutan belantara tempat tinggalnya dulu. Si Parkit pun mulai berpikir, “Bagaimana caranya ya....aku bisa keluar dari sangkar ini?”, gumam si Parkit. Tak lama, ia pun menemukan akal, “Aahh....aku harus berpura-pura mati lagi!”, si Parkit tersenyum sambil membayangkan dirinya lepas dan terbang tinggi. Akhirnya, pada suatu hari, ia pun berpura-pura mati. Petugas Istana yang mengetahui si Parkit mati segera menghadap sang Raja. “Ampun, Tuanku. Hamba sudah merawat dan memelihara sebaik mung­kin, tapi burung parakeet ini tidak tertolong lagi. Mungkin karena sudah tua,” kata Petugas Istana melaporkan kematian si Parkit. Sang Raja sangat sedih mendengar berita kematian burung parakeetnya, sebab tidak akan ada lagi yang meng­hi­burnya. Meskipun sang Raja masih memiliki burung parakeet yang lain, tetapi suaranya tidak semerdu si Parkit. Karena si Parkit tidak bisa tertolong lagi, “Siapkan upacara penguburan! Kuburkan burung parakeetku itu dengan baik!” perintah sang Raja. “Siap, Tuanku! Hamba laksanakan!” sahut Petugas Istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguburan si Parkit akan dilaksanakan dengan upacara kebesaran kerajaan. Pada saat persiapan penguburan, si Parkit dikeluarkan dari sangkarnya karena dianggap sudah mati. Ketika ia melihat semua orang sibuk, dengan cepatnya ia terbang setinggi-tingginya. Di udara ia berteriak dengan riang gembira, “Aku bebaasss...!!! Aku bebaasss....!!!. Orang-orang hanya terheran-heran melihat si Parkit yang dikira sudah mati itu bisa terbang tinggi. Akhirnya si Parkit yang cerdik itu bebas terbang ke hutan belantara tempat tinggalnya dulu yang ia cintai. Kedatangan si Parkit pun disambut dengan meriah oleh rakyatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Si Parkit, Raja Parakeet, kembali tempat tinggalnya. (SM/sas/1/6-07) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sumber: &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ari Wulandari. Pakit Raja Parakeet. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Adicita Karya Nusa, 2003. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-7646842204326650735?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/7646842204326650735/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/si-parkit-raja-parakeet.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/7646842204326650735'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/7646842204326650735'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/si-parkit-raja-parakeet.html' title='Si Parkit Raja Parakeet'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjXVrBIzCI/AAAAAAAAACc/LMi6W12owKc/s72-c/Si+Parkit+Raja+Parakeet.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-1542458805661011975</id><published>2009-12-28T22:59:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T23:03:19.948+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nanggroe Aceh Darussalam'/><title type='text'>Banta Berensyah</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjWqrwGr-I/AAAAAAAAACU/KZZwO0SHQew/s1600-h/Banta+Berensyah.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 289px; FLOAT: left; HEIGHT: 242px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420318180327731170" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjWqrwGr-I/AAAAAAAAACU/KZZwO0SHQew/s320/Banta+Berensyah.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Banta Berensyah adalah seorang anak laki-laki yatim dan miskin. Ia sangat rajin bekerja dan selalu bersabar dalam menghadapi berbagai hinaan dari pamannya yang bernama Jakub. Berkat kerja keras dan kesabarannya menerima hinaan tersebut, ia berhasil menikah dengan seorang putri raja yang cantik jelita dan dinobatkan menjadi raja. Bagaimana kisahnya? Ikuti cerita Banta Berensyah berikut ini!&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, di sebuah dusun terpencil di daerah Nanggro Aceh Darussalam, hiduplah seorang janda bersama seorang anak laki-lakinya yang bernama Banta Berensyah. Banta Berensyah seorang anak yang rajin dan mahir bermain suling. Kedua ibu dan anak itu tinggal di sebuah gubuk bambu yang beratapkan ilalang dan beralaskan dedaunan kering dengan kondisi hampir roboh. Kala hujan turun, air dengan leluasa masuk ke dalamnya. Bangunan gubuk itu benar-benar tidak layak huni lagi. Namun apa hendak dibuat, jangankan biaya untuk memperbaiki gubuk itu, untuk makan sehari-hari pun mereka kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bertahan hidup, ibu dan anak itu menampi sekam di sebuah kincir padi milik saudaranya yang bernama Jakub. Jakub adalah saudagar kaya di dusun itu. Namun, ia terkenal sangat kikir, loba, dan tamak. Segala perbuatannya selalu diperhitungkan untuk mendapatkan keuntungan sendiri. Terkadang ia hanya mengupahi ibu Banta Berensyah dengan segenggam atau dua genggam beras. Beras itu hanya cukup dimakan sehari oleh janda itu bersama anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, janda itu berangkat sendirian ke tempat kincir padi tanpa ditemani Banta Berensyah, karena sedang sakit. Betapa kecewanya ia saat tiba di tempat itu. Tak seorang pun yang menumbuk padi. Dengan begitu, tentu ia tidak dapat menampi sekam dan memperoleh upah beras. Dengan perasaan kecewa dan sedih, perempuan paruh baya itu kembali ke gubuknya. Setibanya di gubuk, ia langsung menghampiri anak semata wayangnya yang sedang terbaring lemas. Wajah anak itu tampak pucat dan tubuhnya menggigil, karena sejak pagi perutnya belum terisi sedikit pun makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu...! Banta lapar,” rengek Banta Berensyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Janda itu hanya terdiam sambil menatap lembut anaknya. Sebenarnya, hati kecilnya teriris-iris mendengar rengekan putranya itu. Namun, ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena tidak ada sama sekali makanan yang tersisa. Hanya ada segelas air putih yang berada di samping anaknya. Dengan perlahan, ia meraih gelas itu dan mengulurkannya ke mulut Banta Berensyah. Seteguk demi seteguk Banta Berensyah meminum air dari gelas itu sebagai pengganti makanan untuk menghilangkan rasa laparnya. Setelah meminum air itu, Banta merasa tubuhnya sedikit mendapat tambahan tenaga. Dengan penuh kasih sayang, ia menatap wajah ibunya. Lalu, perlahan-lahan ia bangkit dari tidurnya seraya mengusap air mata bening yang keluar dari kelopak mata ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa ibu menangis?” tanya Banta dengan suara pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut perempuan paruh baya itu belum bisa berucap apa-apa. Dengan mata berkaca-kaca, ia hanya menghela nafas panjang. Banta pun menatap lebih dalam ke arah mata ibunya. Sebenarnya, ia mengerti alasan kenapa ibunya menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu! Banta tahu mengapa Ibu meneteskan air mata. Ibu menangis karena sedih tidak memperoleh upah hari ini,” ungkap Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, Bu! Banta tahu, Ibu sudah berusaha keras mencari nafkah agar kita bisa makan. Barangkali nasib baik belum berpihak kepada kita,” bujuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ucapan Banta Berensyah, perempuan paruh baya itu tersentak. Ia tidak pernah mengira sebelumnya jika anak semata wayangnya, yang selama ini dianggapnya masih kecil itu, ternyata pikirannya sudah cukup dewasa. Dengan perasaan bahagia, ia merangkul tubuh putranya sambil meneteskan air mata. Perasaan bahagia itu seolah-olah telah menghapus segala kepedihan dan kelelahan batin yang selama ini membebani hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banta, Anakku! Ibu bangga sekali mempunyai anak sepertimu. Ibu sangat sayang kepadamu, Anakku,” ucap Ibu Banta dengan perasaan haru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih sayang dan perhatian ibunya itu benar-benar memberi semangat baru kepada Banta Berensyah. Tubuhnya yang lemas, tiba-tiba kembali bertenaga. Ia kemudian menatap wajah ibunya yang tampak pucat. Ia sadar bahwa saat ini ibunya pasti sedang lapar. Oleh karena itu, ia meminta izin kepada ibunya hendak pergi ke rumah pamannya, Jakub, untuk meminta beras. Namun, ibunya mencegahnya, karena ia telah memahami perangai saudaranya yang kikir itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan, Anakku! Bukankah kamu tahu sendiri kalau pamanmu itu sangat perhitungan. Ia tentu tidak akan memberimu beras sebelum kamu bekerja,” ujar Ibu Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banta mengerti, Bu! Tapi, apa salahnya jika kita mencobanya dulu. Barangkali paman akan merasa iba melihat keadaan kita,” kata Banta Berensyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali ibunya mencegahnya, namun Banta Berensyah tetap bersikeras ingin pergi ke rumah pamannya. Akhirnya, perempuan yang telah melahirkannya itu pun memberi izin. Maka berangkatlah Banta Berensyah ke rumah pamannya. Saat ia masuk ke pekarangan rumah, tiba-tiba terdengar suara keras membentaknya. Suara itu tak lain adalah suara pamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, anak orang miskin! Jangan mengemis di sini!” hardik saudagar kaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paman, kasihanilah kami! Berikanlah kami segenggam beras, kami lapar!” iba Banta Berensyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, persetan dengan keadaanmu itu. Kalian lapar atau mati sekalian pun, aku tidak perduli!” saudagar itu kembali menghardiknya dengan kata-kata yang lebih kasar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa kecewa dan sakitnya hati Banta Berensyah. Bukannya beras yang diperoleh dari pamannya, melainkan cacian dan makian. Ia pun pulang ke rumahnya dengan perasaan sedih dan kesal. Tak terasa, air matanya menetes membasahi kedua pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang, Banta Berensyah mendengar kabar dari seorang warga bahwa raja di sebuah negeri yang letaknya tidak berapa jauh dari dusunnya akan mengadakan sayembara. Raja negeri itu mempunyai seorang putri yang cantik jelita nan rupawan. Ia bagaikan bidadari yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Kulitnya sangat halus, putih, dan bersih. Saking putihnya, kulit putri itu seolah-olah tembus pandang. Jika ia menelan makanan, seolah-olah makanan itu tampak lewat ditenggorokannya. Itulah sebabnya ia diberi nama Putri Terus Mata. Setiap pemuda yang melihat kecantikannya pasti akan tergelitik hasratnya untuk mempersuntingnya. Sudah banyak pangeran yang datang meminangnya, namun belum satu pun pinangan yang diterima. Putri Terus Mata akan menerima lamaran bagi siapa saja yang sanggup mencarikannya pakaian yang terbuat dari emas dan suasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kabar itu, Banta Berensyah timbul keinginannya untuk mengandu untung. Ia berharap dengan menikah dengan sang Putri, hidupnya akan menjadi lebih baik. Siapa tahu ia bernasib baik, pikirnya. Ia pun bergegas pulang ke gubuknya untuk menemui ibunya. Setibanya di gubuk, ia langsung duduk di dekat ibunya. Sambil mendekatkan wajahnya yang sedikit pucat karena lapar, Banta Berensyah menyampaikan perihal hasratnya mengikuti sayembara tersebut kepada ibunya. Ia berusaha membujuk ibunya agar keinginannya dikabulkan.&lt;br /&gt;“Bu! Banta sangat sayang dan ingin terus hidup di samping ibu. Ibu telah berusaha memberikan yang terbaik untuk Banta. Kini Banta hampir beranjak dewasa. Saatnya Banta harus bekerja keras memberikan yang terbaik untuk Ibu. Jika Ibu merestui niat tulus ini, izinkanlah Banta merantau untuk mengubah nasib hidup kita!” pinta Banta Berensyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan paruh baya itu tak mampu lagi menyembunyikan kekagumannya kepada anak semata wayangnya itu. Ia pun memeluk erat Banta dengan penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banta, Anakku! Kamu adalah anak yang berbakti kepada orangtua. Jika itu sudah menjadi tekadmu, Ibu mengizinkanmu walaupun dengan berat hati harus berpisah denganmu,” kata perempuan paruh baya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, bagaimana kamu bisa merantau ke negeri lain, Anakku? Apa bekalmu di perjalanan nanti? Jangankan untuk ongkos kapal dan bekal, untuk makan sehari-hari pun kita tidak punya,” tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu tidak perlu memikirkan masalah itu. Cukup doa dan restu Ibu menyertai Banta,” kata Banta Berensyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapat restu dari ibunya, Banta Berensyah pun pergi ke sebuah tempat yang sepi untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Setelah semalam suntuk berdoa dengan penuh khusyuk, akhirnya ia pun mendapat petunjuk agar membawa sehelai daun talas dan suling miliknya ke perantauan. Daun talas itu akan ia gunakan untuk mengarungi laut luas menuju ke tempat yang akan ditujunya. Sedangkan suling itu akan ia gunakan untuk menghibur para tukang tenun untuk membayar biaya kain emas dan suasa yang dia perlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, usai berpamitan kepada ibunya, Banta Berensyah pun pergi ke rumah pamannya, Jakub. Ia bermaksud meminta tumpangan di kapal pamannya yang akan berlayar ke negeri lain. Setibanya di sana, ia kembali dibentak oleh pamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa lagi kamu kemari, hai anak malas!” seru sang Paman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paman! Bolehkah Ananda ikut berlayar sampai ke tengah laut?” pinta Banta Berensyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakub tersentak mendengar permintaan aneh dari Banta Berensyah. Ia berpikir bahwa kemanakannya itu akan bunuh diri di tengah laut. Dengan senang hati, ia pun mengizinkannya. Ia merasa hidupnya akan aman jika anak itu telah mati, karena tidak akan lagi datang meminta-minta kepadanya. Akhirnya, Banta Berensyah pun ikut berlayar bersama pamannya. Begitu kapal yang mereka tumpangi tiba di tengah-tengah samudra, Banta meminta kepada pamannya agar menurunkannya dari kapal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Paman! Perjalanan Nanda bersama Paman cukup sampai di sini. Tolong turunkan Nanda dari kapal ini!” pinta Banta Betensyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudagar kaya itu pun segera memerintahkan anak buahnya untuk menurunkan Banta ke laut. Namun sebelum diturunkan, Banta mengeluarkan lipatan daun talas yang diselempitkan di balik pakaiannya. Kemudian ia membuka lipatan daun talas itu seraya duduk bersila di atasnya. Melihat kelakuan Banta itu, Jakub menertawainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha... ha... ha...! Dasar anak bodoh!” hardik saudagar kaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pengawal! Turunkan anak ini dari kapal! Biarkan saja dia mati dimakan ikan besar!” serunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, betapa terkejutnya saudagar kaya itu dan para anak buahnya setelah menurunkan Banta Berensyah ke laut. Ternyata, sehelai daun talas itu mampu menahan tubuh Banta Berensyah di atas air. Dengan bantuan angin, daun talas itu membawa Banta menuju ke arah barat, sedangkan pamannya berlayar menuju ke arah utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhari-hari terombang-ambing di atas daun talas dihempas gelombang samudra, Banta Berensyah tiba di sebuah pulau. Saat pertama kali menginjakkan kaki di pulau itu, ia terkagum-kagum menyaksikan pemandangan yang sangat indah dan memesona. Hampir di setiap halaman rumah penduduk terbentang kain tenunan dengan berbagai motif dan warna sedang dijemur. Rupanya, hampir seluruh penduduk di pulau itu adalah tukang tenun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banta pun mampir ke salah satu rumah penduduk untuk menanyakan kain emas dan suasa yang sedang dicarinya. Namun, penghuni rumah itu tidak memiliki jenis kain tersebut. Ia pun pindah ke rumah tukang tenun di sebelahnya, dan ternyata si pemilik rumah itu juga tidak memilikinya. Berhari-hari ia berkeliling kampung dan memasuki rumah penduduk satu persatu, namun kain yang dicarinya belum juga ia temukan. Tinggal satu rumah lagi yang belum ia masuki, yaitu rumah kepala kampung yang juga tukang tenun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tok... Tok... Tok.. ! Permisi, Tuan!” seru Banta Berensyah setelah mengetuk pintu rumah kepala kampung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki paruh baya membuka pintu dan mempersilahkannya masuk ke dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada yang bisa kubantu, Anak Muda?” tanya kampung itu bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memperkenalkan diri dan menceritakan asal-usulnya, Banta pun menyampaikan maksud kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Tuan! Kedatangan saya kemari ingin mencari kain tenun yang terbuat dari emas dan suasa. Jika Tuan memilikinya, bolehkah saya membelinya?” pinta Banta Berensyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala kampung itu tersentak kaget mendengar permintaan Banta, apalagi setelah melihat penampilan Banta yang sangat sederhana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Banta! Dengan apa kamu bisa membayar kain emas dan suasa itu? Apakah kamu mempunyai uang yang cukup untuk membayarnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Tuan! Saya memang tidak mampu membayarnya dengan uang. Tapi, jika Tuan berkenan, bolehkah saya membayarnya dengan lagu?” pinta Banta Berensyah seraya mengeluarkan sulingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat keteguhan hati Banta Berensyah hendak memiliki kain tenun tersebut, kepala kampung itu kembali bertanya kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banta! Kalau boleh saya tahu, kenapa kamu sangat menginginkan kain itu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banta pun menceritakan alasannya sehingga ia harus berjuang untuk mendapatkan kain tersebut. Karena iba mendengar cerita Banta, akhirnya kepala kampung itu memenuhi permintaannya. Dengan keahliannya, Banta pun memainkan sulingnya dengan lagu-lagu yang merdu. Kepala kampung itu benar-benar terbuai menikmati senandung lagu yang dibawakan Banta. Setelah puas menikmatinya, ia pun memberikan kain emas dan suasa miliknya kepada Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sangat mahir bermain suling, Banta! Kamu pantas mendapatkan kain emas dan suasa ini,” ujar kepala kampung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Terima kasih, Tuan! Banta sangat berhutang budi kepada Tuan. Banta akan selalu mengingat semua kebaikan hati Tuan,” kata Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapatkan kain emas dan suasa tersebut, Banta pun meninggalkan pulau itu. Ia berlayar mengarungi lautan luas menuju ke kampung halamannya dengan menggunakan daun talas saktinya. Hati anak muda itu sangat gembira. Ia tidak sabar lagi ingin menyampaikan berita gembira itu kepada ibunya dan segera mempersembahkan kain emas dan suasa itu kepada Putri Terus Mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, nasib malang menimpa Banta. Ketika sampai di tengah laut, ia bertemu dan ikut dengan kapal Jakub yang baru saja pulang berlayar dari negeri lain. Saat ia berada di atas kapal itu, kain emas dan suasa yang diperolehnya dengan susah payah dirampas oleh Jakub. Setelah kainnya dirampas, ia dibuang ke laut. Dengan perasaan bangga, Jakub membawa pulang kain tersebut untuk mempersunting Putri Terus Mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Banta yang hanyut terbawa arus gelombang laut terdampar di sebuah pantai dan ditemukan oleh sepasang suami-istri yang sedang mencari kerang. Sepasang suami-istri itu pun membawanya pulang dan mengangkatnya sebagai anak. Setelah beberapa lama tinggal bersama kedua orang tua angkatnya tersebut, Banta pun memohon diri untuk kembali ke kampung halamannya menemui ibunya dengan menggunakan daun talas saktinya. Setiba di gubuknya, ia pun disambut oleh ibunya dengan perasaan suka-cita. Kemudian, Banta pun menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan Banta, Bu! Sebenarnya Banta telah berhasil mendapatkan kain emas dan suasa itu, tetapi Paman Jakub merampasnya,” Banta bercerita kepada ibunya dengan perasaan kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, Anakku! Ibu mengerti perasaanmu. Barangkali belum nasibmu mempersunting putri raja,” ujar Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Bu! Banta harus mendapatkan kembali kain emas dan suasa itu dari Paman. Kain itu milik Banta,” kata Banta dengan tekad keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Semuanya sudah terlambat, Anakku!” sahut ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksud Ibu berkata begitu?” tanya Banta penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah, Anakku! Pamanmu memang sungguh beruntung. Saat ini, pesta perkawinannya dengan putri raja sedang dilangsungkan di istana,” ungkap ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa berpikir panjang, Banta segera berpamitan kepada ibunya lalu bergegas menuju ke tempat pesta itu dilaksanakan. Namun, setibanya di kerumunan pesta yang berlangsung meriah itu, Banta tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai bukti untuk menunjukkan kepada raja dan sang Putri bahwa kain emas dan suasa yang dipersembahkan Jakub itu adalah miliknya. Sejenak, ia menengadahkan kedua tangannya berdoa meminta pertolongan kepada Tuhan Yang Mahakuasa. Begitu ia selesai berdoa, tiba-tiba datanglah seekor burung elang terbang berputar-putar di atas keramaian pesta sambil berbunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Klik.. klik... klik... kain emas dan suasa itu milik Banta Berensyah...!!! Klik... klik.. klik... kain emas dan suasa itu milik Banta Berensyah...!!!” demikian bunyi elang itu berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar bunyi elang itu, seisi istana menjadi gempar. Suasana pesta yang meriah itu seketika menjadi hening. Bunyi elang itu pun semakin jelas terdengar. Akhirnya, Raja dan Putri Terus Mata menyadari bahwa Jakub adalah orang serakah yang telah merampas milik orang lain. Sementara itu Jakub yang sedang di pelaminan mulai gelisah dan wajahnya pucat. Karena tidak tahan lagi menahan rasa malu dan takut mendapat hukuman dari Raja, Jakub melarikan diri melalui jendela. Namun, saat akan meloncat, kakinya tersandung di jendela sehingga ia pun jatuh tersungkur ke tanah hingga tewas seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah peristiwa itu, Banta Berensyah pun dinikahkan dengan Putri Terus Mata. Pesta pernikahan mereka dilangsungkan selama tujuh hari tujuh malam dengan sangat meriah. Tidak berapa lama setelah mereka menikah, Raja yang merasa dirinya sudah tua menyerahkan jabatannya kepada Banta Berensyah. Banta Berensyah pun mengajak ibunya untuk tinggal bersamanya di istana. Akhirnya, mereka pun hidup berbahagia bersama seluruh keluarga istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita dongeng Banta Berensyah dari daerah Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Sedikitnya ada dua pelajaran penting yang dapat dipetik dari kisah di atas. Pertama, orang yang senantiasa berusaha dan bekerja keras, pada akhirnya akan memperoleh keberhasilan. Sebagaimana ditunjukkan oleh perilaku Banta Berensyah, berkat kerja keras dan kesabarannya, ia berhasil mempersunting putri raja dan menjadi seorang raja. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wahai ananda cahaya mata,&lt;br /&gt;rajin dan tekun dalam bekerja&lt;br /&gt;penat dan letih usah dikira&lt;br /&gt;supaya kelak hidupmu sejahtera&lt;br /&gt;Pelajaran kedua yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang kaya yang kikir dan serakah seperti Jakub, pada akhirnya akan mendapat balasan yang setimpal. Ia tewas akibat keserakahannya. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa tanda orang tamak,&lt;br /&gt;karena harta marwah tercampak&lt;br /&gt;(Samsuni/sas/150/06-09)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sumber:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;•Isi cerita diadaptasi dari L. K. Ara. 1999. “Banta Berensyah,” dalam Cerita Rakyat dari Aceh. Jakarta: Grasindo.&lt;br /&gt;•-Anonim. “Nanggroe Aceh Darussalam, http://id.wikipedia.org/wiki/Nanggroe_Aceh_Darussalam, diaskes pada tanggal 23 Juni 2000.&lt;br /&gt;•Effendy, Tenas. 2006. Tunjuk Ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu bekerja sama dengan Penerbit AdiCita Karya Nusa.&lt;br /&gt;•Effendy, Tenas. 1994/1995. “Ejekan” terhadap Orang Melayu Riau dan Pantangan Orang Melayu Riau. Pekanbaru: Bappeda Tingkat I Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-1542458805661011975?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/1542458805661011975/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/banta-berensyah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/1542458805661011975'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/1542458805661011975'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/banta-berensyah.html' title='Banta Berensyah'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjWqrwGr-I/AAAAAAAAACU/KZZwO0SHQew/s72-c/Banta+Berensyah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-8169022261421128400</id><published>2009-12-28T22:57:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:58:59.214+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nanggroe Aceh Darussalam'/><title type='text'>Banta Seudang</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjVtEmkZZI/AAAAAAAAACM/4VrIeNXoT_Q/s1600-h/Banta+Seudang1.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 291px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjVtEmkZZI/AAAAAAAAACM/4VrIeNXoT_Q/s320/Banta+Seudang1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420317121846732178" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Banta Seudang adalah putra Raja Kerajaan Aceh. Ia bersama ayah dan ibunya dicampakkan oleh Pakciknya sendiri, karena ayahnya buta dan tidak dapat lagi melaksanakan tugas-tugas kerajaan. Suatu ketika, Banta Seudang pergi merantau untuk mencari obat mata untuk ayahnya dengan harapaan dapat kembali menjadi raja. Berhasilkah Banta Seudang menemukan obat mata untuk ayahnya? Kisahnya dapat Anda ikuti dalam cerita Banta Seudang berikut ini.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aliksah, di Negeri Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia, hiduplah seorang Raja yang adil dan bijaksana. Sang Raja mempunyai seorang permaisuri yang sedang hamil tua. Suatu ketika, sang Raja pergi berburu binatang ke hutan. Ketika itulah permaisurinya melahirkan seorang anak laki-laki yang tampan di istana, dan diberinya nama Banta Seudang. Namun, malang nasib bagi sang Raja, karena ia tidak bisa melihat wajah tampan putranya. Kedua matanya buta terkena ranting kayu saat berburu di hutan. Sejak saat itu, ia tidak dapat melaksanakan tugas-tugas kerajaan lagi. Oleh karena Banta Seudang masih bayi, maka tahta kerajaan ia serahkan untuk sementara kepada adik kandungnya. Namun, sang Adik yang baru diangkat menjadi raja itu sangat licik dan serakah. Ia membuatkan sebuah rumah agak jauh dari istana untuk tempat tinggal kakaknya bersama istri dan Banta Seudang. Raja baru itu setiap hari mengirim bantuan makanan untuk kebutuhan sehari-hari sang Kakak bersama keluarganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berjalan. Banta Seudang tumbuh menjadi remaja yang tampan. Ia pun mulai bertanya-tanya kepada ibunya tentang siapa yang memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari, padahal ayahnya buta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaf, Ibu! Bolehkah aku bertanya sesuatu kepada Ibu,” kata Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Anakku? Katakanlah!” seru sang Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari mana kita mendapat makanan setiap hari, padahal Ayah tidak pernah bekerja?” tanya Banta ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah, Anakku! Kebutuhan hidup sehari-hari kita dibantu oleh Pakcikmu yang kini menjadi Raja,” jawab ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pakcik baik hati sekali ya Bu,” kata Banta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Anakku!” jawab sang Ibu sambil tersenyum seraya membelai-belai rambut si Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, sang Ibu bersama Banta Seudang pergi menghadap sang Raja. Di hadapan Raja, sang Ibu memohon kepada Raja untuk membantu Banta Seudang agar bisa bersekolah. Namun, permohonan sang Ibu ditolak oleh sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dasar kalian tidak tahu diri! Dikasih sedepa minta sejengkal pula. Bukankah semua kebutuhan hidup sehari-hari kalian telah aku penuhi!” bentak sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah sedihnya hati sang Ibu mendengar bentakan itu. Ia pun mengajak Banta kembali ke rumah. Sesampainya di rumah, Banta Seudang berusaha menenangkan hati ibunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, Bu! Ibu tidak usah bersedih begitu. Kita seharusnya bersyukur karena Pakcik sudah banyak membantu kita,” bujuk si Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Banta! Kamu memang Anakku yang baik. Tapi, kamu harus sekolah seperti teman-teman sebayamu,” kata sang Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar perkataan itu, si Banta tiba-tiba berpikir bahwa apa yang dikatakan ibunya itu benar. Maka timbullah pikirannya untuk mencari obat mata untuk ayahnya. Jika kelak ayahnya bisa melihat lagi, tentu sang Ayah bisa mencari nafkah sendiri dan dapat membantu biaya sekolahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Banta Seudang menyampaikan niatnya kepada ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, Banta ingin pergi mencari obat mata untuk Ayah agar dapat kembali bekerja seperti biasanya dan Banta pun bisa sekolah,” ungkap Banta Seudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, Anakku! Ibu merestuimu. Pergilah mencari obat mata untuk Ayahmu. Ibu doakan semoga kamu berhasil,” kata sang Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ibu pun menyampaikan maksud Banta tersebut kepada ayah Banta. Dengan senang hati, sang Ayah pun merestui perjalanan Banta mencari obat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, dengan bekal seperlunya, berangkatlah Banta Seudang untuk mencari obat. Ia berjalan seorang diri menyusuri hutan belantara, menyeberangi sungai, menaiki gunung, dan menuruni lembah-lembah. Setelah berbulan-bulan berjalan, ia pun tiba di sebuah hutan rimba yang dipenuhi oleh pohon-pohon besar. Di tengah hutan itu, ia menemukan sebuah balai. Ia pun memutuskan untuk melepas lelah di balai itu. Ketika sedang merebahkan tubuhnya, tiba-tiba hatinya bertanya-tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Kenapa ada balai di tengah hutan ini? Wah, pasti ada orang yang tinggal di sekitar sini,” pikirnya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata benar. Menjelang waktu Ashar, tiba-tiba beberapa orang berjubah putih datang ke balai itu. Mereka lalu melakukan shalat secara berjamaah. Dengan hati bertanya-tanya, Banta hanya diam sambil memerhatikan perilaku orang-orang tersebut. Beberapa saat kemudian, Banta tiba-tiba melihat sebuah peristiwa ajaib. Begitu selesai shalat, orang-orang yang berjubah putih tersebut tiba-tiba menghilang dari pandangan matanya. Rupanya, Banta tidak tahu bahwa mereka itu adalah arwah-arwah para Aulia (Wali) Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menyaksikan peristiwa itu, Banta kemudian berpikir akan mendekati imamnya ketika para Wali tersebut melaksanakan shalat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika mereka selesai shalat, aku akan langsung memegang tangan sang Imam agar tidak menghilang,” pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banta Seudang pun tinggal di balai itu menunggu kedatangan para Wali. Ketika waktu shalat Magrib tiba, para Wali tersebut datang untuk melaksanakan shalat. Banta Seudang pun segera duduk di samping imam. Begitu imam selesai shalat, ia langsung memegang tangannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Anak Muda! Kenapa kamu memegang tanganku?” tanya imam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Maaf, Tuan! Saya memegang tangan Tuan supaya tidak menghilang,” jawab Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau saya boleh bertanya, siapakah Tuan-tuan ini sebenarnya? Kenapa Tuan-tuan bisa tiba-tiba muncul dan menghilang begitu saja?” tanya Banta heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami adalah para Aulia Allah,” jawab imam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engkau sendiri siapa? Kenapa bisa berada di tempat ini?” imam itu balik bertanya kepada Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya Banta Seudang, Tuan! Saya hendak mencari obat mata untuk Ayah saya,” jawab Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Memang kenapa mata Ayahmu?” tanya imam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mata ayah saya buta, Tuan! Saya ingin agar mata Ayah saya bisa melihat lagi,” jawab Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Engkau adalah anak yang berbakti. Baiklah kalau begitu, kamu tunggu di sini saja. Nanti akan datang gajah putih ke balai ini. Ikuti gajah putih itu ke mana pun pergi,” ujar sang Imam dan langsung menghilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa senang hati Banta Seudang mendapat petunjuk dari Wali itu. Tidak berapa lama ia menunggu, tiba-tiba datanglah seekor gajah putih ke balai itu. Setelah mendapat isyarat dari gajah itu, Banta pun segera naik ke atas punggung gajah. Sang gajah berjalan menyusuri hutan belantara menuju ke sebuah lembah di mana terdapat sebuah sungai yang sangat jernih airnya. Di pinggir sungai terdapat sebuah pohon besar yang dihuni oleh Jin Pari yang memiliki baju terbang. Melihat kedatangan Banta bersama gajah putih itu, Jin Pari pun segera menyambut mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan takut, Anak Muda! Aku sudah tahu maksud kedatanganmu kemari. Kamu ingin mencari obat mata untuk Ayahmu bukan?” tanya Jin Pari kepada Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar, Jin Pari!” jawab Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah kalau begitu. Aku tahu cara untuk menyembuhkan mata Ayahmu. Di tengah sungai itu, terdapat sebuah bunga ajaib, namanya bunga bangkawali,” ungkap Jin Pari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana saya bisa mendapatkannya, Jin?” tanya Banta bingung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jin Pari pun bercerita kepada Banta Seudang bahwa setiap jumat ada tujuh putri raja dari negeri lain datang ke sungai itu untuk mandi-mandi. Untuk menjaga sungai itu, raja negeri lain menugaskan seorang perempuan tua bernama Mak Toyo. Ia tinggal di sekitar sungai itu. Setiap kali ketujuh putri raja selesai mandi di sungai itu, Mak Toyo turun ke sungai untuk menepuk air tiga kali. Setelah itu bunga ajaib ‘bangkawali’ akan muncul di atas permukaan air. Jadi, bunga bangkawali hanya bisa terlihat pada setiap hari jumat sesuai Mak Toyo menepuk air tiga kali. Untuk mendapatkan bunga ajaib itu harus meminta bantuan kepada Mak Toyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam, Jin Pari bersama Banta Seudang mendatangi tempat tinggal Mak Toyo. Mak Toyo pun bersedia membantu untuk mendapatkan bawangkawali itu, tapi dengan satu syarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cucuku, jika ingin mendapatkan bunga bangkawali itu, kamu harus mengambilnya sendiri dengan berenang ke tengah sungai itu,” ujar Mak Toyo kepada Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapat penjelasan dari Mak Toyo, Jin Pari dan Banta pun mohon diri. Untuk melaksanakan syarat Mak Toyo, Banta harus menunggu hingga hari jumat. Maka ketika hari jumat tiba, ketujuh putri raja yang cantik-cantik tersebut datang dengan baju terbang mereka hendak mandi di sungai. Usai berganti pakaian, mereka lalu turun ke sungai. Mereka berenang sambil tertawa bersuka ria. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hari menjelang sore, ketujuh putri raja pun selesai mandi. Mereka pun segera mengenakan baju terbang masing-masing lalu terbang ke angkasa. Mak Toyo pun segera turun ke sungai lalu menepuk air tiga kali. Setelah itu, muncullah bunga bangkawali di atas permukaan air sungai. Banta Seudang pun segera terjun ke dalam sungai. Dengan susah payah, ia berenang ke tengah sungai untuk mengambil bunga bangkawali tersebut. Setelah mendapatkan bunga bangkawali tersebut, Banta Seudang kembali berenang menuju ke tepi sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mak Toyo! Aku sudah mendapatkan bunga bangkawali. Terima atas kebaikan, Mak!” ucap Banta Seudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, sama-sama. Segeralah bawa bunga ajaib itu untuk Ayahmu!” kata Mak Toyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Banta Seudang berpamitan kepada Mak Toyo dan Jin Pari. Namun karena mengetahui yang akan ditempuh Banta Seudang sangat jauh dan membutuhkan waktu yang cukup lama, maka Maka Toyo dan Jin Pari pun bersepakat untuk mengantar Banta Seudang. Jin Pari dan Banta Seudang terbang dengan menggunakan baju terbang, sedangkan Mak Toyo menunggangg gajah putih. Dalam waktu sehari, mereka pun tiba di negeri Banta Seudang. Mereka tiba ketika hari mulai sudah gelap. Banta Seudang melihat rumahnya sepi dan tampak gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, Ibu! Banta pulang membawa obat mata untuk Ayah!” teriak Banta Seudang memanggil kedua orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, masuklah Anakku! Ibu sedang sibuk memperbaiki lampu minyak,” teriak sang Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banta Seudang pun masuk ke dalam rumah bersama Mak Toyo dan Jin Pari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa gelap begini? Kenapa dengan lampu minyaknya, Bu?” tanya Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lampunya kehabisan minyak. Ibu baru mengisinya,” jawab sang Ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, lampu minyaknya pun menyala. Sang Ibu segera memeluk Banta Seudang karena sudah lama sekali merindukannya. Banta Seudang pun memperkenalkan Mak Toyo dan Jin Pari kepada kedua orangtuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bu, ini Mak Toyo dan Jin Pari. Merekalah yang telah membantu Banta mendapatkan obat mata untuk Ayah,” jelas Banta Seudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu Banta Seudang pun tidak lupa berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari yang telah membantu Banta Seudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana keadaan Ayah dan Ibu selama Banta pergi?” Banta Seudang kembali bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan Banta, sang Ibu terdiam sejenak. Dengan wajah sedih, sang Ibu kemudian bercerita bahwa selama kepergian Banta Seudang, Pakciknya tidak pernah membantu mereka lagi. Terpaksalah sang Ibu harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan mereka. Betapa sedih dan terharunya Banta Seudang mendengar cerita sang Ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Anakku! Pakcikmu memang sungguh keterlaluan dan tidak tahu diri. Sejak kamu pergi, dia tidak pernah lagi memberi kami makanan. Seandainya Ayah tidak buta begini, Ayah pasti sudah menghajarnya,” sahut sang Ayah dengan geram. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sabarlah, Ayah! Banta membawakan obat mata untuk Ayah,” kata Banta menenangkan hati sang Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah keadaan tenang, Banta Seudang segera mengambil semangkuk air, lalu mencelupkan bunga bangkawali yang ia bawa ke dalam mangkuk. Setelah beberapa saat, ia mengusapkan air dari mangkuk itu ke mata ayahnya hingga tiga kali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah! Cobalah buka mata Ayah pelan-pelan!” pinta Banta Seudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Ayah pun pelan-pelan membuka matanya. Sungguh ajaib, matanya dapat melihat seketika. Alangkah bahagianya sang Ayah dapat melihat wajah putranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sejak kamu dilahirkan, barulah kali ini Ayah bisa melihat wajahmu, Anakku! Ayah sangat bangga padamu. Berkat usaha dan perjuanganmu, mata Ayah dapat melihat kembali seperti semula,” ucap sang Ayah seraya merangkul Banta Seudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seharusnya, Ayah berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari, karena merekalah yang telah membantu Banta mendapatkan bunga bangkawali itu,” kata Banta Seudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berterima kasih kepada Mak Toyo dan Jin Pari, sang Ayah pun berniat untuk merebut kembali kekuasaannya dari tangan adiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ketahuilah, Anakku! Sebenarnya, Ayah adalah Raja negeri ini. Sejak mata Ayah buta akibat terkena ranting kayu ketika berburu di hutan, kerajaan Ayah serahkan kepada Pakcikmu. Namun, ketika menjadi Raja, Pakcikmu telah lupa diri dan mencampakkan kita,” ungkap sang Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa terkejutnya Banta Seudang mendengar penjelasan ayahnya. Ia baru mengerti bahwa ternyata ayahnya adalah seorang raja. Selama ini ia mengira bahwa pakciknya adalah seorang raja yang baik, karena telah memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun, ternyata pakciknya adalah seorang raja yang licik dan serakah. Mengetahui keadaan yang sebenarnya, Bangka Seudang pun berniat untuk membantu ayahnya untuk mengembalikan tahta kerajaan kepada ayahnya. Demikian pula Mak Toyo dan Jin Pari, setelah mendengar cerita ayah Banta Seudang, mereka pun siap untuk membantu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, mereka pun berangkat ke istana. Ayah dan ibu Banta Seudang terbang bersama Jin Pari dengan menggunakan baju terbang. Sedangkan Banta Seudang dan Mak Toyo menunggang gajah putih. Sesampainya di istana, alangkah terkejutnya sang Raja saat melihat kedatangan sang Kakak bersama rombongannya. Apalagi setelah mengetahui kedua mata kakaknya dapat melihat kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa maksud kedatangan Kakak kemari?” tanya sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Adik! Engkau memang Adikku yang tidak tahu diri. Kakak berikan tahta kerajaan ini untuk sementara, tapi Engkau malah mencampakkan Kakak bersama permaisuri dan putraku selama bertahun-tahun. Kini saatnya Kakak harus mengambil kembali tahta kerajaan ini!” seru sang Kakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha... ha... ha...! Akulah penguasa negeri ini. Tidak akan ada yang bisa menggantikanku sebagai Raja. Aku memiliki banyak pengawal dan prajurit. Tapi, kalau Kakak berani merebut kembali tahta ini, hadapi dulu para pengawal dan prajuritku!” seru sang Raja sambil tertawa terbahak-bahak dengan angkuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak Toyo dan Jin Pari yang juga hadir di tempat itu sangat geram melihat keangkuhan sang Raja. Oleh karena mereka mengetahui permasalahan yang sebenarnya, maka tanpa diperintah ayah Banta Seudang, mereka langsung menyerang sang Raja. Dengan satu pukulan saja, sang Raja pun jatuh tersungkur tidak sadarkan diri di depan singgasananya. Para pengawal raja yang melihat peristiwa itu, tak seorang pun yang mau membantu sang Raja, karena mereka juga mengetahui keadaan sebenarnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sadarkan diri, sang Raja bersama keluarganya diusir dari istana. Ayah Banta Seudang pun kembali menjadi raja menggantikan adiknya yang serakah dan angkuh itu. Akhirnya, Banta Seudang bersama keluarganya kembali tinggal di istana dan ia pun bisa bersekolah. Sementara Mak Toyo dan Jin Pari diangkat sebagai pengawal istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian cerita Banta Seudang dari Daerah Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Cerita di atas termasuk kategori dongeng yang mengandung pesan-pesan moral yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Setidaknya ada tiga pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas, yaitu keutamaan sifat berbakti kepada orangtua, ganjaran yang diperoleh dari suka bekerja keras dan akibat buruk dari sifat tidak tahu diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, keutamaan sifat berbakti kepada orangtua. Sifat ini ditunjukkan oleh sifat dan perilaku Banta Seudang yang telah berusaha menyembuhkan mata ayahnya. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa tanda Melayu jati,&lt;br /&gt;kepada ibu bapa ia berbakti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa tanda Melayu menakah,&lt;br /&gt;memelihara ibu bapa tahan bersusah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ganjaran yang diperoleh dari suka bekerja keras. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Banta Seudang. Berkat kerja keras dan kesungguhannya, ia berhasil menyembuhkan mata ayahnya. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;wahai ananda kesayangan ayah,&lt;br /&gt;bekerja jangan ingatkan susah&lt;br /&gt;tahankan olehmu penat dan lelah&lt;br /&gt;supaya kelak hidupmu menakah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, akibat buruk dari sifat tidak tahu diri. Sifat ini ditunjukkan oleh sikap dan perilaku Pakcik Banta Seudang. Ia diberi kekuasaan untuk menduduki tahta kerajaan, malah justru mengabaikan kakaknya. Akibatnya, ia pun diusir dari istana ketika mata kakaknya sembuh dari kebutaan. Dikatakan dalam tunjuk ajar Melayu:&lt;!--[if !supportFootnotes]--&gt;[1]&lt;!--[endif]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa tanda orang celaka,&lt;br /&gt;tak tahu diri besar kepala&lt;br /&gt;bila bercakap mengada-ada&lt;br /&gt;bila bekerja tidak menyudah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;apa tanda orang terbuang,&lt;br /&gt;tak tahu diri iman pun kurang&lt;br /&gt;bergaul tidak tahu menenggang&lt;br /&gt;berjalan seiring ia menendang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Samsuni/sas/126/02-09)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-8169022261421128400?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/8169022261421128400/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/banta-seudang_28.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/8169022261421128400'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/8169022261421128400'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/banta-seudang_28.html' title='Banta Seudang'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjVtEmkZZI/AAAAAAAAACM/4VrIeNXoT_Q/s72-c/Banta+Seudang1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-8650001517271817324</id><published>2009-12-28T22:53:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:54:55.174+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nanggroe Aceh Darussalam'/><title type='text'>Beungong Meulu dan Beungong Peukeun</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjUwrcUuGI/AAAAAAAAACE/jdBm4gfNIH4/s1600-h/Beungong+Meulu+dan+Beungong+Peukeun.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; FLOAT: left; HEIGHT: 243px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420316084300724322" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjUwrcUuGI/AAAAAAAAACE/jdBm4gfNIH4/s320/Beungong+Meulu+dan+Beungong+Peukeun.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman dahulu kala, di s&amp;shy;e&amp;shy;buah negeri di Aceh, hidup dua orang kakak-beradik yang ber&amp;shy;nama Beungong Meulu dan Beungong Peukeun. Kedua orangtua mereka telah meninggal dunia. Tiap hari Beungong Peu&amp;shy;&amp;shy;keun mencari udang di danau. Suatu hari Beungong Peukun tidak mendapat se&amp;shy;ekor udang pun. Saat hendak pulang, dia melihat sebuah benda yang menarik hatinya. Ternyata benda itu sebutir telur.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, direbusnya telur tadi dan dimakannya. Sungguh aneh, keesokan harinya Beungong Peukeun me&amp;shy;rasa sangat haus. Bukan hanya itu, tubuh&amp;shy;nya pun semakin panjang dan bersisik. Akhirnya, suatu pagi saat bangun dari ti&amp;shy;dur&amp;shy;nya Beungong Peukun telah berubah menjadi seekor naga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa Kakak memakan telur itu? Kini kau menjadi seekor naga,” kata Beu&amp;shy;ngong Meulu dengan terisak menyesali per&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;buat&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;an kakaknya. Keesokan harinya Beu&amp;shy;ngong Peukeun mengajak adiknya me&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;ninggal&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;kan gubuk mereka. Sebelum be&amp;shy;r&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;ang&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;kat, Beungong Peukeun menyuruh adik&amp;shy;nya me&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;me&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;tik tiga kuntum bunga di be&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;la&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;kang gubuk mereka. “Ayo, naiklah ke pung&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;gung&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;ku dan peganglah bunga itu erat-erat, jangan sampai jatuh,” perintah Beu&amp;shy;ngong Peukeun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melewati su&amp;shy;ngai besar, Beungong Peukeun meminum air&amp;shy;nya hingga habis. Tiba-tiba muncul seekor na&amp;shy;ga yang marah ka&amp;shy;&amp;shy;re&amp;shy;&amp;shy;na perbuatan Beu&amp;shy;&amp;shy;ngong Peukeun ter&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;sebut. Keduanya ber&amp;shy;tarung se&amp;shy;ngit. Saat Beu&amp;shy;&amp;shy;ngong Peu&amp;shy;kuen me&amp;shy;menangkan per&amp;shy;ta&amp;shy;&amp;shy;rung&amp;shy;&amp;shy;an tersebut se&amp;shy;kuntum bunga di ta&amp;shy;ngan Beungong Meulu menjadi layu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka pun melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan mereka kembali di&amp;shy;ha&amp;shy;&amp;shy;dang seekor naga yang besar. Kembali ter&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;jadi pertarungan. Tiba-tiba sekuntum bu&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;nga di ta&amp;shy;&amp;shy;ngan Beungong Meulu menjadi layu. Tahu&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;lah dia bahwa sebentar lagi per&amp;shy;tarung&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;an akan dimenangkan Beungong Peukeun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menang bertarung, kakak-beradik itu kembali melanjutkan perjalanan me&amp;shy;nyeberangi lautan. Rupanya di tengah per&amp;shy;jalanan menyeberangi lautan tersebut, Beungong Peukeun kembali diserang se&amp;shy;&amp;shy;ekor naga. Kali ini naga yang sangat besar. Saat bunga di tangan Beungong Meulu tak kunjung layu, dia mulai khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beungong Meulu semakin khawatir ketika Beungong Peukeun tampak mulai kewalahan menghadapi serangan sang Naga. Saat mengetahui dirinya akan kalah, Beungong Peukeun melemparkan adiknya dari punggungnya. Akhirnya Beungong Peu&amp;shy;&amp;shy;keun terbunuh oleh serangan naga yang sangat besar itu. Sementara itu, Beu&amp;shy;ngong Meulu terlempar dan tersangkut di se&amp;shy;&amp;shy;buah pohon milik seorang saudagar kaya yang kemudian menikahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang, selama menjadi istri saudagar kaya tersebut, Beungong Meulu tak pernah bicara ataupun tersenyum. Dia selalu diam dan tampak sedih. Bahkan sam&amp;shy;pai mereka mempunyai seorang anak. Suami&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;nya mencari akal untuk mengetahui penye&amp;shy;&amp;shy;bab kesedihan istrinya itu. Maka su&amp;shy;atu hari suaminya berpura-pura mati se&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;hing&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;ga anaknya menangis tersedu-sedu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“O Anakku, ibu tahu bagaimana se&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;dih&amp;shy;&amp;shy;nya hati bila ditinggal orang yang kita cin&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;tai. Ibu dulu kehilangan kakak ibu yang terbunuh oleh seekor naga di laut&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;an. Bah&amp;shy;kan hingga kini ibu tidak dapat meng&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;hi&amp;shy;lang&amp;shy;kan rasa sedih itu.” Mendengar pe&amp;shy;ng&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;akuan Beungong Meulu tersebut su&amp;shy;a&amp;shy;&amp;shy;mi&amp;shy;&amp;shy;nya kemudian bangun. Akhirnya, dia me&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;ngetahui penyebab kesedihan Beu&amp;shy;ngong Meulu. Keesokan harinya dia meng&amp;shy;&amp;shy;ajak Beungong Meulu pergi ke laut&amp;shy;an, di mana dulu Beungong Peukeun ber&amp;shy;tarung melawan naga raksasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat sampai di pantai, Beungong Me&amp;shy;ulu dan suaminya melihat tulang-tulang ber&amp;shy;&amp;shy;s&amp;shy;erakan. Beungong Meulu yakin bahwa itu tulang-tulang kakaknya. Maka, di&amp;shy;kumpul&amp;shy;kan&amp;shy;nya tulang-tulang tersebut kemu&amp;shy;&amp;shy;dian sua&amp;shy;minya membaca doa sambil memercik&amp;shy;kan air bunga pada tulang-tulang tersebut. Atas perkenan Tuhan, tiba-tiba terjadi keajaiban. Beungong Peukeun menjelma dan berdiri di hadapan mereka. Sejak saat itu Beungong Peuken tinggal bersama adik&amp;shy;nya dan Beu&amp;shy;ngong Meulu tidak lagi membisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, Beungong Peukun ber&amp;shy;jalan-jalan di tepi pantai. Saat itu dia meli&amp;shy;hat seekor ikan raksasa berwarna kemerahan. Dihujamkannya sebilah pedang ke tubuh ikan tersebut kemudian dicongkelnya mata ikan tersebut. Karena terlalu keras, mata ikan tersebut terpelanting jauh hingga jatuh di halaman seorang penguasa di sebuah negeri. Mata ikan tersebut kemudian ber&amp;shy;ubah menjadi gunung. Sang penguasa merasa gelisah dengan adanya gunung di halamannya. Ia kemudian mengadakan se&amp;shy;buah sayembara. Barang siapa dapat me&amp;shy;min&amp;shy;dah&amp;shy;&amp;shy;kan gunung tersebut dari halaman ru&amp;shy;&amp;shy;mah&amp;shy;nya, dia akan dijadikan penguasa di negeri itu dan dinikahkan dengan anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beungong Peukeun yang mendengar sayembara tersebut segera berangkat ke sana. Begitu tiba di tempat yang di&amp;shy;maksud, dia segera mencongkel gunung tersebut dengan pedang saktinya. Da&amp;shy;lam se&amp;shy;&amp;shy;kejap, gunung tersebut dapat dilempar&amp;shy;kannya jauh-jauh. Sang penguasa mene&amp;shy;pati janjinya. Beungong Peukeun diberi kekuasaan memerintah negeri tersebut dan dinikahkan dengan putri penguasa. Demikianlah kisah tentang dua saudara ini. Akhirnya, mereka berdua hidup bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Yulia S. Setiawati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-8650001517271817324?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/8650001517271817324/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/beungong-meulu-dan-beungong-peukeun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/8650001517271817324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/8650001517271817324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/beungong-meulu-dan-beungong-peukeun.html' title='Beungong Meulu dan Beungong Peukeun'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjUwrcUuGI/AAAAAAAAACE/jdBm4gfNIH4/s72-c/Beungong+Meulu+dan+Beungong+Peukeun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-6467035854020256651</id><published>2009-12-28T22:38:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:51:19.057+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nanggroe Aceh Darussalam'/><title type='text'>Asal Usul Tari Guel</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjT6gmWDnI/AAAAAAAAAB8/F6g36PIWxyY/s1600-h/Asal+Usul+Tari+Guel.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; FLOAT: left; HEIGHT: 244px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420315153677028978" border="0" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjT6gmWDnI/AAAAAAAAAB8/F6g36PIWxyY/s320/Asal+Usul+Tari+Guel.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tersebutlah dua bersaudara putra Sultan Johor, Malaysia. Mereka adalah Muria dan Sengede. Suatu hari, kakak beradik itu meng&amp;shy;gem&amp;shy;&amp;shy;bala itik di tepi laut sambil bermain la&amp;shy;yang-layang. Tiba-tiba datang badai dah&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;syat se&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;hin&amp;shy;gga benang layang-layang me&amp;shy;reka pun putus. Sekuat tenaga mereka mengejar layang-layang ter&amp;shy;sebut. Mere&amp;shy;ka lupa bahwa pada saat itu me&amp;shy;reka sedang menggembala itik, hingga itiknya pun pergi entah ke mana.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah gagal menemukan layang-layang mereka, barulah mereka teringat akan itik-itik mereka. Tetapi malang, itik-itik itu tak lagi nampak. Mereka pun pulang dengan ketakutan akan mendapat marah dari orangtua mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar juga apa yang mereka pikir&amp;shy;kan. Setiba di rumah, mereka dimarahi ayah mereka. Mereka juga disuruh mencari itik-itik itu, dan tak diizinkan kembali sebelum itik-itik yang hilang itu ditemukan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhari-hari bahkan berbulan-bulan mereka berjalan mencari itik mereka, tapi tak membawa hasil hingga akhirnya mere&amp;shy;ka tiba di Kampung Serule. Dengan tubuh yang lunglai mereka menuju ke sebuah meunasah/langgar dan tertidur lelap. Pagi hari&amp;shy;&amp;shy;nya mereka ditemukan oleh orang kam&amp;shy;pung dan dibawa menghadap ke istana Raja Serule. Di luar dugaan, mereka malah di&amp;shy;angkat anak oleh baginda raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu berlalu, rakyat Seru&amp;shy;le hidup makmur, aman, dan sentosa. Hal ini di&amp;shy;karenakan oleh kesaktian kedua anak tersebut. Kemakmuran rakyat Serule itu mem&amp;shy;&amp;shy;buat Raja Linge iri dan gusar, se&amp;shy;hing&amp;shy;ga meng&amp;shy;&amp;shy;ancam akan membunuh kedua anak ter&amp;shy;sebut. Malang bagi Muria, ia ber&amp;shy;hasil di&amp;shy;&amp;shy;bunuh dan di&amp;shy;makamkan di tepi Sungai Samarkilang, Aceh Tenggara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu saat, raja-raja kecil ber&amp;shy;kumpul di istana Sultan Aceh di Kutaraja. Raja-raja kecil itu mempersembahkan cap usur, semacam upeti kepada Sultan Aceh. Saat itu, Cik Serule datang bersama Sangede. Saat itu, Raja Linge juga hadir. Saat Raja Serule masuk ke istana, Sangede menung&amp;shy;gu di halaman istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu ayah angkatnya, Sa&amp;shy;&amp;shy;ngede menggambar seekor gajah yang ber&amp;shy;warna putih. Rupanya lukisan Sangede ini menarik perhatian Putri Sultan yang ke&amp;shy;mu&amp;shy;di&amp;shy;an meminta Sultan mencarikan se&amp;shy;ekor ga&amp;shy;jah putih seperti yang digambar oleh Sangede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangede kemudian menceritakan bah&amp;shy;wa gajah putih itu berada di daerah Gayo, pa&amp;shy;dahal dia sebenarnya belum per&amp;shy;nah me&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;lihatnya. Maka, saat itu juga Sultan me&amp;shy;me&amp;shy;rintahkan Raja Serule dan Raja Linge untuk menangkap gajah putih tersebut gu&amp;shy;na dipersembahkan kepada Sultan. Raja Se&amp;shy;ru&amp;shy;le dan Raja Linge benar-benar kebi&amp;shy;ngu&amp;shy;ng&amp;shy;&amp;shy;an, bagaimana mungkin mencari se&amp;shy;suatu yang belum pernah dilihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangede menyesal karena bercerita bahwa gajah putih itu ada di Gayo hingga ayah angkatnya mendapat tugas mencari&amp;shy;nya. Dalam kebingungan itu, suatu malam Sangede bermimpi bertemu dengan Muria yang memberitahu bahwa gajah putih itu berada di Samarkilang, dan sebenarnya ga&amp;shy;jah putih itu adalah dirinya yang menjel&amp;shy;ma saat dibunuh oleh Raja Linge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi harinya, Sangede dan Raja Seru&amp;shy;le yang bergelar Muyang Kaya pergi ke Sa&amp;shy;mar&amp;shy;kilang seperti perintah dalam mimpi Sangede. Benar juga, setelah beberapa sa&amp;shy;&amp;shy;at mencari, mereka berdua menemukan ga&amp;shy;&amp;shy;jah putih itu sedang berkubang di ping&amp;shy;gir&amp;shy;&amp;shy;an sungai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangede dan Raja Serule Muyang Kaya kemudian dengan hati-hati mengena&amp;shy;kan tali di tubuh gajah yang nampak pe&amp;shy;nurut itu. Tetapi saat akan dihela, gajah pu&amp;shy;tih itu lari sekuat tenaga. Raja Serule dan Sa&amp;shy;&amp;shy;ngede tak mampu menahannya. Mereka ha&amp;shy;nya bisa mengejarnya hingga suatu saat ga&amp;shy;j&amp;shy;ah itu berhenti di dekat kuburan Muria di Samarkilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, gajah putih itu berhenti se&amp;shy;perti sebongkah batu. Tak bergerak sedikit pun meski Sangede dan Raja Serule men&amp;shy;coba menghelanya. Berbagai cara dicoba oleh Sangede agar gajah putih itu mau beranjak dan menuruti perintahnya untuk diajak pergi ke istana Kutaraja. Tetapi, se&amp;shy;mua&amp;shy;nya sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangede kehabisan akal. Akhirnya, dia bernyanyi-nyanyi untuk menarik perhatian gajah putih. Sambil bernyanyi, Sangede meliuk-liukkan tubuhnya. Raja Serule ikut-ikutan menari bersama Sangede di depan gajah putih agar mau bangkit dan menuruti perintahnya. Di luar dugaan, gajah putih itu ter&amp;shy;tarik juga oleh gerakan-gerakan Sa&amp;shy;nge&amp;shy;&amp;shy;de, dan kemudian bangkit. Sangede te&amp;shy;rus menari sambil berjalan agar gajah itu meng&amp;shy;ikuti langkahnya. Akhirnya, gajah itu pun meng&amp;shy;ikuti Sangede yang terus menari hingga ke istana. Tarian itu disebutnya tari&amp;shy;an Guel hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangede menyadari bahwa sesuatu ajakan kepada seseorang atau kepada binatang tidaklah harus dengan cara yang kasar. Dengan sebuah tarian pun akhirnya gajah putih itu menuruti ajakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Suprihatin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-6467035854020256651?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/6467035854020256651/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/asal-usul-tari-guel.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/6467035854020256651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/6467035854020256651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/asal-usul-tari-guel.html' title='Asal Usul Tari Guel'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjT6gmWDnI/AAAAAAAAAB8/F6g36PIWxyY/s72-c/Asal+Usul+Tari+Guel.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-8013204238881265597</id><published>2009-12-28T22:31:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:36:31.394+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Timur'/><title type='text'>Pak Sakerah</title><content type='html'>Sakera adalah seorang tokoh pejuang yang lahir di kelurahan Raci Kota Bangil, Pasuruan, Jatim, Indonesia. Ia berjuang melawan penjajahan Belanda pada awal abad ke-19. Sakera sadalah seorang jagoan daerah yang melawan penjajah Belanda di perkebunan tebu Kancil Mas Bangil. Legenda jagoan berdarah Bangil ini sangat populer di Jawa Timur utamanya di Pasuruan dan Madura.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakera bernama asli Sadiman yang bekerja sebagai mandor di perkebunan tebu milik pabrik gula kancil Mas Bangil. Ia dikenal sebagai seorang mandor yang baik hati dan sangat memperhatikan kesejahteraan para pekerja hingga dijuluki Pak Sakera (dalam bahasa kawi sakera memiliki arti ringan tangan, akrab/mempunyai banyak teman).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat setelah musim giling selesai, pabrik gula tersebut membutuhkan banyak lahan baru untuk menanam tebu. Karena kepentingan itu orang Belanda pimpinan ambisius perusahaan ini ingin membeli lahan perkebunan yang seluas-luas dengan harga semurah-murahnya.dengan cara yang licik orang belanda itu menyuruh carik Rembang untuk bisa menyediakan lahan baru bagi perusahaan dalam jangka waktu singkat dan murah, dan dengan iming-iming harta dan kekayaan hingga carik Rembang bersedia memenuhi keinginan tersebut. Carik Rembang menggunakan cara-cara kekerasan kepada rakyat dalam mengupayakan tanah untuk perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakera melihat ketidak adilan ini mencoba selalu membela rakyat dan berkali kali upaya carik Rembang gagal. Carik Rembang melaporkan hal ini kepada pemimpin perusahaan. Pemimpin perusahaan marah dan mengutus wakilnya Markus untuk membunuh Sakera. Suatu hari di perkebunan pekerja sedang istirahat, Markus marah-marah dan menghukum para pekerja serta menantang Sakera. Sakera yang dilapori hal ini marah dan membunuh Markus serta pengawalnya di kebon tebu. Sejak saat itu Sakera menjadi buronan polisi pemerintah Hindia Belanda. Suatu saat ketika Sakera berkunjung ke rumah ibunya, disana ia dikeroyok oleh carik Rembang dan polisi Belanda. Karena ibu Sakera diancam akan dibunuh maka Sakera ahirnya menyerah, Sakera pun masuk penjara Bangil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siksaan demi siksaan dilakukan polisi belanda kepada sakera setiap hari. selama dipenjara Pak Sakera selalu kangen dengan keluarga dirumahnya, Sakera memiliki istri yang sangat cantik bernama Marlena dan seorang keponakan bernama Brodin. Berbeda dengan Sakera yang berjiwa besar, Brodin adalah pemuda nakal yang suka berjudi dan sembunyi-sembunyi mengincar Marlena istri Sakera. Berkali kali Brodin berusaha untuk mendekati Marlena. Sementara Sakera ada dipenjara, Brodin berhasil berselingkuh dengan Marlena.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kabar itu sampai di telinga Sakera maka Sakera marah dan kabur dari penjara. Brodin pun tewas dibunuh Sakera. Kemudian Pak Sakera melakukan balas dendam secara berturut turut, dimulai Carik Rembang dibunuh, dilanjutkan dengan menghabisi para petinggi perkebunan yang memeras rakyat. Bahkan kepala polisi Bangil pun ditebas tanganya dengan senjata khasnya ‘Clurit’ ketika mencoba menangkap Sakera. Dengan cara yang licik pula polisi belanda mendatangi teman seperguruan sakera yang bernama Aziz untuk mencari kelemahan Pak Sakera. Dengan iming-iming akan diberi imbalan kekayaan oleh Goverment Belanda di Bangil Aziz menjebak Sakera dengan mengadakan tayuban, karena tahu Sakera paling senang acara tayuban akhirnya Sakera pun terjebak dan dilumpuhkan ilmunya degan pukulan bambu apus. Lagi-lagi belanda berhasil mertangkap kembali Pak Sakera yang kemudian diadili oleh Government Bangil dan diputuskan untuk dihukum gantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakera gugur digantung di penjara Bangil dan Ia dimakamkan di Bekacak, Kelurahan Kolursari (daerah paling selatan Kota Bangil).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-8013204238881265597?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/8013204238881265597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/pak-sakerah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/8013204238881265597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/8013204238881265597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/pak-sakerah.html' title='Pak Sakerah'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-1528076889381659046</id><published>2009-12-28T22:30:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:31:08.885+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Papua'/><title type='text'>Buaya Ajaib</title><content type='html'>Pada jaman dahulu, hiduplah seorang lelaki bernama Towjatuwa di tepian sungai Tami daerah Irian Jaya. Lelaki itu sedang gundah, oleh karena isterinya yang hamil tua mengalami kesulitan dalam melahirkan bayinya. Untuk membantu kelahiran anaknya itu, ia membutuhkan operasi yang menggunakan batu tajam dari sungai Tami.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sedang sibuk mencari batu tajam tersebut, ia mendengar suara-suara aneh di belakangnya. Alangkah terkejutnya Towjatuwa ketika ia melihat seekor buaya besar di depannya. Ia sangat ketakutan dan hampir pingsan. Buaya besar itu pelan-pelan bergerak ke arah Towjatuwa. Tidak seperti buaya lainnya, binatang ini memiliki bulu-bulu dari burung Kaswari di punggungnya. Sehingga ketika buaya itu bergerak, binatang itu tampak sangat menakutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun saat Towjatuwa hendak melarikan diri, buaya itu menyapanya dengan ramah dan bertanya apa yang sedang ia lakukan. Towjatuwapun menceritakan keadaan isterinya. Buaya ajaib inipun berkata: "Tidak usah khawatir, saya akan datang ke rumahmu nanti malam. Saya akan menolong isterimu melahirkan." Towjatuwa pulang menemui isterinya. Dengan sangat berbahagia, iapun menceritakan perihal pertemuannya dengan seekor buaya ajaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, seperti yang dijanjikan, buaya ajaib itupun memasuki rumah Towjatuwa. Dengan kekuatan ajaibnya, buaya yang bernama Watuwe itu menolong proses kelahiran seorang bayi laki-laki dengan selamat. Ia diberi nama Narrowra. Watuwe meramalkan bahwa kelak bayi tersebut akan tumbuh menjadi pemburu yang handal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Watuwe lalu mengingatkan agar Towjatuwa dan keturunannya tidak membunuh dan memakan daging buaya. Apabila larangan itu dilanggar maka Towjatuwa dan keturunannya akan mati. Sejak saat itu, Towjatuwa dan anak keturunannya berjanji untuk melindungi binatang yang berada disekitar sungai Tami dari para pemburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diadaptasi secara bebas dari, Alice M. Terada, "The Magic Crocodile," The Magic Crocodile and Other Folktales from Indonesia, Honolulu: University of Hawaii Press, 1994, hal 135-142)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-1528076889381659046?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/1528076889381659046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/buaya-ajaib.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/1528076889381659046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/1528076889381659046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/buaya-ajaib.html' title='Buaya Ajaib'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-8103129340930820555</id><published>2009-12-28T22:29:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:30:09.256+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Maluku'/><title type='text'>Si Rusa dan Si Kulomang</title><content type='html'>Pada jaman dahulu di sebuah hutan di kepulauan Aru, hiduplah sekelompok rusa. Mereka sangat bangga akan kemampuan larinya. Pekerjaan mereka selain merumput, adalah menantang binatang lainnya untuk adu lari. Apabila mereka itu dapat mengalahkannya, rusa itu akan mengambil tempat tinggal mereka.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditepian hutan tersebut terdapatlah sebuah pantai yang sangat indah. Disana hiduplah siput laut yang bernama Kulomang. Siput laut terkenal sebagai binatang yang cerdik dan sangat setia kawan. Pada suatu hari, si Rusa mendatangi si Kulomang. Ditantangnya siput laut itu untuk adu lari hingga sampai di tanjung ke sebelas. Taruhannya adalah pantai tempat tinggal sang siput laut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hatinya si Rusa itu merasa yakin akan dapat mengalahkan si Kulomang. Bukan saja jalannya sangat lambat, si Kulomang juga memanggul cangkang. Cangkang itu biasanya lebih besar dari badannya. Ukuran yang demikian itu disebabkan oleh karena cangkang itu adalah rumah dari siput laut. Rumah itu berguna untuk menahan agar tidak hanyut di waktu air pasang. Dan ia berguna untuk melindungi siput laut dari terik matahari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari yang ditentukan si Rusa sudah mengundang kawan-kawannya untuk menyaksikan pertandingan itu. Sedangkan si Kulomang sudah menyiapkan sepuluh teman-temannya. Setiap ekor dari temannya ditempatkan mulai dari tanjung ke dua hingga tanjung ke sebelas. Dia sendiri akan berada ditempat mulainya pertandingan.   Diperintahkannya agar teman-temanya menjawab setiap pertanyaan si Rusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pertandingan dimulai, si Rusa langsung berlari secepat-cepatnya mendahului si Kulomang. Selang beberapa jam is sudah sampai di tanjung kedua. Nafasnya terengah-engah. Dalam hati ia yakin bahwa si Kulomang mungkin hanya mencapai jarak beberapa meter saja. Dengan sombongnya ia berteriak-teriak, "Kulomang, sekarang kau ada di mana?" Temannya si Kulomang pun menjawab, "aku ada tepat di belakangmu." Betapa terkejutnya si Rusa, ia tidak jadi beristirahat melainkan lari tunggang langgang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang sama terjadi berulang kali hingga ke tanjung ke sepuluh. Memasuki tanjung ke sebelas, si Rusa sudah kehabisan napas. Ia jatuh tersungkur dan mati. Dengan demikian si Kulomang dapat bukan saja mengalahkan tetapi juga memperdayai si Rusa yang congkak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Aneke Sumarauw, "Si Rusa dan Si Kulomang," Cerita Rakyat dari Maluku, Jakarta: PT. Grasindo, hal. 17-20)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-8103129340930820555?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/8103129340930820555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/si-rusa-dan-si-kulomang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/8103129340930820555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/8103129340930820555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/si-rusa-dan-si-kulomang.html' title='Si Rusa dan Si Kulomang'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-2263787836760291219</id><published>2009-12-28T22:25:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:26:22.973+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sulawesi Tenggara'/><title type='text'>Kera dan Ayam</title><content type='html'>Pada jaman dahulu, tersebutlah seekor ayam yang bersahabat dengan seekor kera. Namun persahabatan itu tidak berlangsung lama, karena kelakuan si kera. Pada suatu petang Si Kera mengajak si ayam untuk berjalan-jalan. Ketika hari sudah petang si Kera mulai merasa lapar. Kemudian ia menangkap si Ayam dan mulai mencabuti bulunya. Si Ayam meronta-ronta dengan sekuat tenaga. Akhirnya, ia dapat meloloskan diri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia lari sekuat tenaga. Untunglah tidak jauh dari tempat itu adalah tempat kediaman si Kepiting. Si Kepiting adalah teman sejati darinya. Dengan tergopoh-gopoh ia masuk ke dalam lubang kediaman si Kepiting. Disana ia disambut dengan gembira. Lalu Si Kepiting menceritakan semua kejadian yang dialaminya, termasuk penghianatan si Kera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar hal itu akhirnya si Kepiting tidak bisa menerima perlakuan si Kera. Ia berkata, "marilah kita beri pelajaran kera yang tahu arti persahabatan itu." Lalu ia menyusun siasat untuk memperdayai si Kera. Mereka akhirnya bersepakat akan mengundang si Kera untuk pergi berlayar ke pulau seberang yang penuh dengan buah-buahan. Tetapi perahu yang akan mereka pakai adalah perahu buatan sendiri dari tanah liat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian si Ayam mengundang si Kera untuk berlayar ke pulau seberang. Dengan rakusnya si Kera segera menyetujui ajakan itu. Beberapa hari berselang, mulailah perjalanan mereka. Ketika perahu sampai ditengah laut, mereka lalu berpantun. Si Ayam berkokok "Aku lubangi ho!!!" Si Kepiting menjawab "Tunggu sampai dalam sekali!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali berkata begitu maka si ayam mencotok-cotok perahu itu. Akhirnya perahu mereka itu pun bocor dan tenggelam. Si Kepiting dengan tangkasnya menyelam ke dasar laut. Si Ayam dengan mudahnya terbang ke darat. Tinggallah Si Kera yang meronta-ronta minta tolong. Karena tidak bisa berenang akhirnya ia pun mati tenggelam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Disarikan dari Abdurrauf Tarimana, dkk, "Landoke-ndoke te Manu: Kera dan Ayam," Cerita Rakyat Daerah Sulawesi Tenggara, Jakarta: Dept. P dan K, 1978, hal. 61-62)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-2263787836760291219?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/2263787836760291219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/kera-dan-ayam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/2263787836760291219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/2263787836760291219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/kera-dan-ayam.html' title='Kera dan Ayam'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-1599299352546228763</id><published>2009-12-28T22:24:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:25:27.105+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sulawesi Selatan'/><title type='text'>La Dana dan Kerbaunya</title><content type='html'>La Dana adalah seorang anak petani dari Toraja. Ia sangat terkenal akan kecerdikannya. Kadangkala kecerdikan itu ia gunakan untuk memperdaya orang. Sehingga kecerdikan itu menjadi kelicikan. Pada suatu hari ia bersama temannya diundang untuk menghadiri pesta kematian. Sudah menjadi kebiasaan di tanah toraja bahwa setiap tamu akan mendapat daging kerbau. La Dana diberi bagian kaki belakang dari kerbau. Sedangkan kawannya menerima hampir seluruh bagian kerbau itu kecuali bagian kaki belakang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu La Dana mengusulkan pada temannya untuk menggabungkan daging-daging bagian itu dan menukarkannya dengan seekor kerbau hidup. Alasannya adalah mereka dapat memelihara hewan itu sampai gemuk sebelum disembelih. Mereka beruntung karena usulan tersebut diterima oleh tuan rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu setelah itu La Dana mulai tidak sabar menunggu agar kerbaunya gemuk. Pada suatu hari ia mendatangi rumah temannya, dimana kerbau itu berada, dan berkata "Mari kita potong hewan ini, saya sudah ingin makan dagingnya." Temannya menjawab, "Tunggulah sampai hewan itu agak gemuk." Lalu La Dana mengusulkan, "Sebaiknya kita potong saja bagian saya, dan kamu bisa memelihara hewan itu selanjutnya." Kawannya berpikir, kalau kaki belakang kerbau itu dipotong maka ia akan mati. Lalu kawannya membujuk La Dana agar ia mengurungkan niatnya. Ia menjanjikan La Dana untuk memberinya kaki depan dari kerbau itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu setelah itu La Dana datang lagi dan kembali meminta agar bagiannya dipotong. Sekali lagi kawannya membujuk. Ia dijanjikan bagian badan kerbau itu asal La Dana mau menunda maksudnya. Baru beberapa hari berselang La Dana sudah kembali kerumah temannya. Ia kembali meminta agar hewan itu dipotong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini kawannya sudah tidak sabar, dengan marah ia pun berkata, "Kenapa kamu tidak ambil saja kerbau ini sekalian! Dan jangan datang lagi untuk mengganggu saya." La dana pun pulang dengan gembiranya sambil membawa seekor kerbau gemuk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diadaptasi secara bebas dari, Alice M. Terada, "La Dana and His Buffalo," The Magic Crocodile and Other Folktales from Indonesia, Honolulu: University of Hawaii Press, 1994, hal 123-126)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-1599299352546228763?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/1599299352546228763/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/la-dana-dan-kerbaunya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/1599299352546228763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/1599299352546228763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/la-dana-dan-kerbaunya.html' title='La Dana dan Kerbaunya'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-8880464942025463647</id><published>2009-12-28T22:22:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:23:59.412+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sulawesi Tengah'/><title type='text'>Tadulako Bulili</title><content type='html'>Di desa suatu desa bernama Bulili hiduplah 3 orang tadulako atau panglima perang. Mereka masing-masing bernama: Bantaili, Makeku dan Molove. Mereka terkenal sangat sakti dan pemberani. Tugas utama mereka adalah menjaga keselamatan desa itu dari serangan musuh.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Raja Sigi mempersunting seorang gadis cantik Bulili. Mereka tinggal untuk beberapa bulan di desa itu hingga gadis itu mengandung. Pada saat itu Raja Sigi meminta ijin untuk kembali ke kerajaannya. Dengan berat hati perempuan itu melepas suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepeningal Raja Sigi itu, perempuan itu melahirkan seorang bayi. Pemuka-pemuka Bulili lalu memutuskan untuk mengirim utusan untuk menemui suami perempuan itu. Utusannya adalah tadulako Makeku dan Bantaili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di Sigi, mereka bukannya disambut dengan ramah. Tetapi dengan sinisnya raja itu menanyakan maksud kedatangannya. Mereka pun menguraikan maksud itu. Mereka menyampaikan bahwa mereka diutus untuk meminta padi di lumbung untuk anak raja yang baru lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan congkaknya raja Sigi menghina mereka. Ia lalu berkata pada Tadulako itu: "kalau mampu angkatlah lumbung padi di belakang rumah." Dengan marahnya Tadulako Bantaili mengeluarkan kesaktiannya. Ia pun lalu mampu memanggul lumbung padi besar yang dipenuhi oleh padi. Biasanya lumbung kosong saja hanya akan bergeser kalau diangkat oleh puluhan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makeku berjalan di belakang Bantaili untuk mengawal lumbung padi itu. Dengan sangat geram Raja Sigi memerintahkan pasukannya untuk mengejar mereka. Pada suatu tempat, terbentanglah sebuah sungai yang sangat lebar dan dalam. Dengan mudahnya mereka melompati sungai itu. Meskipun sambil menggendong lumbung padi, Bantaili berhasil melompatinya tanpa ada banyak ceceran beras dari lumbung itu. Sedangkan pasukan yang mengejar mereka tidak berani melompati sungai yang berarus deras. Mereka akhirnya kembali ke Sigi dengan kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diadaptasi secara bebas dari Drs. A, Ghani Ali dan Kawan-kawan, "Tadulako Bulili," Cerita Rakyat Sulawesi Selatan, Jakarta: Departemen P dan K, 1981, 113-118).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-8880464942025463647?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/8880464942025463647/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/tadulako-bulili.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/8880464942025463647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/8880464942025463647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/tadulako-bulili.html' title='Tadulako Bulili'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-5623479261123046457</id><published>2009-12-28T22:20:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:22:31.814+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sulawesi Utara'/><title type='text'>Si Sigarlaki dan Si Limbat</title><content type='html'>Pada jaman dahulu di Tondano hiduplah seorang pemburu perkasa yang bernama Sigarlaki. Ia sangat terkenal dengan keahliannya menombak. Tidak satupun sasaran yang luput dari tombakannya. Sigarlaki mempunyai seorang pelayan yang sangat setia yang bernama Limbat. Hampir semua pekerjaan yang diperintahkan oleh Sigarlaki dikerjakan dengan baik oleh Limbat. Meskipun terkenal sebagai pemburu yang handal, pada suatu hari mereka tidak berhasil memperoleh satu ekor binatang buruan. Kekesalannya akhirnya memuncak ketika Si Limbat melaporkan pada majikannya bahwa daging persediaan mereka di rumah sudah hilang dicuri orang.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa pikir panjang, si Sigarlaki langsung menuduh pelayannya itu yang mencuri daging persediaan mereka. Si Limbat menjadi sangat terkejut. Tidak pernah diduga majikannya akan tega menuduh dirinya sebagai pencuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Si Sigarlaki meminta Si Limbat untuk membuktikan bahwa bukan dia yang mencuri. Caranya adalah Sigarlaki akan menancapkan tombaknya ke dalam sebuah kolam. Bersamaan dengan itu Si Limbat disuruhnya menyelam. Bila tombak itu lebih dahulu keluar dari kolam berarti Si Limbat tidak mencuri. Apabila Si Limbat yang keluar dari kolam terlebih dahulu maka terbukti ia yang mencuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syarat yang aneh itu membuat Si Limbat ketakutan. Tetapi bagaimanapun juga ia berkehendak untuk membuktikan dirinya bersih. Lalu ia pun menyelam bersamaan dengan Sigarlaki menancapkan tombaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja menancapkan tombaknya, tiba-tiba Sigarlaki melihat ada seekor babi hutan minum di kolam. Dengan segera ia mengangkat tombaknya dan dilemparkannya ke arah babi hutan itu. Tetapi tombakan itu luput. Dengan demikian seharusnya Si Sigarlaki sudah kalah dengan Si Limbat. Tetapi ia meminta agar pembuktian itu diulang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan berat hati Si Limbat pun akhirnya mengikuti perintah majikannya. Baru saja menancapkan tombaknya di kolam, tiba-tiba kaki Sigarlaki digigit oleh seekor kepiting besar. Iapun menjerit kesakitan dan tidak sengaja mengangkat tombaknya. Dengan demikian akhirnya Si Limbat yang menang. Ia berhasil membuktikan dirinya tidak mencuri. Sedangkan Sigarlaki karena sembarangan menuduh, terkena hukuman digigit kepiting besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diadaptasi secara bebas dari Drs. J Inkiriwang dkk, "Sigarlaki dan si Limbat," Dept. P dan K, Cerita Rakyat Daerah Sulawesi Utara, Jakarta: Dept. P dan K, 1978/1979) &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-5623479261123046457?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/5623479261123046457/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/si-sigarlaki-dan-si-limbat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/5623479261123046457'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/5623479261123046457'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/si-sigarlaki-dan-si-limbat.html' title='Si Sigarlaki dan Si Limbat'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-2226914692020514474</id><published>2009-12-28T22:18:00.002+07:00</published><updated>2009-12-28T22:20:42.002+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalimantan Selatan'/><title type='text'>Puteri Junjung Buih</title><content type='html'>Tersebutlah kisah sebuah kerajaan bernama Amuntai di Kalimantan Selatan. Kerajaan itu diperintah oleh dua bersaudara. Raja yang lebih tua bernama Patmaraga, atau diberi julukan Raja Tua. Adiknya si Raja muda bernama Sukmaraga. Kedua raja tersebut belum mempunyai putera ataupun puteri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun diantara keduanya, Sukmaraga yang berkeinginan besar untuk mempunyai putera. Setiap malam ia dan permaisurinya memohon kepada para dewa agar dikarunia sepasang putera kembar. Keinginan tersebut rupanya akan dikabulkan oleh para dewa. Ia mendapat petunjuk untuk pergi bertapa ke sebuah pulau di dekat kota Banjarmasin. Di dalam pertapaannya, ia mendapat wangsit agar meminta istrinya menyantap bunga Kastuba. Sukmaraga pun mengikuti perintah itu. Benar seperti petunjuk para dewa, beberapa bulan kemudian permaisurinya hamil. Ia melahirkan sepasang bayi kembar yang sangat elok wajahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar hal tersebut, timbul keinginan Raja Tua untuk mempunyai putera pula. Kemudian ia pun memohon kepada para dewa agar dikarunia putera. Raja Tua bermimpi disuruh dewa bertapa di Candi Agung, yang terletak di luar kota Amuntai. Raja Tua pun mengikuti petunjuk itu. Ketika selesai menjalankan pertapaan, dalam perjalanan pulang ia menemukan sorang bayi perempuan sedang terapung-apung di sebuah sungai. Bayi tersebut terapung-apung diatas segumpalan buih. Oleh karena itu, bayi yang sangat elok itu kelak bergelar Puteri Junjung Buih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Tua lalu memerintahkan pengetua istana, Datuk Pujung, untuk mengambil bayi tersebut. Namun alangkah terkejutnya rombongan kerajaan tersebut, karena bayi itu sudah dapat berbicara. Sebelum diangkat dari buih-buih itu, bayi tersebut meminta untuk ditenunkan selembar kain dan sehelai selimut  yang harus diselesaikan dalam waktu setengah hari. Ia juga meminta untuk dijemput dengan empat puluh orang wanita cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Tuapun lalu menyayembarakan permintaan bayi tersebut. Ia berjanji untuk mengangkat orang yang dapat memenuhi permintaan bayi tersebut menjadi pengasuh dari puteri ini. Sayembara itu akhirnya dimenangkan oleh seorang wanita bernama Ratu Kuripan. Selain pandai menenun, iapun memiliki kekuatan gaib. Bukan hanya ia dapat memenuhi persyaratan waktu yang singkat itu, Ratu Kuripan pun menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat mengagumkan. Kain dan selimut yang ditenunnnya sangatlah indah. Seperti yang dijanjikan, kemudian Raja Tua mengangkat Ratu Kuripan menjadi pengasuh si puteri Junjung Buih. Ia ikut berperanan besar dalam hampir setiap keputusan penting menyangkut sang puteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diambil dan disarikan dari Abdul Hakim, Selusin  Cerita Rakyat, Jakarta:C.V. Danau Singkarak, 1980, hal. 71-81)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-2226914692020514474?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/2226914692020514474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/puteri-junjung-buih-seri-1.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/2226914692020514474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/2226914692020514474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/puteri-junjung-buih-seri-1.html' title='Puteri Junjung Buih'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-5466165030070523205</id><published>2009-12-28T22:17:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:18:10.867+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalimantan Timur'/><title type='text'>Asal Usul Danau Lipan</title><content type='html'>Di kecamatan Muara Kaman kurang lebih 120 km di hulu Tenggarong ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara di Kalimantan Timur ada sebuah daerah yang terkenal dengan nama Danau Lipan. Meskipun bernama Danau, daerah tersebut bukanlah danau seperti Danau Jempang dan Semayang. Daerah itu merupakan padang luas yang ditumbuhi semak dan perdu. Dahulu kala kota Muara Kaman dan sekitarnya merupakan lautan. Tepi lautnya ketika itu ialah di Berubus, kampung Muara Kaman Ulu yang lebih dikenal dengan nama Benua Lawas. Pada masa itu ada sebuah kerajaan yang bandarnya sangat ramai dikunjungi karena terletak di tepi laut.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkenallah pada masa itu di kerajaan tersebut seorang putri yang cantik jelita. Sang putri bernama Putri Aji Bedarah Putih. Ia diberi nama demikian tak lain karena bila sang putri ini makan sirih dan menelan air sepahnya maka tampaklah air sirih yang merah itu mengalir melalui kerongkongannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejelitaan dan keanehan Putri Aji Bedarah Putih ini terdengar pula oleh seorang Raja Cina yang segera berangkat dengan Jung besar beserta bala tentaranya dan berlabuh di laut depan istana Aji Bedarah Putih. Raja Cina pun segera naik ke darat untuk melamar Putri jelita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Raja Cina menyampaikan pinangannya, oleh Sang Putri terlebih dahulu raja itu dijamu dengan santapan bersama. Tapi malang bagi Raja Cina, ia tidak mengetahui bahwa ia tengah diuji oleh Putri yang tidak saja cantik jelita tetapi juga pandai dan bijaksana. Tengah makan dalam jamuan itu, puteri merasa jijik melihat kejorokan bersantap dari si tamu. Raja Cina itu ternyata makan dengan cara menyesap, tidak mempergunakan tangan melainkan langsung dengan mulut seperti anjing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa jijiknya Putri Aji Bedarah Putih dan ia pun merasa tersinggung, seolah-olah Raja Cina itu tidak menghormati dirinya disamping jelas tidak dapat menyesuaikan diri. Ketika selesai santap dan lamaran Raja Cina diajukan, serta merta Sang Putri menolak dengan penuh murka sambil berkata, "Betapa hinanya seorang putri berjodoh dengan manusia yang cara makannya saja menyesap seperti anjing."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghinaan yang luar biasa itu tentu saja membangkitkan kemarahan luar biasa pula pada Raja Cina itu. Sudah lamarannya ditolak mentah-mentah, hinaan pula yang diterima. Karena sangat malu dan murkanya, tak ada jalan lain selain ditebus dengan segala kekerasaan untuk menundukkan Putri Aji Bedarah Putih. Ia pun segera menuju ke jungnya untuk kembali dengan segenap bala tentara yang kuat guna menghancurkan kerajaan dan menawan Putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang dahsyat pun terjadilah antara bala tentara Cina yang datang bagai gelombang pasang dari laut melawan bala tentara Aji Bedarah Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tentara Aji Bedarah Putih tidak dapat menangkis serbuan bala tentara Cina yang mengamuk dengan garangnya. Putri yang menyaksikan jalannya pertempuran yang tak seimbang itu merasa sedih bercampur geram. Ia telah membayangkan bahwa peperangan itu akan dimenangkan oleh tentara Cina. Karena itu timbullah kemurkaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri pun segera makan sirih seraya berucap, "Kalau benar aku ini titisan raja sakti, maka jadilah sepah-sepahku ini lipan-lipan yang dapat memusnahkan Raja Cina beserta seluruh bala tentaranya." Selesai berkata demikian, disemburkannyalah sepah dari mulutnya ke arah peperangan yang tengah berkecamuk itu. Dengan sekejap mata sepah sirih putri tadi berubah menjadi beribu-ribu ekor lipan yang besar-besar, lalu dengan bengisnya menyerang bala tentara Cina yang sedang mengamuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bala tentara Cina yang berperang dengan gagah perkasa itu satu demi satu dibinasakan. Tentara yang mengetahui serangan lipan yang tak terlawan itu, segera lari lintang-pukang ke jungnya. Demikian pula sang Raja. Mereka bermaksud akan segera meninggalkan Muara Kaman dengan lipannya yang dahsyat itu, tetapi ternyata mereka tidak diberi kesempatan oleh lipan-lipan itu untuk meninggalkan Muara Kaman hidup-hidup. Karena lipan-lipan itu telah diucap untuk membinasakan Raja dan bala tentara Cina, maka dengan bergelombang mereka menyerbu terus sampai ke Jung Cina. Raja dan segenap bala tentara Cina tak dapat berkisar ke mana pun lagi dan akhirnya mereka musnah semuanya. Jung mereka ditenggelamkan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Aji Bedarah Putih segera hilang dengan gaib, entah kemana dan bersamaan dengan gaibnya putri, maka gaib pulalah Sumur Air Berani, sebagai kekuatan tenaga sakti kerajaan itu. Tempat Jung Raja Cina yang tenggelam dan lautnya yang kemudian mendangkal menjadi suatu daratan dengan padang luas itulah yang kemudian disebut hingga sekarang dengan nama Danau Lipan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Disadur dari Masdari Ahmad, Kumpulan Cerita Rakyat Kutai, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta 1979)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-5466165030070523205?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/5466165030070523205/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/asal-usul-danau-lipan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/5466165030070523205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/5466165030070523205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/asal-usul-danau-lipan.html' title='Asal Usul Danau Lipan'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-8480345079071715034</id><published>2009-12-28T22:16:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:17:14.234+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalimantan Tengah'/><title type='text'>Kutukan Raja Pulau Mintin</title><content type='html'>Pada zaman dahulu, terdapatlah sebuah kerajaan di Pulau Mintin daerah Kahayan Hilir. Kerajaan itu sangat terkenal akan kearifan rajanya. Akibatnya, kerajaan itu menjadi wilayah yang tenteram dan makmur. Pada suatu hari, permaisuri dari raja tersebut meninggal dunia. Sejak saat itu raja menjadi murung dan nampak selalu sedih. Keadaan ini membuatnya tidak dapat lagi memerintah dengan baik. Pada saat yang sama, keadaan kesehatan raja inipun makin makin menurun. Guna menanggulangi situasi itu, raja berniat untuk pergi berlayar guna menghibur hatinya. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melanjutkan pemerintahan maka raja itu menyerahkan tahtanya pada kedua anak kembarnya yang bernama Naga dan Buaya. Mereka pun menyanggupi keinginan sang raja. Sejak sepeninggal sang raja, kedua putranya tersebut memerintah kerajaan. Namun sayangnya muncul persoalan mendasar baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua putra raja tersebut memiliki watak yang berbeda. Naga mempunyai watak negatif seperti senang berfoya-foya, mabuk-mabukan dan berjudi. Sedangkan buaya memiliki watak positif seperti pemurah, ramah tamah, tidak boros dan suka menolong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat tingkah laku si Naga yang selalu menghambur-hamburkan harta kerajaan, maka si Buayapun marah. Karena tidak bisa dinasehati maka si Buaya memarahi si Naga. Tetapi rupaya naga ini tidak mau mendengar. Pertengkaran itu berlanjut dan berkembang menjadi perkelahian. Prajurit kerajaan menjadi terbagi dua, sebahagian memihak kepada Naga dan sebagian memihak pada Buaya. Perkelahian makin dahsyat sehingga memakan banyak korban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pelayarannya, Sang raja mempunyai firasat buruk. Maka ia pun mengubah haluan kapalnya untuk kembali ke kerajaanya. Betapa terkejutnya ia ketika menyaksikan bahwa putera kembarnya telah saling berperang. Dengan berang ia pun berkata,"kalian telah menyia-nyiakan kepercayaanku. Dengan peperangan ini kalian sudah menyengsarakan rakyat. Untuk itu terimalah hukumanku. Buaya jadilah engkau buaya yang sebenarnya dan hidup di air. Karena kesalahanmu yang sedikit, maka engkau akan menetap di daerah ini. Tugasmu adalah menjaga Pulau Mintin. Sedangkan engkau naga jadilah engkau naga yang sebenarnya. Karena kesalahanmu yang besar engkau akan tinggal di sepanjang Sungai Kapuas. Tugasmu adalah menjaga agar Sungai Kapuas tidak ditumbuhi Cendawan Bantilung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengucapkan kutukan itu, tiba-tiba langit gelap dan petir menggelegar. Dalam sekejap kedua putranya telah berubah wujud. Satu menjadi buaya. Yang lainnya menjadi naga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diadaptasi secara bebas dari Lambertus Elbaar, "Kutukan Raja Pulau Mintin," Cerita Rakyat Kalimantan Tengah, Jakarta:Depdikbud, 1982, hal. 44-45). &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-8480345079071715034?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/8480345079071715034/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/kutukan-raja-pulau-mintin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/8480345079071715034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/8480345079071715034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/kutukan-raja-pulau-mintin.html' title='Kutukan Raja Pulau Mintin'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-4274840970093259829</id><published>2009-12-28T22:13:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:15:22.756+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kalimantan Barat'/><title type='text'>Tupai dan Ikan Gabus</title><content type='html'>Di sebuah telaga di daerah Kalimantan barat, tersebutlah seekor tupai bersahabat dengan seekor ikan gabus. Persahabatan tersebut sangatlah kuatnya. Pada suatu hari si Ikan Gabus jatuh sakit. Badannya sangatlemah. Dengan setianya si Tupai menunggui temannya itu. Sudah beberapa hari si Ikan Gabus tidak enak makan. Maka si Tupai berusaha membujuknya. Namun si Ikan Gabus hanya mau makan kalau diberi makan hati ikan Yu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar permintaan si Ikan Gabus, Si Tupai menjadi sangat sedih. Sulit sekali memenuhi permintaan sahabatnya itu. Ikan Yu adalah hewan yang sangat ganas dan hanya hidup di lautan lepas. Namun akhirnya ia memutuskan juga untuk mencarikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka iapun meloncat-loncat dari pohon ke pohon hingga sampai ke sebuah pohon kelapa yang batangnya menjorok ke laut. Dengan perlahan si Tupai melobangi sebutir biji kelapa. Setelah airnya habis, iapun masuk ke dalam kelapa itu. Dari dalam kelapa itu ia masih dapat menggerogoti tangkai buah kelapa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian buah kelapa itu sudah terlepas dari tangkainya dan tercebur ke laut lepas. Ombak laut itu sangat besar. sehingga dalam waktu tidak lama, buah kelapa itu sudah berada ditengah laut lepas. Tiba-tiba datanglah seekor Ikan Yu besar. Dengan segera ia menelan biji kelapa tersebut bulat-bulat. Setelah berada di dalam perut ikan itu, si Tupai lalu mengigiti hatinya. Ikan itu menggelepar-gelepar menuju pantai. Sesampainya di pantai, Ikan Yu sudah kehabisan tenaga dan akhirnya mati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan senang hati si Tupai membawa hati Ikan Yu itu untuk sahabatnya. Dengan ajaibnya setelah memakan hati Ikan Yu, Si Ikan Gabus menjadi sembuh total. Ia meloncat-loncat dengan gembiranya. Ia pun berjanji akan menolong si Tupai kalau ia sakit di hari kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diadaptasi secara bebas dari Warisa Ram, dkk. "Tupai dan Ikan Gabus" Cerita Rakyat Daerah Kalimantan Barat. Jakarta: Dept. P dan K, 1982. Hal. 26 - 28.)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-4274840970093259829?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/4274840970093259829/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/tupai-dan-ikan-gabus.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/4274840970093259829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/4274840970093259829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/tupai-dan-ikan-gabus.html' title='Tupai dan Ikan Gabus'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-114547416000033871</id><published>2009-12-28T22:11:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:13:14.802+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nusa Tenggara Timur'/><title type='text'>Suri Ikun dan Dua Burung</title><content type='html'>Pada jaman dahulu, di pulau Timor hiduplah seorang petani dengan isteri dan empat belas anaknya. Tujuh orang anaknya laki-laki dan tujuh orang perempuan. Walaupun mereka memiliki kebun yang besar, hasil kebun tersebut tidak mencukupi kebutuhan keluarga tersebut. Sebabnya adalah tanaman yang ada sering dirusak oleh seekor babi hutan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petani tersebut menugaskan pada anak laki-lakinya  untuk bergiliran menjaga kebun mereka dari babi hutan. Kecuali Suri Ikun, keenam saudara laki-lakinya adalah penakut dan dengki. Begita mendengar dengusan babi hutan, maka mereka akan lari meninggalkan kebunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan Suri Ikun, begitu mendengar babi itu datang, ia lalu mengambil busur dan memanahnya. Setelah hewan itu mati, ia membawanya kerumah. Disana sudah menunggu saudara-saudaranya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saudaranya yang tertua bertugas membagi- bagikan daging babi hutan tersebut. Karena dengkinya, ia hanya memberi Suri Ikun kepala dari hewan itu. Sudah tentu tidak banyak daging yang bisa diperoleh dari bagian kepala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, ia meminta Suri Ikun bersamannya mencari gerinda milik ayahnya yang tertinggal di tengah hutan. Waktu itu hari sudah mulai malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hutan tersebut  menurut cerita di malam hari dihuni oleh para hantu jahat. Dengan perasaan takut iapun berjalan mengikuti kakaknya. Ia tidak tahu bahwa kakaknya mengambil jalan lain yang menuju kerumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggallah Suri Ikun yang makin lama makin masuk ke tengah hutan. Berulang kali ia memanggil nama kakaknya. Panggilan itu dijawab oleh hantu-hantu hutan. Mereka sengaja menyesatkan Suri Ikun.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berada ditengah- tengah hutan lalu, hantu-hantu tersebut menangkapnya. Ia tidak langsung dimakan, karena menurut hantu-hantu itu ia masih terlalu kurus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kemudian dikurung ditengah gua. Ia diberi makan dengan teratur. Gua itu gelap sekali. Namun untunglah ada celah disampingnya, sehingga Suri Ikun masih ada sinar yang masuk ke dalam gua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari celah tersebut Suri Ikun melihat ada dua ekor anak burung yang kelaparan. Iapun membagi makanannya dengan mereka. Setelah sekian tahun, burung- burung itupun tumbuh menjadi burung yang sangat besar dan kuat. Mereka ingin mem- bebaskan  Suri Ikun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, hantu-hantu itu membuka pintu gua, dua burung tersebut menyerang dan mencederai hantu hantu tersebut. Lalu mereka menerbangkan Suri Ikun ke daerah yang berbukit-bukit tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekuatan gaibnya, Burung-burung tersebut menciptakan istana lengkap dengan pengawal dan pelayan istana. Disanalah untuk selanjutnya Suri Ikun berbahagia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diadaptasi bebas dari Ny. S.D.B. Aman,"Suri Ikun and The Two Birds," Folk Tales From Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1976).&lt;br /&gt; &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-114547416000033871?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/114547416000033871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/suri-ikun-dan-dua-burung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/114547416000033871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/114547416000033871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/suri-ikun-dan-dua-burung.html' title='Suri Ikun dan Dua Burung'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-2198185450636518736</id><published>2009-12-28T22:07:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:08:31.248+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nusa Tenggara Barat'/><title type='text'>Batu Golog</title><content type='html'>Pada jaman dahulu di daerah Padamara dekat Sungai Sawing hiduplah sebuah keluarga miskin. Sang istri bernama Inaq Lembain dan sang suami bernama Amaq Lembain. Mata pencaharian mereka adalah buruh tani. Setiap hari mereka berjalan kedesa desa menawarkan tenaganya untuk menumbuk padi. Kalau Inaq Lembain menumbuk padi maka kedua anaknya menyertai pula. Pada suatu hari, ia sedang asyik menumbuk padi. Kedua anaknya ditaruhnya diatas sebuah batu ceper didekat tempat ia bekerja.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anehnya, ketika Inaq mulai menumbuk, batu tempat mereka duduk makin lama makin menaik. Merasa seperti diangkat, maka anaknya yang sulung mulai memanggil ibunya: "Ibu batu ini makin tinggi." Namun sayangnya Inaq Lembain sedang sibuk bekerja. Dijawabnya, "Anakku tunggulah sebentar, Ibu baru saja menumbuk." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah yang terjadi secara berulang-ulang. Batu ceper itu makin lama makin meninggi hingga melebihi pohon kelapa. Kedua anak itu kemudian berteriak sejadi-jadinya. Namun, Inaq Lembain tetap sibuk menumbuk dan menampi beras. Suara anak-anak itu makin lama makin sayup. Akhirnya suara itu sudah tidak terdengar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batu Goloq itu makin lama makin tinggi. Hingga membawa kedua anak itu mencapai awan. Mereka menangis sejadi-jadinya. Baru saat itu Inaq Lembain tersadar, bahwa kedua anaknya sudah tidak ada. Mereka dibawa naik oleh Batu Goloq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inaq Lembain menangis tersedu-sedu. Ia kemudian berdoa agar dapat mengambil anaknya. Syahdan doa itu terjawab. Ia diberi kekuatan gaib. dengan sabuknya ia akan dapat memenggal Batu Goloq itu. Ajaib, dengan menebaskan sabuknya batu itu terpenggal menjadi tiga bagian. Bagian pertama jatuh di suatu tempat yang kemudian diberi nama Desa Gembong olrh karena menyebabkan tanah di sana bergetar. Bagian ke dua jatuh di tempat yang diberi nama Dasan Batu oleh karena ada orang yang menyaksikan jatuhnya penggalan batu ini. Dan potongan terakhir jatuh di suatu tempat yang menimbulkan suara gemuruh. Sehingga tempat itu diberi nama Montong Teker.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan kedua anak itu tidak jatuh ke bumi. Mereka telah berubah menjadi dua ekor burung. Anak sulung berubah menjadi burung Kekuwo dan adiknya berubah menjadi burung Kelik. Oleh karena keduanya berasal dari manusia maka kedua burung itu tidak mampu mengerami telurnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Cerita ini diadaptasi secara bebas dari I Nengah Kayun dan kawan-kawan, "Batu Goloq," Cerita Rakyat Nusa Tenggara Barat, Jakarta: Departemen P dan K, 1981, hal. 21-25).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-2198185450636518736?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/2198185450636518736/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/batu-golog.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/2198185450636518736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/2198185450636518736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/batu-golog.html' title='Batu Golog'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-4049241625848392902</id><published>2009-12-28T22:04:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:06:02.396+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bali'/><title type='text'>Manik Angkeran - Asal Mula Selat Bali</title><content type='html'>Pada jaman dulu di kerajaan Daha hiduplah seorang Brahmana yang benama Sidi Mantra yang sangat terkenal kesaktiannya. Sanghyang Widya atau Batara Guru menghadiahinya harta benda dan seorang istri yang cantik. Sesudah bertahun-tahun kawin, mereka mendapat seorang anak yang mereka namai Manik Angkeran. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun Manik Angkeran seorang pemuda yang gagah dan pandai namun dia mempunyai sifat yang kurang baik, yaitu suka berjudi. Dia sering kalah sehingga dia terpaksa mempertaruhkan harta kekayaan orang tuanya, malahan berhutang pada orang lain. Karena tidak dapat membayar hutang, Manik Angkeran meminta bantuan ayahnya untuk berbuat sesuatu. Sidi Mantra berpuasa dan berdoa untuk memohon pertolongan dewa-dewa. Tiba-tiba dia mendengar suara, "Hai, Sidi Mantra, di kawah Gunung Agung ada harta karun yang dijaga seekor naga yang bernarna Naga Besukih. Pergilah ke sana dan mintalah supaya dia mau mernberi sedikit hartanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sidi Mantra pergi ke Gunung Agung dengan mengatasi segala rintangan. Sesampainya di tepi kawah Gunung Agung, dia duduk bersila. Sambil membunyikan genta dia membaca mantra dan memanggil nama Naga Besukih. Tidak lama kernudian sang Naga keluar. Setelah mendengar maksud kedatangan Sidi Mantra, Naga Besukih menggeliat dan dari sisiknya keluar emas dan intan. Setelah mengucapkan terima kasih, Sidi Mantra mohon diri. Semua harta benda yang didapatnya diberikan kepada Manik Angkeran dengan harapan dia tidak akan berjudi lagi. Tentu saja tidak lama  kemudian, harta itu habis untuk taruhan. Manik Angkeran sekali lagi minta bantuan ayahnya. Tentu saja Sidi Mantra menolak untuk membantu anakya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manik Angkeran mendengar dari temannya bahwa harta itu didapat dari Gunung Agung. Manik Angkeran tahu untuk sampai ke sana dia harus membaca mantra tetapi dia tidak pernah belajar mengenai doa dan mantra. Jadi, dia hanya membawa genta yang dicuri dari ayahnya waktu ayahnya tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai di kawah Gunung Agung, Manik Angkeran membunyikan gentanya. Bukan main takutnya ia waktu ia melihat Naga Besukih. Setelah Naga mendengar maksud kedatangan Manik Angkeran, dia berkata, "Akan kuberikan harta yang kau minta, tetapi kamu harus berjanji untuk mengubah kelakuanmu. Jangan berjudi lagi. Ingatlah akan hukum karma."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manik Angkeran terpesona melihat emas, intan, dan permata di hadapannya. Tiba-tiba ada niat jahat yang timbul dalam hatinya. Karena ingin mendapat harta lebih banyak, dengan secepat kilat dipotongnya ekor Naga Besukih ketika Naga beputar kembali ke sarangnya. Manik Angkeran segera melarikan diri dan tidak terkejar oleh Naga. Tetapi karena kesaktian Naga itu, Manik Angkeran terbakar menjadi abu sewaktu jejaknya dijilat sang Naga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kernatian anaknya, kesedihan hati Sidi Mantra tidak terkatakan. Segera dia mengunjungi Naga Besukih dan memohon supaya anaknya dihidupkan kembali. Naga menyanggupinya asal ekornya dapat kembali seperti sediakala. Dengan kesaktiannya, Sidi Mantra dapat memulihkan ekor Naga. Setelah Manik Angkeran dihidupkan, dia minta maaf dan berjanji akan menjadi orang baik. Sidi Mantra tahu bahwa anaknya sudah bertobat tetapi dia juga mengerti bahwa mereka tidak lagi dapat hidup bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu harus mulai hidup baru tetapi tidak di sini," katanya. Dalam sekejap mata dia lenyap. Di tempat dia berdiri timbul sebuah sumber air yang makin lama makin besar sehingga menjadi laut. Dengan tongkatnya, Sidi Mantra membuat garis yang mernisahkan dia dengan anaknya. Sekarang tempat itu  menjadi selat Bali yang memisahkan pulau Jawa dengan pulau Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-4049241625848392902?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/4049241625848392902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/manik-angkeran-asal-mula-selat-bali.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/4049241625848392902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/4049241625848392902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/manik-angkeran-asal-mula-selat-bali.html' title='Manik Angkeran - Asal Mula Selat Bali'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-3241974366448255157</id><published>2009-12-28T22:03:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:04:27.121+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Timur'/><title type='text'>Aryo Menak</title><content type='html'>Dikisahkan pada jaman Aryo Menak hidup, pulau Madura masih sangat subur. Hutannya sangat lebat. Ladang-ladang padi menguning. Aryo Menak adalah seorang pemuda yang sangat gemar mengembara ke tengah hutan. Pada suatu bulan purnama, ketika dia beristirahat dibawah pohon di dekat sebuah danau, dilihatnya cahaya sangat terang berpendar di pinggir danau itu. Perlahan-lahan ia mendekati sumber cahaya tadi. Alangkah terkejutnya, ketika dilihatnya tujuh orang bidadari sedang mandi dan bersenda gurau disana.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia sangat  terpesona oleh kecantikan mereka. Timbul keinginannya untuk memiliki seorang diantara mereka. Iapun mengendap-endap, kemudian dengan secepatnya diambil sebuah selendang dari bidadari-bidadari itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, para bidadari itu selesai mandi dan bergegas mengambil pakaiannya masing-masing. Merekapun terbang ke istananya di sorga kecuali yang termuda. Bidadari itu tidak dapat terbang tanpa selendangnya. Iapun sedih dan menangis.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aryo Menak kemudian mendekatinya. Ia berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Ditanyakannya apa yang terjadi pada bidadari itu. Lalu ia mengatakan: "Ini mungkin sudah kehendak para dewa agar bidadari berdiam di bumi untuk sementara waktu. Janganlah bersedih. Saya akan berjanji menemani dan menghiburmu." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidadari itu rupanya percaya dengan omongan Arya Menak. Iapun tidak menolak ketika Arya Menak menawarkan padanya untuk tinggal di rumah Arya Menak. Selanjutnya Arya Menak melamarnya. Bidadari itupun menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan, bahwa bidadari itu masih memiliki kekuatan gaib. Ia dapat memasak sepanci nasi hanya dari sebutir beras. Syaratnya adalah Arya Menak tidak boleh menyaksikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Arya Menak menjadi penasaran. Beras di lumbungnya tidak pernah berkurang meskipun bidadari memasaknya setiap hari. Ketika isterinya tidak ada dirumah, ia mengendap ke dapur dan membuka panci tempat isterinya memasak nasi. Tindakan ini membuat kekuatan gaib isterinya sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidadari sangat terkejut mengetahui apa yang terjadi. Mulai saat itu, ia harus memasak beras dari lumbungnya Arya Menak. Lama kelamaan beras itupun makin berkurang. Pada suatu hari, dasar lumbungnya sudah kelihatan. Alangkah terkejutnya bidadari itu ketika dilihatnya tersembul selendangnya yang hilang. Begitu melihat selendang tersebut, timbul keinginannya untuk pulang ke sorga. Pada suatu malam, ia mengenakan kembali semua pakaian sorganya. Tubuhnya menjadi ringan, iapun dapat terbang ke istananya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arya Menak menjadi sangat sedih. Karena keingintahuannya, bidadari meninggalkannya. Sejak saat itu ia dan anak keturunannya berpantang untuk memakan nasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diadaptasi secara bebas dari Ny. S.D.B. Aman,"Aryo Menak and His Wife," Folk Tales From Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1976, pp. 88-91).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-3241974366448255157?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/3241974366448255157/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/aryo-menak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/3241974366448255157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/3241974366448255157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/aryo-menak.html' title='Aryo Menak'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-5087428806805247537</id><published>2009-12-28T22:00:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:02:42.061+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DI Yogyakarta'/><title type='text'>Legenda Candi Prambanan</title><content type='html'>Di dekat kota Yogyakarta terdapat candi Hindu yang paling indah di Indonesia. Candi ini dibangun dalam abad kesembilan Masehi. Karena terletak di desa Prambanan, maka candi ini disebut candi Prambanan tetapi juga terkenal sebagai candi Lara Jonggrang, sebuah nama yang diambil dari legenda Lara Jonggrang dan Bandung Bondowoso. Beginilah ceritanya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon tersebutlah seorang raja yang bernama Prabu Baka. Beliau bertahta di Prambanan. Raja ini seorang raksasa yang menakutkan dan besar kekuasaannya. Meskipun demikian, kalau sudah takdir, akhirnya dia kalah juga dengan Raja Pengging. Prabu Baka meninggal di medan perang. Kemenangan Raja Pengging itu disebabkan karena bantuan orang kuat yang bernama Bondowoso yang juga terkenal sebagai Bandung Bondowoso karena dia mempunyai senjata sakti yang bernama Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dengan persetujuan Raja Pengging, Bandung Bondowoso menempati Istana Prambanan. Di sini dia terpesona oleh kecantikan Lara Jonggrang, putri bekas lawannya -- ya, bahkan putri raja yang dibunuhnya. Bagaimanapun juga, dia akan memperistrinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Lara Jonggrang takut menolak pinangan itu. Namun demikian, dia tidak akan menerimanya begitu saja. Dia mau kawin dengan Bandung Bondowoso asalkan syarat-syaratnya dipenuhi. Syaratnya ialah supaya dia dibuatkan seribu candi dan dua sumur yang dalam. Semuanya harus selesai dalam waktu semalam. Bandung Bondowoso menyanggupinya, meskipun agak keberatan. Dia minta bantuan ayahnya sendiri, orang sakti yang mempunyai balatentara roh-roh halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Pada hari yang ditentukan, Bandung Bondowoso beserta pengikutnya dan roh-roh halus mulai membangun candi yang besar jumlahnya itu. Sangatlah mengherankan cara dan kecepatan mereka bekerja. Sesudah jam empat pagi hanya tinggal lima buah candi yang harus disiapkan. Di samping itu sumurnya pun sudah hampir selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Seluruh penghuni Istana Prambanan menjadi kebingungan karena mereka yakin bahwa semua syarat Lara Jonggrang akan terpenuhi. Apa yang harus diperbuat? Segera gadis-gadis dibangunkan dan disuruh menumbuk padi di lesung serta menaburkan bunga yang harum baunya. Mendengar bunyi lesung dan mencium bau bunga-bungaan yang harum, roh-roh halus menghentikan pekerjaan mereka karena mereka kira hari sudah siang. Pembuatan candi kurang sebuah, tetapi apa hendak dikata, roh halus berhenti mengerjakan tugasnya dan tanpa bantuan mereka tidak mungkin Bandung Bondowoso menyelesaikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya waktu Bandung Bondowoso mengetahui bahwa usahanya gagal, bukan main marahnya. Dia mengutuk para gadis di sekitar Prambanan -- tidak akan ada orang yang mau memperistri mereka sampai mereka menjadi perawan tua. Sedangkan Lara Jonggrang sendiri dikutuk menjadi arca. Arca tersebut terdapat dalam ruang candi yang besar yang sampai sekarang dinamai candi Lara Jonggrang. Candi-candi yang ada di dekatnya disebut Candi Sewu yang artinya seribu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-5087428806805247537?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/5087428806805247537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/legenda-candi-prambanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/5087428806805247537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/5087428806805247537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/legenda-candi-prambanan.html' title='Legenda Candi Prambanan'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-9000283680825168154</id><published>2009-12-28T21:59:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:00:22.402+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Jawa Barat'/><title type='text'>Sangkuriang</title><content type='html'>Pada jaman dahulu, tersebutlah kisah seorang puteri raja di Jawa Barat bernama Dayang Sumbi.Ia mempunyai seorang  anak laki-laki yang diberi nama Sangkuriang. Anak tersebut sangat gemar berburu. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berburu dengan ditemani oleh Tumang, anjing kesayangan istana. Sangkuriang tidak tahu, bahwa anjing itu adalah titisan dewa dan juga bapaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Tumang tidak mau mengikuti perintahnya untuk mengejar hewan buruan. Maka anjing tersebut diusirnya ke dalam hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kembali ke istana, Sangkuriang menceritakan kejadian itu pada ibunya. Bukan main marahnya Dayang Sumbi begitu mendengar cerita itu. Tanpa sengaja ia memukul kepala Sangkuriang dengan sendok nasi yang dipegangnya. Sangkuriang terluka. Ia sangat kecewa dan pergi mengembara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kejadian itu, Dayang Sumbi sangat menyesali dirinya. Ia selalu berdoa dan sangat tekun bertapa. Pada suatu ketika, para dewa memberinya sebuah hadiah. Ia akan selamanya muda dan  memiliki kecantikan abadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertahun-tahun mengembara, Sangkuriang akhirnya berniat untuk kembali ke tanah airnya. Sesampainya disana, kerajaan itu sudah berubah total. Disana dijumpainya seorang gadis jelita, yang tak lain adalah Dayang Sumbi. Terpesona oleh kecantikan wanita tersebut maka, Sangkuriang melamarnya.  Oleh karena pemuda itu sangat tampan, Dayang Sumbi pun sangat terpesona padanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Sangkuriang minta pamit untuk berburu. Ia minta tolong Dayang Sumbi untuk merapikan ikat kepalanya. Alangkah terkejutnya Dayang Sumbi demi melihat bekas luka di kepala calon suaminya. Luka itu persis seperti luka anaknya yang telah pergi merantau. Setelah lama diperhatikannya, ternyata wajah pemuda itu sangat mirip dengan wajah anaknya. Ia menjadi sangat ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kemudian ia mencari daya upaya untuk menggagalkan proses peminangan itu. Ia mengajukan dua buah syarat. Pertama, ia meminta pemuda itu untuk membendung sungai Citarum. Dan kedua, ia minta Sangkuriang untuk membuat sebuah sampan besar untuk menyeberang sungai itu. Kedua syarat itu harus sudah dipenuhi sebelum fajar menyingsing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Sangkuriang melakukan tapa. Dengan kesaktiannya ia mengerahkan mahluk-mahluk gaib untuk membantu menyelesaikan pekerjaan itu. Dayang Sumbi pun diam-diam mengintip pekerjaan tersebut. Begitu pekerjaan itu hampir selesai, Dayang Sumbi memerintahkan pasukannya untuk menggelar kain sutra merah di sebelah timur kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyaksikan warna memerah di timur kota, Sangkuriang mengira hari sudah menjelang pagi. Ia pun menghentikan pekerjaannya. Ia sangat marah oleh karena itu berarti ia tidak dapat memenuhi syarat yang diminta Dayang Sumbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kekuatannya, ia menjebol bendungan yang dibuatnya. Terjadilah banjir besar melanda seluruh kota. Ia pun kemudian menendang sampan besar yang dibuatnya. Sampan itu melayang dan jatuh menjadi sebuah gunung yang bernama "Tangkuban Perahu."  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diadaptasi secara bebas dari Alice M. Terada, "The Story of Sangkuriang," The Magic Crocodile and Other Folktales from Indonesia, Honolulu: University of Hawaii Press, 1994, hal. 60-64)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-9000283680825168154?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/9000283680825168154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/sangkuriang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/9000283680825168154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/9000283680825168154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/sangkuriang.html' title='Sangkuriang'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-2225226182193304472</id><published>2009-12-28T21:58:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T21:59:18.054+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='DKI Jakarta'/><title type='text'>Si Pitung</title><content type='html'>Si Pitung adalah seorang pemuda yang soleh dari Rawa Belong. Ia rajin belajar mengaji pada Haji Naipin. Selesai belajar mengaji ia pun dilatih silat. Setelah bertahun- tahun kemampuannya menguasai ilmu agama dan bela diri makin meningkat.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu Belanda sedang menjajah Indonesia. Si Pitung merasa iba menyaksikan penderitaan yang dialami oleh rakyat kecil. Sementara itu, kumpeni (sebutan untuk Belanda), sekelompok Tauke dan para Tuan tanah hidup bergelimang kemewahan. Rumah dan ladang mereka dijaga oleh para centeng yang galak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan dibantu oleh teman-temannya si Rais dan Jii, Si Pitung mulai merencanakan perampokan terhadap rumah Tauke dan Tuan tanah kaya. Hasil rampokannya dibagi-bagikan pada rakyat miskin. Di depan rumah keluarga yang kelaparan diletakkannya sepikul beras. Keluarga yang dibelit hutang rentenir diberikannya santunan. Dan anak yatim piatu dikiriminya bingkisan baju dan hadiah lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesuksesan si Pitung dan kawan-kawannya dikarenakan dua hal. Pertama, ia memiliki ilmu silat yang tinggi serta dikhabarkan tubuhnya kebal akan peluru. Kedua, orang-orang tidak mau menceritakan dimana si Pitung kini berada. Namun demikian orang kaya korban perampokan Si Pitung bersama kumpeni selalu berusaha membujuk orang-orang untuk membuka mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpeni juga menggunakan kekerasan untuk memaksa penduduk memberi keterangan. Pada suatu hari, kumpeni dan tuan-tuan tanah kaya berhasil mendapat informasi tentang keluarga si Pitung. Maka merekapun menyandera kedua orang tuanya dan si Haji Naipin. Dengan siksaan yang berat akhirnya mereka mendapatkan informasi tentang dimana Si Pitung berada dan rahasia kekebalan tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbekal semua informasi itu, polisi kumpeni pun menyergap Si Pitung. Tentu saja Si Pitung dan kawan-kawannya melawan. Namun malangnya, informasi tentang rahasia kekebalan tubuh Si Pitung sudah terbuka. Ia dilempari telur-telur busuk dan ditembak. Ia pun tewas seketika.Meskipun demikian untuk Jakarta, Si Pitung tetap dianggap sebagai pembela rakyat kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diadaptasi secara bebas dari Rahmat Ali, "Si Pitung," Cerita Rakyat Betawi 1, Jakarta: PT. Grasindo, 1993, hal. 1-7)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-2225226182193304472?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/2225226182193304472/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/si-pitung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/2225226182193304472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/2225226182193304472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/si-pitung.html' title='Si Pitung'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-1517476034929675074</id><published>2009-12-28T21:56:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T21:57:27.615+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bengkulu'/><title type='text'>Ular n'Daung</title><content type='html'>Dahulu kala, di kaki sebuah gunung di daerah Bengkulu hiduplah seorang wanita tua dengan tiga orang anaknya. Mereka sangat miskin dan hidup hanya dari penjualan hasil kebunnya yang sangat sempit. Pada suatu hari perempuan tua itu sakit keras. &lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang pintar di desanya itu meramalkan bahwa wanita itu akan tetap sakit apabila tidak diberikan obat khusus. Obatnya adalah daun-daunan hutan yang dimasak dengan bara gaib dari puncak gunung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah sedihnya keluarga tersebut demi mengetahui kenyataan itu. Persoalannya adalah bara dari puncak gunung itu konon dijaga oleh seekor ular gaib. Menurut cerita penduduk desa itu, ular tersebut akan memangsa siapa saja yang mencoba mendekati puncak gunung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diantara ketiga anak perempuan ibu tua itu, hanya si bungsu yang menyanggupi persyaratan tersebut. Dengan perasaan takut ia mendaki gunung kediaman si Ular n'Daung. Benar seperti cerita orang, tempat kediaman ular ini sangatlah menyeramkan. Pohon-pohon sekitar gua itu besar dan berlumut. Daun-daunnya menutupi sinar matahari sehingga tempat tersebut menjadi temaram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum habis rasa khawatir si Bungsu, tiba-tiba ia mendengar suara gemuruh dan raungan yang keras. Tanah bergetar. Inilah pertanda si Ular n'Daung mendekati gua kediamannya. Mata ular tersebut menyorot tajam dan lidahnya menjulur-julur.  Dengan sangat ketakutan si Bungsu mendekatinya dan berkata, "Ular yang keramat, berilah saya sebutir bara gaib guna memasak obat untuk ibuku yang sakit. Tanpa diduga, ular itu menjawab dengan ramahnya, "bara itu akan kuberikan kalau engkau bersedia menjadi isteriku!" Si Bungsu menduga bahwa perkataan ular ini hanyalah untuk mengujinya. Maka iapun menyanggupinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya setelah ia membawa bara api pulang, ia pun menepati janjinya pada Ular n'Daung. Ia kembali ke gua puncak gunung untuk diperisteri si ular. Alangkah terkejutnya si bungsu menyaksikan kejadian ajaib. Yaitu, pada malam harinya, ternyata ular itu berubah menjadi seorang ksatria tampan bernama Pangeran Abdul Rahman Alamsjah. Pada pagi harinya ia akan kembali menjadi ular. Hal itu disebabkan oleh karena ia disihir oleh pamannya menjadi ular. Pamannya tersebut menghendaki kedudukannya sebagai calon raja.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kepergian si bungsu, ibunya menjadi sehat dan hidup dengan kedua kakaknya yang sirik. Mereka ingin mengetahui apa yang terjadi dengan si Bungsu. Maka merekapun berangkat ke puncak gunung. Mereka tiba di sana diwaktu malam hari. Alangkah kagetnya mereka ketika mereka mengintip bukan ular yang dilihatnya tetapi lelaki tampan. Timbul perasaan iri  dalam diri mereka. Mereka ingin memfitnah adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka mengendap ke dalam gua dan mencuri kulit ular itu. Mereka membakar kulit ular tersebut. Mereka mengira dengan demikian ksatria itu akan marah dan mengusir adiknya itu. Tetapi yang terjadi justru kebalikannya. Dengan dibakarnya kulit ular tersebut, secara tidak sengaja mereka membebaskan pangeran itu dari kutukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menemukan kulit ular itu terbakar, pangeran menjadi sangat gembira. Ia berlari dan memeluk si Bungsu. Di ceritakannya bahwa sihir pamannya itu akan sirna kalau ada orang yang secara suka rela membakar kulit ular itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, si Ular n'Daung yang sudah selamanya menjadi Pangeran Alamsjah memboyong si Bungsu ke istananya. Pamannya yang jahat diusir dari istana. Si Bungsu pun kemudian mengajak keluarganya tinggal di istana. Tetapi dua kakaknya yang sirik menolak karena merasa malu akan perbuatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diambil dan disarikan dari Abdul Hakim, Selusin  Cerita Rakyat, Jakarta:C.V. Danau Singkarak, 1980, hal. 8-19)&lt;/em&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-1517476034929675074?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/1517476034929675074/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/ular-ndaung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/1517476034929675074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/1517476034929675074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/ular-ndaung.html' title='Ular n&apos;Daung'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-8621406228509314885</id><published>2009-12-28T21:54:00.001+07:00</published><updated>2009-12-28T21:55:45.404+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lampung'/><title type='text'>Buaya Perompak</title><content type='html'>Pada jaman dahulu, Sungai Tulang Bawang sangat terkenal akan keganasan buayanya. Sehingga orang yang berlayar disana maupun para penduduk yang tinggal disana perlu untuk sangat berhati-hati. Menurut cerita, sudah banyak manusia yang hilang begitu saja disana. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, kejadian yang menyedihkan itu terulang kembali. Orang yang hilang itu adalah seorang gadis rupawan yang bernama Aminah. Anehnya, meskipun penduduk seluryh kampung tepi Sungai Tulang Bawang mencarinya. Tidak ada jejak yang tertinggal. Sepertinya ia sirna ditelan bumi.&lt;br /&gt;Nun jauh dari kejadian itu, di dalam sebuah gua besar tergoleklah Aminah. Ia baru saja tersadar dari pingsannya. Betapa terkejutnya ia ketika menyadari bahwa gua itu dipenuhi oleh harta benda yang ternilai harganya. Ada permata, emas, intan, maupun pakaian yang indah-indah. Harta benda itu mengeluarkan sinar yang berkilauan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum habis rasa takjubnya, dari sudut gua terdengarlah sebuah suara yang besar, "janganlah takut gadis rupawan! Meskipun aku berwujud buaya, sebenarnya aku adalah manusia sepertimu juga. Aku dikutuk menjadi buaya karena perbuatanku dulu yang sangat jahat. Namaku dulu adalah Somad, perampok ulung di Sungai Tulang Bawang. Dulu aku selalu merampok setiap saudagar yang berlayar disini. Semua hasil rampokanku kusimpan dalam gua ini. Kalau aku butuh makanan maka harta itu kujual sedikit di pasar desa tepi sungai. Tidak ada seorangpun yang tahu bahwa aku telah membangun terowongan di balik gua ini. Terowongan itu menghubungkan gua ini dengan desa tersebut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disengaja, si buaya perompak tersebut sudah membuka rahasia gua tempat kediamannya. Secara seksama Aminah menyimak dan mengingat keterangan berharga itu. Buaya itu selalu memberinya hadiah perhiasan. Harapannya adalah agar Aminah mau tetap tinggal bersamanya. Namun keinginan Aminah untuk segera kembali ke kampung halamannya makin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, buaya perompak tersebut sedikit lengah. Ia tertidur dan meninggalkan pintu guanya terbuka. Si Aminah pun keluar sambil berjingkat-jingkat. Di balik gua itu ditemukannya sebuah terowongan yang sempit. Setelah cukup lama menelusuri terowongan itu, tiba-tiba ia melihat sinar matahari. Betapa gembiranya ia ketika keluar dari mulut terowongan itu. Disana Aminah ditolong oleh penduduk desa yang mencari rotan. Lalu Aminah memberi mereka hadiah sebagian perhiasan yang dibawanya. Aminah akhirnya bisa kembali ke desanya dengan selamat. Ia pun selanjutnya hidup tenteram disana.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diadaptasi secara bebas dari Abdul Hakim,"Buaya Perompak," Selusin  Cerita Rakyat, Jakarta:C.V. Danau Singkarak, 1980, hal. 20-27 ) &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-8621406228509314885?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/8621406228509314885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/buaya-perompak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/8621406228509314885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/8621406228509314885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/buaya-perompak.html' title='Buaya Perompak'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-5300042629704352271</id><published>2009-12-28T21:53:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T22:13:53.120+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Selatan'/><title type='text'>Si Pahit Lidah</title><content type='html'>Tersebutlah kisah seorang pangeran dari daerah Sumidang bernama Serunting. Anak keturunan raksasa bernama Putri Tenggang ini, dikhabarkan berseteru dengan iparnya yang bernama Aria Tebing. Sebab permusuhan ini adalah rasa iri-hati Serunting terhadap Aria Tebing.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan, mereka memiliki ladang padi bersebelahan yang dipisahkan oleh pepohonan. Dibawah pepohonan itu tumbuhlah cendawan. Cendawan yang menghadap kearah ladang Aria tebing tumbuh menjadi logam emas. Sedangkan jamur yang menghadap ladang Serunting tumbuh menjadi tanaman yang tidak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perseteruan itu, pada suatu hari telah berubah menjadi perkelahian. Menyadari bahwa Serunting lebih sakti, Arya Tebing menghentikan perkelahian tersebut. Ia berusaha mencari jalan lain untuk mengalahkan lawannya. Ia membujuk kakaknya (isteri dari Serunting) untuk memberitahukannya rahasia kesaktian Serunting.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Menurut kakaknya Aria Tebing, kesaktian dari Serunting berada pada tumbuhan ilalang yang bergetar (meskipun tidak ditiup angin). Bermodalkan informasi itu, Aria Tebing kembali menantang Serunting untuk berkelahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sengaja ia menancapkan tombaknya pada ilalang yang bergetar itu. Serunting terjatuh, dan terluka parah. Merasa dikhianati isterinya, ia pergi mengembara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Serunting pergi bertapa ke Gunung Siguntang. Oleh Hyang Mahameru, ia dijanjikan kekuatan gaib. Syaratnya adalah ia harus bertapa di bawah pohon bambu hingga seluruh tubuhnya ditutupi oleh daun bambu. Setelah hampir dua tahun bersemedi, daun-daun itu sudah menutupi seluruh tubuhnya. Seperti yang dijanjikan, ia akhirnya menerima kekuatan gaib. Kesaktian itu adalah bahwa kalimat atau perkataan apapun yang keluar dari mulutnya akan berubah menjadi kutukan. Karena itu ia diberi julukan si Pahit Lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berniat untuk kembali ke asalnya, daerah Sumidang. Dalam perjalanan pulang tersebut ia menguji kesaktiannya. Ditepian Danau Ranau, dijumpainya terhampar pohon-pohon tebu yang sudah menguning. Si Pahit Lidah pun berkata, "jadilah batu." Maka benarlah, tanaman itu berubah menjadi batu. Seterusnya, ia pun mengutuk setiap orang yang dijumpainya di tepian Sungai Jambi untuk menjadi batu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ia pun punya maksud baik. Dikhabarkan, ia mengubah Bukit Serut yang gundul menjadi hutan kayu. Di Karang Agung, dikisahkan ia memenuhi keinginan pasangan tua yang sudah ompong untuk mempunyai anak bayi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diadaptasi secara bebas dari Ny. S.D.B. Aman,"Si Pahit Lidah," Folk Tales From Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1976, pp. 25-28).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-5300042629704352271?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/5300042629704352271/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/si-pahit-lidah-seri-1.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/5300042629704352271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/5300042629704352271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/si-pahit-lidah-seri-1.html' title='Si Pahit Lidah'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-6309307959241506080</id><published>2009-12-28T21:51:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T21:52:53.165+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Riau'/><title type='text'>Si Lancang</title><content type='html'>Alkisah tersebutlah sebuah cerita, di daerah Kampar pada zaman dahulu hiduplah si Lancang dengan ibunya. Mereka hidup dengan sangat miskin. Mereka berdua &lt;br /&gt;bekerja sebagai buruh tani. Untuk memperbaiki hidupnya, maka Si Lancang berniat merantau. Pada suatu hari ia meminta ijin pada ibu dan guru ngajinya. Ibunya pun berpesan agar di rantau orang kelak Si Lancang selalu ingat pada ibu dan kampung halamannya. Ibunya berpesan agar Si Lancang jangan menjadi anak yang durhaka.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Lancang pun berjanji pada ibunya tersebut. Ibunya menjadi terharu saat Si Lancang menyembah lututnya untuk minta berkah. Ibunya membekalinya sebungkus lumping dodak, kue kegemaran Si Lancang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah bertahun-tahun merantau, ternyata Si Lancang sangat beruntung. Ia menjadi saudagar yang kaya raya. Ia memiliki berpuluh-puluh buah kapal dagang. Dikhabarkan ia pun mempunyai tujuh orang istri. Mereka semua berasal dari keluarga saudagar yang kaya. Sedangkan ibunya, masih tinggal di Kampar dalam keadaan yang sangat miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, Si Lancang berlayar ke Andalas. Dalam pelayaran itu ia membawa ke tujuh isterinya. Bersama mereka dibawa pula perbekalan mewah dan alat-alat hiburan berupa musik. Ketika merapat di Kampar, alat-alat musik itu dibunyikan riuh rendah. Sementara itu kain sutra dan aneka hiasan emas dan perak digelar. Semuanya itu disiapkan untuk menambah kesan kemewahan dan kekayaan Si Lancang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita kedatangan Si Lancang didengar oleh ibunya. Dengan perasaan terharu, ia bergegas untuk menyambut kedatangan anak satu-satunya tersebut. Karena miskinnya, ia hanya mengenakan kain selendang tua, sarung usang dan kebaya penuh tambalan. Dengan memberanikan diri dia naik ke geladak kapal mewahnya Si Lancang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu menyatakan bahwa dirinya adalah ibunya Si Lancang, tidak ada seorang kelasi pun yang mempercayainya. Dengan kasarnya ia mengusir ibu tua tersebut. Tetapi perempuan itu tidak mau beranjak. Ia ngotot minta untuk dipertemukan dengan anaknya Si Lancang. Situasi itu menimbulkan keributan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kegaduhan di atas geladak, Si Lancang dengan diiringi oleh ketujuh istrinya mendatangi tempat itu. Betapa terkejutnya ia ketika menyaksikan bahwa perempuan compang camping yang diusir itu adalah ibunya. Ibu si Lancang pun berkata, "Engkau Lancang ... anakku! Oh ... betapa rindunya hati emak padamu. Mendengar sapaan itu, dengan congkaknya Lancang menepis. Anak durhaka inipun berteriak, "mana mungkin aku mempunyai ibu perempuan miskin seperti kamu. Kelasi! usir perempuan gila ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu yang malang ini akhirnya pulang dengan perasaan hancur. Sesampainya di rumah, lalu ia mengambil pusaka miliknya. Pusaka itu berupa lesung penumbuk padi dan sebuah nyiru. Sambil berdoa, lesung itu diputar-putarnya dan dikibas-kibaskannya nyiru pusakanya.  Ia pun berkata, "ya Tuhanku ... hukumlah si Anak durhaka itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekejap, turunlah badai topan. Badai tersebut berhembus sangat dahsyatnya sehingga dalam sekejap menghancurkan kapal-kapal dagang milik Si Lancang. Bukan hanya kapal itu hancur berkeping-keping, harta benda miliknya juga terbang ke mana-mana. Kain sutranya melayang-layang dan jatuh menjadi negeri Lipat Kain yang terletak di Kampar Kiri. Gongnya terlempar ke Kampar Kanan dan menjadi Sungai Oguong. Tembikarnya melayang menjadi Pasubilah. Sedangkan tiang bendera kapal Si Lancang terlempar hingga sampai di sebuah danau yang diberi nama Danau Si Lancang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Disadur dari B. M. Syamsuddin, "Banjir Air Mata Si Lancang," Cerita Rakyat Dari Riau 2, Jakarta: PT Grasindo, hal. 44-49). &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-6309307959241506080?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/6309307959241506080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/si-lancang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/6309307959241506080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/6309307959241506080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/si-lancang.html' title='Si Lancang'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-7718860946101043441</id><published>2009-12-28T21:38:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T21:39:30.115+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Barat'/><title type='text'>Pak Lebai Malang</title><content type='html'>Tersebutlah kisah seorang guru agama yang hidup di tepi sungai disebuah desa di Sumatera Barat. Pada suatu hari, ia mendapat undangan pesta dari dua orang kaya dari desa-desa tetangga. Sayangnya pesta tersebut diadakan pada hari dan waktu yang bersamaan.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Lebai menimang- nimang untung dan rugi dari setiap undangan. Tetapi ia tidak pernah dapat mengambil keputusan dengan cepat. Ia berpikir, kalau ia ke pesta di desa hulu sungai, tuan rumah akan memberinya hadiah dua ekor kepala kerbau. Namun, ia belum begitu kenal dengan tuan rumah tersebut. Menurut berita, masakan orang-orang hulu sungai tidak seenak orang hilir sungai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ia pergi ke pesta di hilir sungai, ia akan mendapat hadiah seekor kepala kerbau yang dimasak dengan enak. Ia juga kenal betul dengan tuan rumah tersebut. Tetapi, tuan rumah di hulu sungai akan memberi tamunya tambahan kue-kue.   Hingga ia mulai mengayuh perahunya ketempat pestapun ia belum dapat memutuskan pesta mana yang akan dipilih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, dikayuh sampannya menuju hulu sungai. Baru tiba ti ditengah perjalanan ia mengubah pikirannya. Ia berbalik mendayung perahunya ke arah hilir. Begitu hampir sampai di desa hilir sungai. Dilihatnya beberapa tamu menuju hulu sungai. Tamu tersebut mengatakan bahwa kerbau yang disembelih disana sangat kurus. Iapun mengubah haluan perahunya menuju hulu sungai. Sesampainya ditepi desa hulu sungai, para tamu sudah beranjak pulang. Pesta disana sudah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak lebai cepat-cepat mengayuh perahunya menuju desa hilir sungai. Sayangnya, disanapun pesta sudah berakhir. Pak Lebai tidak mendapat kepala kerbau yang diinginkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu ia sangat lapar, ia memutuskan untuk memancing ikan dan berburu. Untuk itu ia membawa bekal nasi. Untuk berburu ia mengajak anjingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memancing agak lama, kailnya dimakan ikan. Namun kail itu menyangkut di dasar sungai. Pak Lebaipun terjun untuk mengambil ikan tersebut. Sayangnya ikan itu dapat meloloskan diri. Dan anjingnya memakan nasi bekal pak Lebai. Oleh karena kemalangan nasibnya, pak Lebai diberi julukan Lebai Malang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;(Diadaptasi bebas dari Ny. S.D.B. Aman,"Lebai Malang," Folk Tales From Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1976, hal.15-19).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-7718860946101043441?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/7718860946101043441/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/pak-lebai-malang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/7718860946101043441'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/7718860946101043441'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/pak-lebai-malang.html' title='Pak Lebai Malang'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-6235486259742328361</id><published>2009-12-28T21:32:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T21:37:13.785+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sumatera Utara'/><title type='text'>Terjadinya Danau Toba</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjCZcRpfDI/AAAAAAAAABk/dZb8UihYW4c/s1600-h/danau+toba.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; FLOAT: left; HEIGHT: 240px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420295893883124786" border="0" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjCZcRpfDI/AAAAAAAAABk/dZb8UihYW4c/s320/danau+toba.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada jaman dahulu, hiduplah seorang pemuda tani yatim piatu di bagian utara pulau Sumatra. Daerah tersebut sangatlah kering. Syahdan, pemuda itu hidup dari bertani dan memancing ikan. Pada suatu hari ia memancing seekor ikan yang sangat indah. Warnanya kuning keemasan. Begitu dipegangnya, ikan tersebut berubah menjadi seorang putri jelita. Putri itu adalah wanita yang dikutuk karena melanggar suatu larangan. Ia akan berubah menjadi sejenis mahluk yang pertama menyentuhnya. Oleh karena yang menyentuhnya manusia, maka ia berubah menjadi seorang putri.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpesona oleh kecantikannya, maka pemuda tani tersebut meminta sang putri untuk menjadi isterinya. Lamaran tersebut diterima dengan syarat bahwa pemuda itu tidak akan menceritakan asal-usulnya yang berasal dari ikan.Pemuda tani itu menyanggupi syarat tersebut. Setelah setahun, pasangan suami istri tersebut dikarunia seorang anak laki-laki. Ia mempunyai kebiasaan buruk yaitu tidak pernah kenyang. Ia makan semua makanan yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari anak itu memakan semua makanan dari orang tuanya. Pemuda itu sangat jengkelnya berkata: "dasar anak keturunan ikan!"Pernyataan itu dengan sendirinya membuka rahasia dari isterinya.Dengan demikian janji mereka telah dilanggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri dan anaknya menghilang secara gaib. Ditanah bekas pijakan mereka menyemburlah mata air. Air yang mengalir dari mata air tersebut makin lama makin besar. Dan menjadi sebuah danau yang sangat luas. Danau itu kini bernama Danau Toba&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Diadaptasi bebas dari Ny. S.D.B. Aman,"How Lake Toba Came into Existence," Folk Tales From Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1976, hal. 43-48).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-6235486259742328361?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/6235486259742328361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/terjadinya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/6235486259742328361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/6235486259742328361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/terjadinya.html' title='Terjadinya Danau Toba'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/SzjCZcRpfDI/AAAAAAAAABk/dZb8UihYW4c/s72-c/danau+toba.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-3342005301329561250</id><published>2009-12-28T20:59:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T21:05:01.939+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nanggroe Aceh Darussalam'/><title type='text'>Banta Seudang</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/Szi64nAZHZI/AAAAAAAAABc/nF_2qwOmpDg/s1600-h/Banta+Seudang.jpg"&gt;&lt;img style="MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; FLOAT: left; HEIGHT: 238px; CURSOR: hand" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420287633246461330" border="0" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/Szi64nAZHZI/AAAAAAAAABc/nF_2qwOmpDg/s320/Banta+Seudang.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada zaman dahulu, tersebutlah se&amp;shy;orang raja yang memimpin wi&amp;shy;&amp;shy;la&amp;shy;yah Aceh. Sang Raja memimpin negeri dengan adil dan bijaksana. Ia di&amp;shy;dampingi oleh permaisuri yang cantik je&amp;shy;lita dan berhati mulia. Sang Raja dan Per&amp;shy;maisuri hidup berbahagia. Apalagi Per&amp;shy;maisuri sedang mengandung anak per&amp;shy;&amp;shy;tama mereka. Setelah sembilan bul&amp;shy;an, sang Permaisuri melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan. Betapa ba&amp;shy;&amp;shy;hagia&amp;shy;&amp;shy;nya sang Raja. Calon penggantinya kelak telah lahir. Bayi tersebut kemudian dinamakan Banta Seudang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Belum genap satu bulan usia Banta, tiba-tiba sang Raja sakit. Badannya panas dan matanya menjadi buta. Cobaan itu amat me&amp;shy;nye&amp;shy;dih&amp;shy;kan sang Raja dan Permai&amp;shy;suri. Be&amp;shy;be&amp;shy;rapa tabib telah dipanggil untuk mengobati sang Raja. Namun, semua usa&amp;shy;&amp;shy;ha tabib tak membuahkan hasil. Sang Raja amat resah. Bila ia masih buta, tentu tidak leluasa me&amp;shy;mimpin rakyatnya, pada&amp;shy;hal pu&amp;shy;tra&amp;shy;nya masih bayi. Ia khawatir rakyat&amp;shy;nya akan telantar. Maka sang Raja me&amp;shy;nye&amp;shy;rah&amp;shy;kan tampuk ke&amp;shy;kua&amp;shy;saannya kepada adik&amp;shy;nya sampai Ban&amp;shy;ta dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya adik Raja sangat jahat. Tak lama setelah kekuasaan diserahkan kepa&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;da adik Raja, ia menyuruh Raja dan keluarga&amp;shy;nya tinggal di sebuah rumah se&amp;shy;der&amp;shy;&amp;shy;hana yang letak&amp;shy;nya jauh dari istana. Ia se&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;nga&amp;shy;ja mengasingkan ke&amp;shy;luarga Raja agar ia dapat selamanya berkuasa. Setiap hari, adik Raja mengirimkan satu tabung bambu beras bersama ikan dan sayuran sebagai jatah makan untuk ke&amp;shy;luarga itu. Kehidupan Raja dan ke&amp;shy;luarganya yang dulu ber&amp;shy;&amp;shy;kecukup&amp;shy;an berubah menjadi ke&amp;shy;kurangan. Mereka harus bergantung kepada pemberian adik Raja. Kadang-kadang, adik Raja tak me&amp;shy;ngirimkan jatah sama sekali sehingga ke&amp;shy;luarga Raja kelaparan. Namun demikian, sang Raja dan Permaisuri tetap bersabar. Mereka yakin, siapa yang berbuat jahat, sua&amp;shy;tu saat akan menerima hukumannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu terus berlalu. Banta pun tum&amp;shy;&amp;shy;buh dalam keadaan serba kekurangan. Ia tum&amp;shy;buh menjadi pemuda tampan yang pembe&amp;shy;ra&amp;shy;ni, jujur, dan tahu sopan santun. Ia pun tahu pen&amp;shy;&amp;shy;deritaan yang dialami ke&amp;shy;luarga&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;nya aki&amp;shy;bat kejahatan pakciknya sendiri. Lama-kelamaan, Banta tidak tega menyaksikan pen&amp;shy;deritaan keluarganya. Apalagi saat me&amp;shy;lihat ayahnya yang buta. Ia bertekad akan men&amp;shy;carikan obat untuk ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah, Ibu, Banta ingin sekali merantau guna mencari obat bagi ayah,” kata Banta. Raja dan Permaisuri melepaskan ke&amp;shy;per&amp;shy;gian Banta dengan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, Banta sampai di se&amp;shy;&amp;shy;buah hutan. Suatu saat, ia salat dan men&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;jadi makmum seorang aulia. Selesai salat, Banta bercerita kepada aulia itu bahwa ia ingin mencari obat bagi ayahnya yang buta. Aulia itu menyarankan untuk mengambil bunga bangkawali yang terdapat di sebuah kolam sebagai obat bagi ayah Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berjalanlah Banta menuju hutan yang dimaksud oleh aulia itu. Rupanya di tengah hutan itu terdapat sebuah taman yang indah dengan sebuah kolam berair jernih dan sebuah gubuk sederhana. Di dalam gubuk itu tinggal Mak Toyo, pen&amp;shy;jaga taman itu. Sebenarnya, taman itu milik seorang raja yang tinggal amat jauh dari hutan itu. Sang Raja memiliki tu&amp;shy;&amp;shy;juh putri yang semuanya berparas cantik. Konon, setiap putri itu memiliki baju ajaib. Bila baju itu dikenakan maka orang yang me&amp;shy;&amp;shy;ma&amp;shy;kainya dapat terbang seperti burung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banta kemudian tinggal bersama Mak Toyo. Setiap hari ia merawat ta&amp;shy;man itu. Suatu Jumat, tujuh putri Raja mandi di kolam. Banta amat terpesona de&amp;shy;ngan ke&amp;shy;&amp;shy;cantikan mereka. Saat mereka ber&amp;shy;isti&amp;shy;ra&amp;shy;hat, Mak Toyo turun ke kolam, kemu&amp;shy;dian me&amp;shy;nepuk air tiga kali. Tiba-tiba muncul bu&amp;shy;nga bangkawali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mak, bolehkah bunga bangkawali itu kuminta untuk obat ayahku?” pinta Banta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak Toyo memberikannya. Betapa se&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;nang hati Banta. Ia ingin segera pulang. Na&amp;shy;mun sebelumnya, ia ingin menikahi salah satu putri Raja. Maka Banta menunda ke&amp;shy;pulangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Jumat berikutnya, ketujuh putri Raja itu kembali mandi di kolam. Saat me&amp;shy;reka mandi itulah, diam-diam Banta men&amp;shy;curi salah satu baju terbang mereka yang tergeletak di atas batu. Saat ketujuh putri itu ingin pulang, mereka ke&amp;shy;bingungan ka&amp;shy;&amp;shy;rena baju terbang si Bungsu hilang sehing&amp;shy;ga tak bisa pulang. Terpaksa si Bung&amp;shy;su ting&amp;shy;gal bersama Mak Toyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama tinggal di ru&amp;shy;mah Mak Toyo, si Bungsu jatuh cinta pada Banta yang baik hati itu. Demikian pula Banta. Keduanya kemudian menikah. Be&amp;shy;be&amp;shy;rapa hari setelah pernikahan, Banta meng&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;ajak si Bungsu dan Mak Toyo me&amp;shy;ne&amp;shy;mui orangtuanya. Tak lupa, bunga bang&amp;shy;kawali ia bawa serta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan Banta disambut gem&amp;shy;bi&amp;shy;r&amp;shy;a oleh Raja dan Permaisuri. Banta segera meng&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;ambil semangkuk air. Bunga bangka&amp;shy;wa&amp;shy;li ia rendam di dalamnya, kemudian air&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;&amp;shy;nya dikompreskan ke wajah sang Ayah. Tak lama kemudian, ayahnya dapat melihat kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, ayah Banta datang ke istana menemui adiknya. Melihat ke&amp;shy;&amp;shy;datangan kakaknya yang tidak buta lagi, sang Adik amat gugup. Ia juga merasa ber&amp;shy;salah karena telah menelantarkan kakak beserta keluarganya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maafkan saya, Bang. Selama ini sa&amp;shy;ya telah menelantarkan keluarga Abang. Sekarang saya serahkan kembali tahta Abang,” kata sang Adik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah Banta pun kembali menjadi raja. Banta hidup berbahagia bersama ayah ibu beserta istrinya dan Mak Toyo. Bebera&amp;shy;pa waktu kemudian Banta dilantik menjadi raja menggantikan ayahnya. Ia memimpin negeri dengan adil dan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pakcik: paman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aulia: orang suci, wali.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Daryatun&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-3342005301329561250?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/3342005301329561250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/banta-seudang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/3342005301329561250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/3342005301329561250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/banta-seudang.html' title='Banta Seudang'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_zfqtENdbFS4/Szi64nAZHZI/AAAAAAAAABc/nF_2qwOmpDg/s72-c/Banta+Seudang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2258287082174908301.post-4964948169442858833</id><published>2009-12-28T20:43:00.000+07:00</published><updated>2009-12-28T20:57:14.039+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Nanggroe Aceh Darussalam'/><title type='text'>Raja Parakeet</title><content type='html'>Tersebutlah kisah, seekor raja burung parakeet hidup beserta rakyatnya di sebuah hutan di Aceh. Hidup mereka damai. Kedamaian tersebut terganggu, karena kehadiran seorang pemburu.  Pada suatu hari pemburu tersebut berhasil menaruh perekat di sekitar sangkar-sangkar burung tersebut.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berusaha melepaskan sayap dan badan  dari perekat tersebut. Namun upaya tersebut gagal. Hampir semuanya panik,kecuali si raja parakeet. Ia berkata, "Saudaraku, tenanglah. Ini adalah perekat yang dibuat oleh pemburu. Kalau pemburu itu datang, berpura-puralah mati. Setelah melepaskan perekat, pemburu itu akan memeriksa kita. Kalau ia mendapatkan kita mati, ia akan membuang kita. Tunggulah sampai hitungan ke seratus, sebelum kita bersama-sama terbang kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, datanglah pemburu tersebut. Setelah melepaskan perekatnya, ia mengambil hasil tangkapannya. Betapa ia kecewa setelah mengetahui burung-burung tersebut sudah tidak bergerak, disangkanya sudah mati. Namun pemburu tersebut jatuh terpeleset, sehingga membuat burung-burung yang ada ditanah terkejut dan terbang. Hanya raja parakeet yang belum terlepas dari perekat. Iapun ditangkap. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Parakeet meminta pada pemburu itu untuk tidak dibunuh. Sebagai imbalannya ia akan selalu menghibur si  pemburu. Hampir tiap hari ia bernyanyi dengan merdunya. Khabar kemerduan suara burung itu terdengar sampai ke telinga sang Raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja menginginkan burung parakeet tersebut. Sang Raja kemudian menukar burung itu dengan harta-benda yang sangat banyak. Di istana sang Raja, burung parakeet ditaruh didalam sebuah sangkar emas. Setiap hari tersedia makanan yang enak-enak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun burung parakeet tidak bahagia. Ia selalu ingat hutan Aceh tempat tinggalnya. Pada suatu hari ia berpura-pura mati. Sang Raja sangat sedih dan memerintahkan penguburannya dengan upacara kebesaran. Ketika persiapan berlangsung, burung itu diletakkan diluar sangkar. Saat itu ia gunakan untuk terbang mencari kebebasanya. Ia terbang menuju hutan kediamannya. Dimana rakyat burung parakeet setia menunggu kedatangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Diadaptasi secara bebas dari Ny. S.D.B. Aman,"How the Parakeet King Regained his Freedom," Folk Tales From Indonesia, Jakarta: Djambatan, 1976, hal. 5-9&lt;/em&gt;).&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2258287082174908301-4964948169442858833?l=ceritaasliindonesia.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/feeds/4964948169442858833/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/raja-parakeet.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/4964948169442858833'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2258287082174908301/posts/default/4964948169442858833'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritaasliindonesia.blogspot.com/2009/12/raja-parakeet.html' title='Raja Parakeet'/><author><name>nayka</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13688838863450423803</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
